
Ray menatap punggung mama dan papanya, tak terasa mata Ray basah. Entah mengapa kepergian mama dan papanya kali ini membuat Ray seakan tak ikhlas. Biasanya kalau mama dan papanya kembali ke US dia cuek sekali.
"Sudah, kan sebentar lagi kita menyusul mereka," hibur Rara
"Iya," sahut Ray kemudian menggenggam tangan istrinya.
Ray dan Rara memutuskan untuk pulang karena Ray tidak memiliki agenda kemana-mana, mereka hanya ingin bersantai di rumah berdua.
"Sayang aku ngantuk banget, aku tidur dulu ya," kata Rara
"Iya, aku mau ngecek email dulu," sahut Ray
Ray fokus dengan laptop miliknya, dia mengecek semua email dan tak sengaja sebuah iklan muncul dan ini membuat Ray kesal.
"Astaga iklan apa ini," kata Ray.
Ray yang kesal menutup laptopnya,
"Ada ada saja godaan orang puasa," gumam Ray dengan memijat pelipisnya.
Entah mengapa bayangan iklan tadi terngiang di kepala Ray, hasratnya pun terbangun.
"Lihatlah nanti setelah buka puasa, akan aku hajar habis-habisan," kata Ray
Ray segera mengambil ponselnya, dia memerintahkan Revan untuk mencarikan beberapa rekomendasi blue film, karena dia ingin meniru gaya yang ada di dalam film tersebut.
Revan yang menerima perintah Ray tentu kesal sekali kenapa memberi perintah seperti ini.
"Bos nanti aku kirim, sekarang jelas nggak mungkin mencari film seperti itu," balas Revan
"Baiklah, pokoknya nanti malam segera kirim," titah Ray
"Apa anda tidak hafal gaya-gaya dalam bercinta, aku kira sudah berpengalaman," sahut Revan
"Ya bilangnya pengalaman, tapi sebenarnya nggak. Aku saja kadang nonton film biar tau dan terkesan ahli," timpal Ray
"Astaga pak," ucap Revan.
"Tapi kan itu sudah punya filmnya kenapa cari lagi?" tanya Revan sesudahnya.
"Udah bosen, kamu cari yang lengkap ya. Aneka gaya, biar nggak malu-maluin saat berhubungan ma Rara," jawab Ray
"Baiklah," timpal Revan
"Berapa film?" tanya Revan
__ADS_1
"Kalau bisa yang banyak, sepuluh film," jawab Ray
Revan hanya bisa menggelengkan kepala, heran dengan mindset bosnya yang semakin kesini semakin ga wajar.
************
Keadaan Raka semakin membaik, dia kini sudah bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskan semuanya.
Raka mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, dan kini dia jauh lebih tenang dan cukup bahagia.
Papa Raka menceritakan semua apa yang beliau rasakan saat Raka sakit dan ini membuat Raka merasa bersalah.
"Maafkan Raka pa," ucap Raka.
"Iya Raka, papa hanya berharap kamu tidak seperti kemarin lagi. Papa hampir putus asa melihat kamu seperti itu, saat itu papa merasa kalau papa ini telah gagal mendidik kamu dan papa ini tidak berguna. Berjanjilah Raka jangan siksa papa lagi, buka lembaran baru kamu, lupakan Rara maupun Sheryl, tatap masa depan kamu yang cerah," kata Papa yang membuat mata Raka basah.
"Raka janji pa, akan menjadi manusia yang lebih baik lagi, kegagalan pernikahan Raka akan Raka jadikan pelajaran untuk kedepannya," timpal Raka.
"Syukurlah, semoga Sheryl juga bisa segera sembuh," ucap papa
"Iya pa, amin," sahut Raka.
Papa sudah menceritakan semua tentang Sheryl dan rencannya hari ini Raka akan mengunjungi Sheryl, bagaimanpun juga Sheryl adalah wanita yang pernah ada di dalam hatinya.
"Sheryl," panggil Raka dari luar jendela kamar Sheryl
Keadaan Sheryl cukup memprihatinkan, dia nampak lebih kurus, tangan dan kakinya diikat. Yang yang lebih menyedihkan lagi perutnya sedikit membuncit karena anak yang dia kandung.
Mendengar ada yang mengambilnya membuat Sheryl menoleh.
"Riad, kamu sudah kembali!" katanya dia mulai berontak namun ikatan tangan dan kakinya cukup kuat sehingga Sheryl tidak bisa berpindah tempat.
"Aku Raka," jawab Raka
Sheryl tiba-tiba menangis mendengar jawaban Raka, Sheryl terus terisak.
"Raka, Raka, Raka," ucapnya.
Raka yang melihatnya menjadi iba, dia sempat memikirkan bagaimana nasib Sheryl nanti saat melahirkan dan bagaimana nasib anaknya.
Tiba-tiba seorang dokter datang dan ikut bergabung dengan Raka.
"Di sini dia adalah pasien teristimewa, Raymond Toretto membiayai semuanya dia juga meminta dokter kandungan untuk selalu datang memantau keadaan bayi pasien" kata Dokter.
Raka mengerutkan alisnya, kenapa Raymond Toretto membiayai semua pengobatannya? Selain itu dia juga meminta Dokter kandungan untuk memantau keadaan Sheryl? kini pertanyaan itulah yang menari dalam kepala Raka. Banyak asumsi yang muncul
__ADS_1
"Apa yang membuat kamu melakukan ini semua Raymond?" batin Raka.
"Siapa Riad sebenarnya, kenapa dia menghilang bak ditelan bumi padahal dia begitu mencintai Sheryl." Raka bermonolog dengan dirinya sendiri.
Memang dari awal Raka curiga terhadap Riad karena saat diselidiki Raka menemukan kalau Riad adalah seorang pesepakbola asal Algeria, namun namanya tidak ada yang tau bahkan sangat asing ditelinga. Riad juga bukan pengusaha maupun konglomerat tapi kenapa dia bisa memenuhi semua keinginan Sheryl?
Puas memikirkan Riad dan Ray, Raka kembali lagi ke perbincangan dirinya dengan sang Dokter.
Dokter menjelaskan keadaan Sheryl saat ini, dari segi fisik memang Sherly sedikit berbeda namun semua yang dibutuhkan Sheryl telah dicukupi.
Dokter memberikan obat yang terbaik, tapi entah mengapa Sherly tidak kunjung sembuh.
"Syukurlah dok, ada yang berbaik hati membiayai semuanya," kata Raka.
Dokter yang harus memeriksa pasien pamit undur diri, sedangkan Raka masih di tempatnya untuk memperhatikan Sheryl.
"Sembuh lah Sheryl, kasian anak kamu jika kamu begini terus, lupakan Riad dan hiduplah dengan anak kamu," kata Raka
Sheryl menghentikan tangisnya dan menatap Raka dengan lekat.
Entah apa yang dipikirkannya.
Lama menunggui Sheryl akhirnya Raka memutuskan untuk pulang.
"Mungkin ini kunjungan aku yang pertama dan terakhir Sheryl, jaga baik-baik dirimu. Terima kasih untuk semuanya. Untuk cinta dan penghianatan kamu. Telah aku terima semua takdir dari Tuhan dan ikhlas menjalaninya dan semoga kamu pun begitu," kata Raka dengan mata yang basah.
Sheryl memanggil-manggil Raka yang telah pergi menjauh, dia sungguh histeris.
"Rakaaaaaa," teriaknya.
Raka mengusap matanya yang basah, dia meletakkan kepala di atas setir mobilnya dengan tangan sebagai alas.
"Ya Tuhan, maafkan hamba mu ini. Sembuhkan lah Sheryl," ucapnya.
Raka teringat kembali dengan Raymond Toretto yang menurut dokter dialah yang membiayai pengobatan Sheryl.
"Apa hubunganmu dengan Sheryl Raymond, sehingga semua biayanya kamu yang tanggung." Lagi-lagi Raka memikirkan hal itu namun dia tidak mendapatkan jawabannya.
Puas dengan asumsinya, Raka memutuskan untuk pulang.
Setibanya di rumah, papa Raka memberitahu anaknya perihal keinginannya untuk membawa Rara ke luar negeri.
Siapa tau di sana Raka bisa lebih bahagia karena terlepas dari kenangan Rara dan Sheryl.
"Baiklah pa, tapi kita berangkat ke luar negeri setelah lebaran saja ya." Raka bernegosiasi dengan papanya.
__ADS_1