Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Kembali ke US


__ADS_3

Rara merebahkan dirinya, dia tidur dengan membelakangi Ray yang juga membelakanginya.


Dia mencoba memejamkan matanya, namun karena hasrat yang belum tersalurkan akhirnya Rara tak kunjung terlelap.


"Haduh pengen banget, dia kok diam saja sih," kata Rara dalam hati


Rara mencoba melirik Ray namun Ray masih setia dengan posisinya.


"Ah sial, kenapa kamu berdiri, ayolah tidur. Aku gengsi mau minta," batin Ray yang juga melirik Rara.


Tak sengaja lirikan mereka saling bertemu, sehingga mereka berdua saling membuang lirikan masing-masing.


"Payah, ketahuan," batin Rara.


Ray kini menghela nafas, dia membalikkan badannya dan menghadap ke langit-langit kamarnya sambil sesekali melirik ke arah istrinya.


"Sayang, dulu saat kita belum halal kan tiap hari selalu mencicil nih, sekarang udah halal kok malah seperti ini sih.


Lihatlah sosis big size milik aku, daritadi berdiri," ucap Ray yang membuat Rara sorak-sorak gembira, akhirnya Ray menyerah juga.


"La tadi katanya mau bobok," sahut Rara sambil membalikkan badannya.


Kini Rara dan Ray saling berhadapan, nampak mereka berdua menahan hasrat yang terpendam sedari tadi.


"Ga bisa, lihatlah!" kata Ray sambil menunjuk bagian bawahnya yang sudah berdiri sempurna tanpa miring satu derajat pun.


Melihat sosis jumbo milik suaminya yang sudah berdiri membuat Rara menelan saliva, dia ingin sekali memegang dan memainkannya dengan naik turun.


"Ya sudah ayo," ucap Rara pura-pura iba pada Ray yang padahal dirinya sendiri juga menginginkannya.


Dengan gercep Ray segera menaiki tubuh istrinya dan permainan panas dimulai.


Kamar mereka menjadi saksi bisu keberingasan Ray dalam menaiki istrinya, di sana mereka saling berduet, saling memburu dan saling memanas.


Hingga dua jam telah berlalu, seolah tak memiliki rasa puas, Ray terus saja menyodok istrinya.


Rara yang lelah memilih memejamkan matanya, dia tidak sanggup mengimbangi Ray lagi yang seolah tidak ada puasnya.


"Kok tidur sih," protes Ray


"Ngantuk sayang, kamu main sendiri saja. Dipaus-puasin sampe sosisnya ga mau berdiri lagi," sahut Rara


"Ah nggak asik," timpal Ray lalu dia segera mempercepat laju sosisnya dan segera mengakhiri permainan panasnya.


"Kamu ini apaan sih sayang, baru dua jam udah lemes," gerutu Ray.


"Dua jam itu yang kamu keluarin kecebong apa katak nya, umumnya orang tiga puluh menit itu paling lama, la kamu dua jam masih belum mau berhenti," sahut Rara.


"Aku kan pakai batu CBA, jadi tahan lama," timpal Ray


"Pantes," ucap Rara lalu tidur.


Rara memejamkan matanya dengan tersenyum, dulu Raka tidak seperti Ray, jangankan setengah jam, sepuluh menit itu sudah paling lama.


Bahkan Rara belum sampai, Raka sudah mencabut miliknya sehingga terkadang membuat Rara kecewa.


Baru saja memejamkan matanya, kini alarm miliknya telah berbunyi, "Masih mengantuk sekali, apa aku tidur saja dan nggak puasa," batin Rara

__ADS_1


Namun karena sedikit iman di hatinya akhirnya Rara lebih memilih bangun.


Dia juga membangunkan Ray yang masih terlelap.


"Sayang, ayo mandi." Rara menggoyang tubuh Ray


"Sayang, aku lelah sekali. Kamu mandi dulu nanti baru gantian aku," sahut Ray


"Nggak, pasti kamu nanti berbohong," timpal Rara.


Ray kembali tidur dengan memeluk guling miliknya sehingga Rara kesal.


"Sayang, ayok kita main lagi di kamar mandi," bisik Rara yang membuat Ray langsung bangun.


"Ayok," sahutnya dengan bersemangat.


"Gercep sekali, dasar....!" Gerutu Rara lalu menuju kamar mandi dengan Ray.


Kini kamar mandi harus jadi saksi bisu permainan panas mereka.


Air bathub bergoyang dan tumpah karena akibat permainan Ray yang aduhai.


"Jangan lama-lama karena kita harus mandi besar dan sahur," kata Rara


"Iya iya sayang, nanti keluar langsung aku cabut," sahut Ray


Lama tak kunjung keluar Rara pun menggerutu pasalnya dia takut kalau waktu subuh datang.


"Ini lama sekali sih sayang, imsak segera datang," kata Rara


Ray berusaha fokus supaya lahar putih miliknya segera keluar dan akhirnya keluar juga.


"Sudah ayo mandi," ajak Ray


Seusai mandi Rara bergegas memakai baju dan turun, para art juga pada sahur dan ini membuat Rara lega.


"Kalian masak apa?" tanya Rara basa basi saat mengambil sesuatu di kulkas.


"Kami masak sup, kare ayam, dan tumis kangkung nyonya," jawab salah satu art


"Kalian puasa semuanya?" tanya Rara lagi


Art belum sempat menjawab, Ray sudah memanggil Rara.


Rara bergegas pamit dan menghampiri Ray yang sudah duduk di kursinya.


"Aku sahur buah, roti dan telur saja," kata Ray


Rara juga menyamakan menunya dengan menu Ray, dia malas makan nasi.


Seusai sahur mereka berdua berbincang sambil menunggu pagi, karena rencananya Rara dan Ray akan mengantar mama dan papanya ke Bandara.


"Sayang sebentar lagi lebaran," kata Rara


"Iya tahu, lalu?" tanya Ray


"Ya kita harus zakat," jawab Rara

__ADS_1


"Pasti dong," sahut Ray


"Oh ya besok kita sholat id di Arab ya," imbuh Ray


Rara membolakan matanya, sholat saja kenapa harus jauh-jauh ke Arab.


"Jauh sekali, jangan mentang-mentang punya pintu kemana saja kamu ingin sholat ke tempat yang jauh sayang," protes Rara.


"Pintu kemana saja apa maksud kamu, aku tu hanya ingin sholat di masjidil haram," sahut Ray


"Kamu kan Do Raymond," ucap Rara dengan terkekeh.


"Pelecehan, kalau aku D Raymond lantas kamu apa? Rara Jonggrang," timpal Ray dengan kesal.


"He he, Rara Jonggrang ya memang aku banget sama-sama cantik," kata Rara dengan membanggakan diri.


Ray sungguh gemas dengan istrinya, pengen rasanya dia menaiki istinya lagi, namun dia harus bersabar hingga buka puasa datang.


"Kita sholat id di sini saja sayang, nanti kalau kita free kita pergi haji berdua," kata Rara


"Aku ingin merasakan suasana lebaran di sana, setelah sholat kita langsung pulang," bujuk Ray


"Kasian mama dan papa sendirian." Rara mencoba menolak.


"Baiklah, kalau begitu," ucap Ray.


Memang ya, sultan tu ada-ada saja, sholat id kenapa meski jauh-jauh ke Masjidil haram.


Rara dan Ray mengobrol hingga matahari terbit dari persembunyiannya.


"Udara pagi memang sangat menyegarkan ya sayang," kata Ray


"Iya sesegar cinta kasihmu kepadaku," sahut Rara sambil bergombal.


"Cie bergombal," goda Ray


"Seharusnya kamu itu senang karena digombali istri, bukannya malah cie cie," protes Rara


"Iya iya aku seneng banget digombali oleh kamu," bujuk Ray


Kini Mama dan papa sudah keluar dengan koper, mereka sudah bersiap untuk kembali ke negara Paman Sam.


"Kalian sudah bangun?" tanya Mama


"Iya ma, kami akan mengantar mama dan papa ke Bandara" jawab Ray


"Ya sudah, ayo berangkat. Jet papa sudah siap dan jadwal pemberangkatannya satu jam kemudian" timpal papa


Tak ingin membuang waktu lagi, Mereka segera pergi ke Bandara.


Setibanya di Bandara, mama dan papa Ray segera masuk namun sebelumnya Mama memeluk anaknya.


"Selamat menempuh hidup baru, semoga kamu selalu berbahagia Raymond sayang," kata mama kemudian beliau mengecup pipi anaknya.


Ray hanya bisa membatu, sekian tahun mamanya tidak pernah menciumnya.


"Makasih ma," gumam Ray

__ADS_1


__ADS_2