
"Wao, berenang di mall," sahut Rea dengan tertawa, jawaban Ray sungguh membuatnya geli.
"Lagian calon suami kamu ada ada aja, kesini ya mau belanja baju kok malah nanya." Pandangan Ray kini tertuju kepada Rehan.
"Kan basa-basi Ray," sahut Rehan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah udah, ayo kita belanja." Debat yang tak penting segera Rara lerai, kini mereka mencari barang yang akan mereka beli. Rea membeli mukenah dan juga baju gamis serta hijab sedangkan Ray membeli sarung, baju Koko, serta peci. Setelah membeli keperluan mereka untuk mualaf nanti, mereka memilih duduk di foodcourt yang tidak hanya duduk, mereka juga memesan makanan.
"Kok pesan makanan," protes Rehan
"Ya karena sudah waktunya makan," sahut Ray
Rara memang nggak puasa karena diganggu Ray sedangkan Rehan mencoba bertahan meski tembok imannya hampir roboh.
Tak berselang lama pelayan datang dengan membawa banyak makanan dan minuman dan ini membuat Rehan menelan salivanya.
Kalau imannya nggak kuat ya gini lihat makanan dan minuman langsung menelan salivanya.
"Makan saja Rehan, besok kita puasa bersama, kan aku dan Rea telah menjadi muslim sejati," kata Ray mencoba menggoda iman Ray.
"Kamu ini menggantikan pekerjaaan setan ya, mengganggu orang yang menjalankan ibadah puasa." Rehan mengomel pasalnya Ray menggodanya.
"Besok setannya tobat pak Dokter." Rara ikut menimpali.
"Ya sudah ayo makan," ucap Rea sambil memasukkan makanan miliknya.
"Nggak kalian makan saja, aku menunggu adzan," sahut Rehan
"Adzan dhuhur pada magrib, jangan-jangan menunggu adzan dhuhur," sahut Rara dengan tertawa lepas.
Rara sudah menduga kalau Rehan pasti menunggu adzan dhuhur.
"Adzan magrib dong," timpal Rehan.
Ray, Rea dan Rara makan di depan Rehan dan kini tembok pertahanan Rehan telah roboh.
Rehan meminum es yang Rea pesan hingga habis dia juga langsung melahap hot dog milik Ray.
"Berdoa dulu pak Rehan," ucap Rara
"Woy Rehan, kenapa tidak pesan sendiri," omel Ray
"Karena aku berbuka karena ulah kalian," sahut Rehan.
Semua hanya bisa geleng-geleng kepala, seusai makan mereka memutuskan untuk kembali ke pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
Rara dan Ray kembali ke kantor sedangkan Rea ikut Rehan ke rumah sakit.
Rea kini sungguh tidak rela kalau Rehan sendirian di rumah sakit karena pasti uget-uget Refa mengganggunya karena kembali lagi kejahatan muncul itu tak hanya ada niat sang pelaku namun juga karena ada kesempatan jadi Rea harus waspada tingkat dewa.
***********
Semua kini telah berkumpul di masjid, termasuk orang tua Ray.
Kini Ray telah duduk berhadapan dengan pak Ustad yang akan memualafkan dia.
Ray nampak tampan dengan pakaian Koko yang ia kenakan, seperti bukan Raymond.
Wajahnya juga nampak lebih bercahaya berbeda dengan biasanya yang memancarkan aura devil.
"Gimana pak Ray, sudah siap?" tanya pak Ustad.
"Sudah pak," jawab Ray dengan tegas.
"Sebelumnya saya mengingatkan kalau ada tiga ketentuan sebelum ikrar syahadat diucapkan yang pertama pak Ray sudah yakin ya kalau tidak ada paksaan dari manapun, baik orang tua, pasangan ataupun klien anda?" tanya pak ustad
"Tidak ada pak ustad," jawab Ray
"Yang kedua apabila Pak Ray masih memiliki orang tua yang berbeda keyakinan dan suatu ketika anda disuruh kembali pada keyakinan mereka maka pak Ray harus menolak dengan lembut, jangan sampai anda menyakiti hati orang tua pak Ray, pak Ray sanggup?" tanya Pak Ustad
"Sanggup," jawab Ray pak ustad.
"Baik untuk yang ketiga, setelah memeluk Islam pak Ray harus menjalankan ibadah, dan cara ibadah Islam dengan Kristen tentu beda," jelas pak ustad.
"Jelas pak ustad, lagipula meksipun saya orang kristen tapi saya tidak pernah menjalankan ibadah, bisa dibilang Kristen KTP," seloroh Ray yang membuat pak Ustad menggelengkan kepala. Dan pak ustad yakin seyakin yakinnya kalau nanti jadi islam KTP juga.
"Oh ya ini kan bulan puasa apa pak Ray sudah menjalankan puasa?" tanya Pak Ustad
"Alhamdulillah sudah pak ustad," jawab Ray
"Alhamdulillah, siapa yang mengajari?" tanya pak ustad lagi
"Calon istri saya," jawab Ray
"Alhamdulillah," sahut pak Ustad
Kini pak ustad bersiap untuk mengucapkan kedua kalimat Syahadat dan Ray diminta untuk mengikutinya.
Ray yang sering mendengar kalimat syahadat baik di rumahnya maupun sekolah tentu sudah hafal sehingga dengan mudah dia mengikuti pak ustad.
Semua mengucap hamdalah, tanda syukur karena bertambah satu lagi saudara muslim mereka.
__ADS_1
"Tunggu pak Ray, mohon maaf saya lupa. Apa pak Ray sudah khitan?" tanya pak Ustad yang lupa belum bertanya.
"Sudah pak ustad, apa perlu dikhitan lagi?" tanya Ray
"Nggak usah, nanti kalau dikhitan lagi kasian istrinya mau pakai apa," seloroh pak Ustad yang membuat semua tertawa.
Orang tua Ray sangat sedih saat Ray sudah berpindah keyakinan, namun mereka juga tidak bisa memaksa, toh inilah jalan yang Ray pilih.
Setelah Ray kini gantian Rea, sama seperti Ray pak ustad bertanya tiga ketentuan dan Rea sudah menyanggupinya.
Berbeda dengan Ray yang fasih, Rea nampak masih sulit mengucapkan lafadz Syahadat.
"Sebelumnya apa sudah belajar mengaji?" tanya pak ustad
"Belum pak Ustad," jawab Rea
"Siapa yang mengenalkan Islam kepada anda?" tanya pak ustad lagi
"Calon suami saya," jawab Rea dengan menunjuk Rehan.
"Mohon maaf calon suami Nona Rea, tolong calon istrinya dituntun untuk belajar Islam lebih dalam," ucap pak ustad
"Baik pak ustad," sahut Rehan.
Kini pandangan pak ustad kembali lagi ke Rea,
"Apa sudah belajar puasa?" tanya pak ustad
"Belum pak ustad, karena puasa suami saya juga masih bolong-bolong kadang dia juga puasa dhuhur," jawab Rea
"Astagfirullah, nanti jangan Islam KTP ya nona," ucap ustad.
Sontak semua tertawa,
Setelah selesai, Revan menemui pak ustad karena ingin menyumbangkan uang untuk pembangunan masjid dan jumlahnya sungguh luar biasa, sungguh ini diluar ekspektasi pak ustad.
Memang sebelumnya Rehan sudah bilang kalau Ray akan menyumbang masjid.
"Subhanallah pak, banyak sekali?" tanya pak Ustad
"Nggak papa pak, uang ini tentu akan bermanfaat untuk keperluan masjid, apalagi ini bukan puasa pasti butuh takjil buat yang singgah sholat maupun warga sekitar yang sholat berjamaah," jawab Revan
Kini semau pamit untuk pulang, begitu pula dengan Pak Ustad dan lainnya.
"Alhamdulillah ya sayang, karena sudah mualaf jadi besok kamu harus puasa, dan ingat nggak boleh puasa dhuhur lagi," kata Rara
__ADS_1
"Siap bos besok akan aku coba untuk puasa magrib sehari penuh, tapi pas buka aku minta jatah aku ya," sahut Ray
"Astaga sayang, kamu itu baru kembali ke fitroh masak iya udah mau melakukan hal yang salah," timpal Rara