Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Maafkan saya


__ADS_3

"Mas Raka," gumam Rara.


Rara melihat foto-foto Raka bersama Sheryl beserta tanggal dan tahunnya yang mana semua foto itu terjadi saat dia masih berstatus sebagai istri Raka.


"Jadi kamu berselingkuh mas, apa Sheryl ini adalah wanita yang sama dengan wanita yang aku lihat di kantor kamu?" gumam Rara.


Dia merasakan sesak dadanya, merasa dibohongi Raka dari awal mereka menikah.


Rara kini memegang flashdisk yang Revan berikan, entah kejutan apa lagi yang akan dia terima, Rara berjalan kembali ke ruangannya, saat masuk betapa kagetnya dia melihat ruangan Ray yang seperti kapal pecah.


Rasa penasaran Rara membuatnya mengabaikan ruangan yang berantakan, dia kini fokus dengan isi dari flashdisk yang Revan berikan.


Saat Rara memutar video, jelas terlihat Raka bersama Sherly masuk hotel, Video itu diambil dari CCTV hotel tersebut.


"Kamu berhubungan dengan aku dan juga Sheryl bersamaan mas," batin Rara dengan dada yang sesak. Air matanya jatuh perlahan.


Di video selanjutnya kini dia mendapati dirinya dan Raka yang masuk dalam sebuah hotel. "Ini saat malam anniversary kami," gumam Rara.


Setelah masuk kamar beberapa saat kemudian Raka keluar lalu berbicara dengan seorang pelayan, nampak Raka memberikan sesuatu pada pelayan tersebut. Tak hanya dengan seorang pelayan dia juga berbicara dengan resepsionis.


"Ada apa lagi ini?" gumam Rara


Di video selanjutnya nampak pelayan memasukkan sesuatu yang pada minuman, yang kemudian dibawanya ke kamar Rara.


"Apa yang kamu campur ke dalam minuman aku." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian datanglah Revan, dia berbicara pada resepsionis.


"Pak Revan!" teriak Rara


Dia kini semakin bingung, apa hubungannya Revan dengan kejadian malam itu?


Sesaat kemudian datanglah seorang pria paruh baya datang menghadap resepsionis juga, kini resepsionis sama-sama memberikan kartu akses pada Revan dan juga lelaki paruh baya tersebut.


Seusai mendapatkan kartu akses Revan keluar lalu Ray yang masuk.


"Pak Ray!" teriak Rara


"Ada apa ini sebenarnya?" tanyanya bingung.


Video selanjutnya Ray berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Rara membolakan matanya, "Jangan-jangan pak Ray yang meniduri aku pada malam itu," gumamnya.


Revan yang berada di ruangan Ray melihat Rara dengan marah.


Karena ulahnya kini Ray pergi entah kemana, ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


"Sudah kamu lihat semua? pasti kaget dan bingung kan?" tanya Revan


"Dengarkan audio selanjutnya," imbuh Revan


Rara yang penasaran mendengarkan audio yang berisi obrolan Revan dengan resepsionis dan juga pelayan waktu itu.


Setelah selesai, dia kini menyadari semua kalau Raka lah yang melakukan ini semua. Dia sungguh tak habis pikir kalau semua yang terjadi padanya adalah jebakan Raka.

__ADS_1


Rara menangis sejadi-jadinya, hatinya hancur untuk kesekian kalinya, memang benar apa yang diucapkannya dahulu kalau dia adalah manusia yang mengalami kesialan yang hakiki.


"Tau sekarang siapa suami kamu itu?" tanya Revan dengan nada yang meninggi.


Rara hanya diam, isak tangis lah yang keluar dari mulutnya.


"Kamu tau, untuk apa semua bukti itu, hah!" kata Revan


"Untuk mengambil kembali semua warisan kamu, untuk memintakan keadilan buat kamu, dan kamu tau siapa yang melakukannya?" tanya Revan


"Raymond Toretto, manusia yang kamu bilang seperti binatang dialah yang melakukan semua ini," teriak Revan.


"Cukup pak cukup, tapi kenapa kalian tidak bilang dari awal, kenapa kalian menyembunyikan semua dari aku," teriak Rara yang juga tak mau kalah.


"Karena dia tidak ingin kamu bersedih, dia amat sangat mencintai kamu, apa kamu tidak bisa merasakannya Rara. Kamu buta Ra!" maki Revan


"Tapi dia juga salah, kenapa meniduri aku pada malam itu?" tanya Rara


"Karena dia berada dalam pengaruh obat," jawab Revan.


"Masih banyak lagi pengorbanan pak Ray yang tidak kamu tau Ra, tapi sudahlah kini kamu juga telah menyakitinya, dimana dia sekarang juga tidak ada yang tau," kata Revan lagi lalu dia keluar, dia meminta OB untuk membersihkan kekacauan yang Ray perbuat.


Rara yang menyesal berusaha menghubungi Ray namun ponselnya tidak aktif.


"Maafkan saya pak Ray," kata Rara dengan menangis.


Di sisi lain, Ray yang baru pertama kalinya ditampar dan juga dimaki sungguh sangat marah. Dari kecil Ray yang diasuh oleh baby sitter tentu tidak ada yang berani memarahi apalagi memukul. Kini dia sungguh kalut, antara cinta, sayang, emosi, marah, kecewa bercampur jadi satu. Pikirannya bercabang kemana-mana, di telinganya masih terngiang kata-kata Rara.


Kata-kata Rara sungguh bagai pecahan kaca yang menancap sempurna di hati Ray sehingga kini Ray bagai orang yang linglung. tak tau harus bagaimana, dia terus mengemudikan mobilnya tak tentu arah, tanpa terduga mobilnya kini berada di tepi sebuah pantai.


Ray keluar lalu dan menatap jauh ke pantai yang luas, "Semua yang aku lakukan tak ada artinya di mata kamu," gumam Ray.


Aarrggggg


"Brengsek kamu Raaaaaaaaaa...." Ray berteriak, dia sungguh marah dan kesal dengan Rara namun di sisi lain dia juga sangat mencintai Rara, dia melakukan ini semua semata karena tak ingin ada yang menyakiti wanita yang dicintainya.


Ray berteriak lagi sekeras-kerasnya, dia berusaha mengeluarkan sakit hatinya namun sakitnya kata-kata Rara masih saja tersisa.


Ray yang telah duduk di bagian moncong mobilnya, lalu dia merebahkan diri dan menatap langit yang cerah.


"Tega kamu Ra," gumamnya.


Ray yang lelah kini memutuskan untuk pulang, dia ingin istirahat mengingat dirinya juga baru sembuh dari sakit.


Saat masuk dalam halaman rumahnya nampak Rara dan Revan dengan menunggunya.


"Pak Ray," panggil Rara, sedangkan Revan hanya diam karena tau kalau Ray sedang bad mood.


Ray yang masih marah tentu berjalan melewati Rara,


"Pak Ray saya mau minta maaf," kata Rara.


Mendengar kata-kata Rara membuat Ray menghentikan langkahnya.


"Revan bilang pada sekertaris kalau aku mau istirahat dan suruh dia jangan mengganggu aku," kata Ray tanpa menoleh.

__ADS_1


Rara yang bersikeras mengejar Ray dan menghadang Ray.


"Pak Ray ijinkan saya bicara sebentar," pinta Rara


Ray yang malas dan masih marah menyingkirkan tubuh Rara dengan tangannya,


"Apa kamu tuli sehingga tidak mendengar ucapan aku barusan," kata Ray


"Revan, kenapa kamu hanya diam saja. Bawa dia pergi," titah Ray lalu pergi meninggalkan Rara.


Revan kini menghampiri Rara yang berdiri mematung menatap kepergian Ray.


"Sudah ayo pergi, jangan memaksakan diri, mungkin dia masih marah kepadamu," kata Revan lalu menarik tangan Rara.


Di kamarnya Ray yang kesal merebahkan dirinya di tempat tidur, berkali-kali dia memukul-mukul kasurnya.


Aaarrrgggggg


Ray mengusap rambutnya dengan kasar, "Kenapa kamu mempermainkan aku Ra, pagi tadi kamu memaki aku dengan kata-kata yang menyayat hati, lalu kenapa sekarang kamu datang kemari?" gumam Ray.


Puas memikirkan Rara, Ray kini memilih memejamkan matanya.


Revan meminta pengawal Ray untuk memantau keadaan Ray, karena mood Ray yang buruk Revan takut kalau terjadi apa-apa dengan Ray.


"Biarkan dia tenang dahulu, baru minta maaf," pesan Revan yang masih kesal dengan Rara.


Keesokan harinya, Ray datang seperti biasa. Dia tidak ingin menghukum atau dihukum Rara.


saat Ray masuk ruangan Rara sudah duduk di tempatnya.


"Pagi Pak Ray," sapa Rara


Ray tidak merespon sapaan Rara, dia langsung saja duduk dan membuka laptopnya.


Ray meminta Revan untuk membuat schedule hari ini tanpa menyuruh Rara.


Rara menghela nafas dengan sikap Ray namun dia juga sadar kalau apa yang dilakukan Ray memang wajar toh dia sendiri kemarin yang keterlaluan.


Rara tersenyum sambil melirik Ray yang sibuk bekerja.


Sesuai membuat laporan, Rara melaporkan pada Ray.


"Letakkan di situ saja," kata Ray dengan dingin


"Pak, bisakah saya bicara sebentar?" tanya Rara


"Ya," jawab Ray


"Bisakah pak Ray memaafkan saya," kata Rara


Ray tersenyum sinis, "Kamu tidak salah, kenapa meminta maaf?" tanya Ray


"Aku yang salah karena terlalu ikut campur yang bukan ranah aku, jadi lupakan saja," imbuh Ray


"Tapi pak Ray...." sela Rara

__ADS_1


Ray meletakkan tangan di bibirnya yang tandanya Rara diharap diam.


"Kembalilah bekerja," usir Ray lalu dia melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2