Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Kritis


__ADS_3

"Datangnya cinta itu dari hal remeh seperti ini jangan sampai rumah tangga anda jadi taruhannya jika anda bermain api," saran Revan lalu pergi.


Ray terdiam mendengar kata-kata Revan tapi dia tetap menyangkal kalau dia bermain api.


Dia menganggap pertemanannya dengan Raisa adalah hal yang wajar, toh dia tidak mencintai Raisa, kedekatannya dan Raisa hanya ada rasa nyaman.


Inilah yang tidak Ray sadari kalau cinta itu hasil persilangan dari rasa nyaman dan juga intensitas pertemuan dia tidak menyadari kalau lama-lama rasa nyaman itu akan berubah menjadi rasa cinta yang endingnya akan merusak segalanya.


Setelah semua rusak hanya ada air mata, penyesalan dan juga perpisahan.


Sore hari datang dengan cepat, Rara yang awalnya ingin menginap di rumah orang tuanya memutuskan untuk pulang.


Dia tidak ingin orang tuanya tau masalah yang tengah melanda rumah tangganya.


"Lo katanya mau menginap kok pulang?" tanya mama


"Iya ma, nanti kasian Ray kalau malam-malam harus kesini kan jarak kantor ke rumah kami lebih dekat daripada jarak kantor ke rumah mama," jawab Rara


Entah sudah berapa kali Rara berbohong.


Mendapatkan jawaban dari Rara membuat mama paham mungkin anaknya akan menyelesaikan permasalahannya dengan Ray.


"Rara pamit ya ma, titip salam buat papa," pamit Rara


Sepanjang perjalan pulang Rara nampak risau, apa hari ini Ray pulang atau tidak dia juga tidak tau. Dia hanya berharap hubungan dengan Ray akan kembali seperti dulu lagi.


Tak berselang lama, Rara telah sampai di rumahnya, dia datang dengan menyeret koper miliknya.


Saat masuk rumah nampak Ray telah menunggunya di ruang tamu.


"Darimana?" tanya Ray


"Dari rumah mama," jawab Rara


"Oh bagus, kita ada masalah kamu pergi ke rumah mama dan menceritakan semua pada mama gitu," maki Ray


Rara hanya menatap Ray dengan tatapan benci, sedari tadi dia berbohong pada mamanya sebisa mungkin dia menutupi semua namun Ray dengan asumsinya malah menuduh dia menceritakan permasalahan mereka pada mama.


"Cukup! aku sudah muak dengan kamu. Kamu yang memutuskan pergi lalu tidak pulang dan sekarang kamu menyalahkan aku! hebat sekali dirimu memutar balikkan fakta!" kata Rara dengan nada yang tinggi


"Ini semua gara-gara kamu! kamu yang membuat aku stres akan kemauan kamu yang tidak masuk akal jadi sekarang jangan salahkan aku jika aku bersikap begini. Aku berusaha memberi apapun yang kamu mau tapi kamu semakin ngelunjak, tak tau terima kasih," sahut Ray lalu pergi ke atas.


Ray memutuskan untuk menyendiri di ruang kerjanya sedangkan Rara masih di tempatnya dia menangis.

__ADS_1


Apa sebegitu keterlaluan keinginannya? toh ini juga keinginan dari anak yang di kandungnya.


Seharusnya Ray bercermin bagaimana sikapnya selama ini pada Rara. Dia suka modus, suka mengerjai Rara dan lainnya jadi wajar kalau sekarang anaknya meniru keusilannya.


Lama Rara menangis di ruang tengah dia berfikir bagaimana menyudahi perang dunia ketiga ini, sampai kapan akan begini terus oleh sebab itu Rara akan mengalah, dia ingin meminta maaf pada Ray.


"Ya mungkin lebih baik jika aku meminta maaf padanya," ucap Rara lalu menghapus air matanya.


Rara naik ke atas, dia mencari Ray ke kamar tapi tidak ada lalu Rara mencari Ray ke ruang kerjanya.


Saat Rara masuk nampak Ray melakukan video call, Ray yang menghadap ke jendela tidak tau kehadiran Rara.


"Besok saja kita ketemu sekaligus bicara tentang kerja sama kita yang gagal," kata Ray


"Lebih baik sekarang saja," sahut Raisa.


Rara nampak shock, disaat genting seperti ini bisa-bisanya janjian untuk bertemu.


"Pergilah! keluar saja kamu dengan dia jangan pedulikan aku," kata Rara yang membuat Ray kaget dan segera mematikan sambungan ponselnya.


"Aku.... Aku tidak janjian dengan Raisa, kami hanya ingin membahas masalah kerja sama yang gagal," ucap Ray


"Alasan, lalu beberapa hari ini nggak pulang menemuinya kan? kamu janjian dengannya di luar kan? kamu curhat masalah kita padanya kan?" terka Rara yang ternyata semua benar adanya.


"Tapi kami hanya berteman, aku dan dia nyambung gitu aja nggak lebih," sahut Rara yang seketika membuat hati Rara ambyar.


"Mana bisa begitu kan semua karena kamu. Seandainya kamu tidak membuat perusahannya gulung tikar pasti kerja sama aku dengannya akan tetap berjalan," timpal Ray


"Baiklah, aku akan pergi, perhatikan saja teman baru kamu itu jangan pedulikan aku dan anak aku," kata Rara lalu membalikkan badan ingin pergi


"Jangan pergi!" teriak Ray


Tiba-tiba Rara merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


"Aaaa," teriak Rara sambil memegangi perutnya yang sakit


"Kamu kenapa?" tanya Ray


Saat hendak menolong sang istri Rara melarangnya


"Stop, tetap di tempatmu. Aku tidak sudi dibantu oleh kamu," kata Rara dengan perlahan mundur


"Sayang, tapi kamu kesakitan," bujuk Ray

__ADS_1


"Peduli apa kamu dengan aku," sahut Rara


Wajah Rara sangat pucat, Ray yang takut terjadi apa-apa dengan Rara memutuskan untuk mengabaikan ucapan Rara, dia tetap menolong Rara.


Rara memberontak sekuat tenaga, sungguh dia sangat sakit hati pada Ray.


Dengan sikap Ray yang seperti ini kenangan buruk bersama Raka seakan muncul lagi, perlakukan buruk Raka dulu membuat Rara berteriak.


"Lepaskan aku, lepaskan aku. Aku membencimu," teriak Rara yang membuat Ray melepaskannya.


"Maafkan aku," ucap Ray


Tiba-tiba Leo datang karena ada masalah dengan proyek baru mereka. Leo dari tadi mencoba mengubungi Rara namun tidak diangkat sehingga Leo memutuskan untuk datang menemui Rara.


"Leo tolong bawa aku ke rumah sakit, aku sudah tidak kuat," kata Rara dengan lirih.


Ray ingin menghalangi Leo, namun Rara melarang Ray.


"Pak Ray demi kebaikan istri dan anak anda tolong malam ini jangan egois," kata Leo lalu dia menggendong Rara


Rara terus memegangi perutnya yang sakit luar biasa.


"Sabar Ra, sabar," kata Leo


Leo menidurkan Rara di jok belakang lalu dia masuk, ternyata Ray juga ikut masuk.


Rara yang tidak bisa menahan rasa sakitnya akhirnya pingsan dan ini membuat Leo panik.


"Ra Ra," kata Leo dengan melihat Rara dari spion.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Ray yang tak kalah panik


Tiba-tiba ingatannya saat Raya meninggal hinggap di kepalanya seketika Ray menangis dan pindah ke jok belakang.


"Sayang jangan tinggalkan aku," kata Ray dengan memeluk sang istri yang pingsan


"Cepat Leo!" teriak Ray


Leo yang tidak tau jalan mengaktifkan GPS lebih dulu, untung saja rumah sakit Rehan dekat dengan lokasinya sekarang.


Setibanya di rumah sakit Ray menggendong Ray ke ruang UGD dan saat memeriksa kondisi Rara dokter meminta perawat untuk menyiapkan operasi dan menghubungi para bidan dan obgyn lainnya.


"Keadaannya kritis jadi harus segera di operasi namun kemungkinannya kecil untuk dua-duanya selamat," kata Dokter

__ADS_1


Ray mundur selangkah


"Tidak, tidak mungkin. Lakukan yang terbaik, aku mohon," pinta Ray dengan menangis.


__ADS_2