
Riad bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dia sungguh bingung karena belum pernah dia mengalami gejala aneh seperti ini selain itu dia juga nampak lemah karena tidak nafsu makan sama sekali.
"Kenapa aku ingin sekali makan makanan negara Indonesia?" Riad bermonolog dengan dirinya sendiri.
Teman-teman Riad mengajak Riad untuk pesta sambil bakar-bakar domba namun entah mengapa Riad malah kepingin makan gulai kambing selain itu dia juga ingin makan makanan yang dimasak oleh Sheryl.
"Kenapa aku malah ingin makanan yang dimasak olehnya?" gumam Riad.
Bersama dengan Sherly bukan bearti Riad tidak ada rasa, meskipun hanya misi namun kebersamaanya dengan Sheryl cukup berkesan di hatinya.
"Kira-kira di sana dia sedang apa?" Riad lagi-lagi bermonolog dengan dirinya sendiri.
Entah mengapa beberapa hari ini dia kepikiran Sheryl, dan ini cukup membuatnya merasa bersalah.
Ray sungguh kejam, membuatnya dan Sheryl menyatu namun setelah itu dia meminta Riad untuk meninggalkannya.
Saat asik melamun tiba-tiba ponsel Riad berdering nampak nomor asing memanggil.
"Siapa?" batin Riad lalu menerima panggilan telponnya.
Saat Revan bersuara, Riad sudah dapat mengenalinya.
"Pak Revan," ucap Riad.
"Aku kira kamu sudah lupa padaku Riad," sahut Revan.
Memang setelah pulang ke negaranya Riad membeli nomor baru dan tidak lagi menyimpan nomor Revan dan Ray.
"Mana mungkin saya melupakan penolong saya," timpal Raid.
Revan menyampaikan maksud dan tujuan dia menghubunginya.
Riad nampak galau mendengar cerita Revan, dia nampak bersalah pada Sheryl.
"Semua terserah kamu Riad, tapi pak Ray harap kamu datang dan melihat Sheryl," kata Revan
"Saya pikirkan dulu pak Revan, karena saya sendiri tidak enak bertemu Sheryl kembali," ucap Riad
Revan cukup paham dengan apa yang dirasakan Riad memang apa yang dilakukan Ray bisa dibilang kejam namun dia cukup berkonsekuensi.
Seusai mendapatkan panggilan dari Revan membuat Riad galau, dia tak menyangka kalau Sheryl gila saat dia meninggalkannya.
__ADS_1
Riad kini bak buah simalakama, antara bertanggung jawab atau mengabaikan sheryl. Riad cukup tau kalau Sherly wanita yang matre, wanita yang menomorsatukan uang, dengan keadaannya yang baru merintis tentu akan susah untuk memenuhi keinginan Sheryl.
"Arrrrggggg." Riad frustasi dengan mengusap rambutnya dengan kasar.
Di sisi lain Ray tersenyum senang karena Revan telah menghubungi Riad, dia berharap Riad mau datang ke Indonesia supaya dia tidak terbebani dengan rasa bersalah.
"Aku nggak mau tau Revan kamu harus bisa membawa Riad kemari, biar dia melihat keadaan Sheryl di sini," kata Ray
Revan hanya bisa menggelengkan kepala, dia sungguh bingung dengan Ray, dulu dia yang membuat Sheryl seperti ini tapi sekarang kenapa seolah ingin jadi pahlawan?
"Aku sungguh heran dengan anda pak, dulu niat betul membuat Sheryl dan Raka hancur dan kini kenapa memikirkan Sheryl. Jangan bilang anda suka dengan Sheryl," ucap Revan
"Sembarangan, siapa yang suka dengan Sheryl. Aku hanya kasian dengan anak yang dikandungnya, sudahlah kamu tidak akan paham," sahut Ray
Revan hanya bisa pasrah, malam ini rencananya dia akan menghubungi Riad kembali untuk membujuknya.
***********
Hari yang ditunggu-tunggu Rehan dan Rea telah tiba, hari ini mereka akan melakukan Ijab-Qabul yang akan digelar di rumah Rehan.
Keluarga Rehan juga datang, dan untuk semua konsumsi Rehan sudah menyerahkan semua pada art.
"Tinggal aku yang belum nikah," kata Revan
"Sebentar lagi Revan, sabarlah bukankah sudah ada calonnya," sahut Ray
Revan dan Ray pergi ingin menghampiri Rehan, mereka berdua ingin berbicara dengan teman mereka.
"Ra, gimana jadi istrinya Raymond?" tanya Raya
"Alhamdulillah Raya, kamu sendiri gimana? Pak Revan baik kan orangnya?" jawab dan tanya Rara balik
"Baik sih Ra, tapi dia itu suka mencicil," jawab Raya
Rara tertawa, ternyata Revan ketularan bosnya yang super duper messssuuuummmm.
"Sabar Rea sudah menjadi budaya negara kita. Nggak afdol kalo nggak nyicil," ucap Rara
"Betul," sahut Rea
"Halo calon pengantin," sapa Rara
__ADS_1
"Halo kakak," sapa balik Rea yang memanggil Rara dengan sebutan kakak.
"Kelihatannya mereka bertiga adalah tiga serangkai messsuuummm. Habislah aku nanti malam, pasti besok aku nggak bisa bangun dari tempat tidur," ucap Rea.
"Sabar Rea, eh tapi ngomong-ngomong kamu agak pucat," kata Rara
"Iya Lo Rea, kamu nampak pucat. Apa semalam kalian lembur?" tanya Raya
"Eh nggak kok, cuma cicil saja. Itupun nggak parah," jawab Rea dengan malu.
"Aha kamu ketahuan lagi nyicil," goda Rara
Tak lama kemudian, penghulu dan wali hakim datang. Rea dan Rehan bersiap duduk di depan penghulu.
"Bagaimana siap?" tanya Pak penghulu
"Siap pak," jawab Rehan dengan sumringah.
Pak penghulu mengucapkan ijabnya dan Rehan dengan lantang mengucapkan Qabulnya.
"Bagaimana sah?" tanya Pak penghulu
Sah
Sah
Sah
Ucap semua saksi yang ada di sana, Rehan mengecup kening Rea, dan begitu pula dengan Rea.
"Alhamdulillah kita kini telah sah menjadi pasangan suami istri sayang," kata Rehan dengan senang.
"Iya sayang," sahut Rea
Tiba-tiba kepala Rea berputar, sekelilingnya nampak berat dan
Bug
Rea pun menakjubkan dirinya untuk Rehan segera menangkapnya.
"Sayang kamu kenapa?" teriak Rehan dengan raut wajah yang panik begitu pula dengan teman-temannya
__ADS_1