
Ray yang kesal menyeret Rara keluar dari kantor, dia memasukkan Rara ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Ray nampak terdiam, "Pak, maafkan saya," kata Rara dengan raut wajah yang sudah tak karu-karuan.
Ray hanya menyunggingkan senyum kecil tanpa menatap Rara.
"Matilah aku," batin Rara
"Kira-kira aku dihukum apa?" Rara bermonolog dengan dirinya sendiri membayangkan berbagai hukuman yang akan diterimanya.
"Pak Ray jangan diam saja dong," ucap Rara
Ray menoleh dan menatap Rara dengan sorotan mata yang tidak biasa.
Sesampainya di apartemen, Rara enggan untuk turun dan ini membuat Ray kesal kesekian kalinya.
Dia menarik tubuh Rara lalu meletakkan Rara di atas pundaknya seperti para kuli dan membawa karung beras.
"Pak Ray turunkan," pinta Rara sambil menepuk-nepuk punggung Ray.
Setibanya di unit apartemen miliknya Ray segera masuk dan melemparkan Rara ke tempat tidur.
"Pak Ray mau apa?" tanya Rara
Ray melonggarkan dasinya lalu membuang jas nya, dia melepas sepatu miliknya lalu duduk di tepi ranjang dengan menatap Rara.
"Aku yang berbaik hati menunggumu bukanya memberi hadiah kamu malah mengerjai aku. Pertama kamu mencubit bibirku, kedua menarik rambutku, ketiga kabur, keempat membuat aku lari-lari mengejar kamu, kelima kamu hampir saja meracuni aku dengan gas beracun, dari banyaknya kesalahan yang kamu perbuat kira-kira apa aku bisa memaafkan kamu?" jelas Ray kemudian dia bertanya.
Rara hanya terdiam, kelihatannya dia telah salah mengerjai Ray.
"Jawab," ucap Ray dengan dingin.
Rara menggelengkan kepala, tanpa melihat Ray dia tak kuasa melihat Ray yang sedari tadi menatapnya.
Ray kini melepas bajunya sehingga otot seperti roti sobek terekspos sempurna.
Melihat Ray melepas bajunya membuat Rara memucat, "Pak Ray apa yang ingin anda lakukan, jangan pak, maafkan saya, ampuni saya," bujuk Rara
Rara mundur hingg kini dirinya membentur kepala ranjang.
Ray menarik kaki Rara, dan mengungkung Rara di bawahnya.
Tanpa aba-aba dia melahap bibir Rara, dengan satu tangannya mer3m45 bagian dada Rara.
__ADS_1
Rara berusaha melepaskan tangan Ray dari dadanya namun Ray segera mengunci tangan Rara dengan satu tangannya.
Tangan Ray melepas satu persatu kancing milik Rara, apa yang dilakukan Ray kini seperti Dejavu, persis seperti malam p4n4s saat itu.
Flasback
Malam itu, Ray yang sangat p4n4s langsung melahap bibir Rara, sedangkan tangannya melepas satu persatu kancing dress Rara, saat itu Rara memang mengenakan dress jeans dengan kancing depan dari atas sampai bawah.
Tangan Ray langsung saja masuk menyelinap masuk dalam dada Rara, dan ini membuat pemiliknya mengg3liat seperti cacing kepanasan.
Ray membuang semua yang penutup baju miliknya dan milik Rara, Ray yang belum pernah melakukan hal ini sebelumnya nampak ragu tapi panas tubuhnya tidak bisa dibendung lagi, kini dia bermain sejenak di pegunungan milik Rara, dan ini membuat pemiliknya m3nd354h penuh nikmat, Rara yang mengira Ray adalah Raka tentu menerima dengan senang hati. Pertama kalinya Raka melakukan pemanasan, bisanya dia langsung saja tusuk tanpa memperdulikan Rara kesakitan apa tidak.
Rara yang masih dikuasai obat tidur tentu tidak sadar kalau itu orang lain, namun dia cukup menikmati permainan Ray saat itu.
Berkali-kali dia dibuat lemas oleh Ray, berbeda dengan sebelumnya yang tidak pernah puas saat berhubungan dengan Raka karena Raka sangat egois.
Setelah mendapatkan pelepasannya, Ray memakai bajunya kembali, dia melihat wanita yang baru saja dikerjainya.
"Wanita ini tidur namun membalas semua pautan aku, dan dia selalu memanggil manggil nama seseorang, apa mungkin itu suaminya? apapun status kamu maafkan aku dan terima kasih sudah tidak menolak saat aku mengerjai kamu," kata Ray
Dia menyelimuti tubuh polos yang tertidur di sampingnya.
Ray mengelus lukisan senjanya di leher dan dada Rara.
"Aku berharap kita akan bertemu lagi," kata Ray lalu dia pergi meninggalkan kamar panas itu.
Flashback off
Ray ingin sekali melihat ekspresi Rara seperti saat itu.
"Aku ingin melihat ekspresi kamu seperti malam itu," kata Ray keceplosan.
"Malam kapan pak Ray?" tanya Rara dengan raut wajah yang menahan hasr4t gara-gara sentuhan Ray
"Ekspresi kamu saat aku cium," jawab Ray.
Ray kini melukis senja di leher Rara, dia meninggalkan banyak lukisan merah-merah di sana.
"Pak Ray jangan," pinta Rara
"Ini hukuman buat kamu," sahut Ray dengan suara yang berat.
Puas dengan leher Rara kini Ray melepaskannya, dia tidak ingin terlalu jauh, dia menghormati Rara dan kepercayaan yang Rara pegang teguh meski apa yang mereka lakukan saat ini sudah melenceng bahkan mendekati hal yang dilarang agama namun apa daya setan-setan selalu membisikan hal-hal yang berbau indah.
__ADS_1
Di sisi lain, Sheryl dan Riad bergulat layaknya pasangan suami istri, Sheryl dengan teganya menghianati Raka yang mencintainya, dia tergoyahkan dengan tampang menawan Riad dan kekayaaan yang ternyata itu adalah hoax.
Mendapatkan bentuk yang besar membuat Sheryl lebih puas.
"Mas Raka dari segi manapun kalah dengan Riad," batin Sheryl yang kini memeluk Riad yang tidur dengan polos.
Raka sangat marah, Sheryl sangat berbeda, biasanya dia sendiri yang menghubungi Raka dan selalu meminta Raka pulang cepat namun kali ini Sheryl tidak menghubungi dirinya sama sekali, bahkan panggilan darinya terabaikan.
"Kamu kenapa Sheryl," kata Raka dengan mengepalkan tangannya, dia merasa ada yang tidak beres.
*********
Keesokan harinya Rara menggunakan syal untuk menutupi leher yang merah-merah.
Dia malu jika bertemu dengan staf lainnya dengan leher yang penuh dengan lukisan senja dari Ray.
"Leher kamu kenapa Ra?" tanya Revan dengan terkekeh
"Pasti di gigit nyamuk kan? dan nyamuknya pasti segede aku," imbuh Revan
"Kurang gede pak, nyamuknya lebih besar dari pak Revan," sahut Rara.
"Wao wao, siapa nama nyamuknya?" tanya Revan dengan tertawa
"Bentar-bentar pasti Raymond kan?" Revan menawan pertanyaannya sendiri dengan tertawa.
Ray yang kebetulan baru datang sangat kesal dengan Revan yang pagi-pagi sudah menggoda Rara,
"Apa yang kamu lakukan Revan?" tanya Ray
"Ini pak mengobrol dengan Rara," jawab Revan
Ray kini mengajak Revan ke ruangannya, dia ingin membahas masalah Riad dan Sheryl karena semalam menurut laporan Revan, Riad telah berhasil tidur dengan Sheryl.
"Mudah sekali meniduri wanita itu," kata Ray
"Iya pak, bahkan yang menawarkan dirinya sendiri, Riad juga tidak menyangka Sheryl memberikan tubuhnya secepat ini padahal mereka baru dua hari kenal," sahut Revan
"Lebih cepat dari yang aku bayangkan," timpal Ray
"Kita lihat Raka, bagaimana rasanya dikhianati wanita yang kamu sayangi," ucap Ray dengan mengepalkan tangannya.
"Kehancuran kamu sudah di depan mata," imbuh Ray.
__ADS_1
"Benar pak," sahut Revan
"Suruh Riad mengajak Sheryl liburan ke luar negeri," titah Ray.