Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Bingung


__ADS_3

"Tapi saya tidak mau kembali sebelum mendapatkan hukuman," kata Rara.


Ray menghentikan pekerjaannya lalu menatap Rara "Kamu tidak dengar apa yang aku katakan," kata Ray dengan dingin.


"Kenapa pak Ray curang, saat anda meminta hukuman, saya memberinya namun kenapa saat saya yang ingin hukuman anda malah menolaknya," protes Rara


"Naik turun tangga 100 kali," sahut Ray


"Hukuman lainnya pak," timpal Rara.


Ray menatap Rara dengan tatapan mautnya, sehingga membuat Rara takut.


"Baiklah pak," ucap Rara pasrah lalu dia kembali ke mejanya. Rara kini serba bingung dengan sikap Ray, dia harus pasif atau aktif menghadapi Ray saat ini.


Tak terasa jam makan siang telah tiba, biasanya Ray mengajak Rara untuk makan siang namun kali ini Ray keluar sendiri jangankan mengajak menyapa saja nggak.


Rara yang lagi galau tidak mood makan, untuk itu dia memutuskan tidak makan siang.


"Daripada pusing memikirkan pak Ray, lebih baik aku menyelesaikan permasalahan aku dengan mas Raka, aku tak menyangka kamu tega melakukan itu mas," gumam Rara dengan mengepalkan tangannya.


Rara kini mencari pengacara yang akan membantunya untuk mengambil kembali warisannya.


"Sesuai pernjanjian pra nikah kita dulu mas, barang siapa yang selingkuh harta warisannya akan jatuh ke tangan yang diselingkuhi ditambah cara licik kamu, aku akan meminta kompensasi padamu," kata Rara.


Rara melakukan pencarian di Mbah Gugel dan beberapa nama pengacara terkenal tercantum di sana. "Kalo Hotman Prancis tarifnya sungguh mahal, aku nggak akan sanggup," gumam Rara.

__ADS_1


Rara mencari nama-nama pengacara yang lain dan matanya tertuju pada sebuah nama yang tidak asing yaitu Raya Indah.


Rara mencari informasi dan ternyata benar, Raya adalah teman satu kampus Rara, meskipun mereka berbeda jurusan namun mereka dulu sangat dekat.


Rencananya nanti setelah jam kantor usai Rara akan mengubungi Raya.


"Gimana kabar kamu Raya, maafkan aku karena memutuskan hubungan secara tiba-tiba." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.


Puas memikirkan teman-temannya, Rara kembali melanjutkan pekerjaannya, rencananya dia akan menghubungi teman-temannya kembali.


Ray setelah makan siang kembali lagi ke ruangannya, dia mengerutkan alisnya karena melihat Rara sudah sibuk dengan laptop miliknya.


Melihat Ray masuk Rara segera memberitahukan kalau ada janji dengan klien jam tiga sore.


"Iya aku sudah tau," sahut Ray dengan dingin dan datar


Rara berdiri sambil menatap Ray, sampai kapan es Ray akan mencair dia sungguh rindu dengan modus Ray, dia benar-benar merindukan Ray.


"Mau sampai kapan kamu akan berdiri di situ?" tanya Ray


"Saya rindu pak Ray yang seperti biasnya," jawab Rara. Lagi-lagi Ray melemparkan tatapan mautnya ke Rara.


"Maaf pak Ray," sahut Rara lalu dia kembali ke mejanya.


Waktu cepat bergulir, dan tak terasa jam pulang kantor telah tiba, sebelum pulang dia mengirim pesan ke nomor Raya yang dia dapat dari internet, dan Raya ternyata merespon Rara dengan cepat, setelah saling mengirim pesan, Rara mengajak Raya untuk bertemu dan Raya bersedia. Karena ada janji dengan Raya, Rara segera memberesi mejanya lalu keluar begitu saja tanpa menunggu Ray.

__ADS_1


Ray yang melihat Rara cepat-cepat keluar jadi heran,


Namun dia mencoba untuk tidak mau tau.


******


Sebelum pulang Revan pergi ke ruangan Ray. Dia ingin bertanya pada Ray, apa Riad dan Sheryl di suruh pulang lebih cepat sebelum menghabiskan uang lebih banyak.


"Biarkan saja," sahut Ray.


"Tapi bukannya anda tidak ingin ikut campur lagi," timpal Rehan heran.


"Tapi untuk kasus Sheryl sudah separuh jalan, jadi lanjut," ucap Ray


Kerena sudah tidak ada yang dibicarakan Rehan pamit pulang terlebih dahulu.


"Saya pulang dulu pak," pamit Revan lalu keluar.


Ray masih setia di kursi kebesarannya, dia kini bingung menata sikapnya pada Rara.


Lanjut dingin apa melupakan semua dan bersikap seperti biasanya.


Aarrgggg


"Entahlah," ucap Ray lalu dia keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Seperti kata pepatah, memang sejak dulu begitulah cinta penderitaannya tidak pernah berakhir.


__ADS_2