Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Dipikirkan


__ADS_3

"Lepas, woy dasar bajingan tengik," teriak Rara dengan menggigit tangan Ray.


Ray yang kesakitan memegangi tangannya yang digigit Rara.


"Atas dasar apa kamu menculik aku," teriak Rara yang membuat Ray memegangi dagu Rara.


Ray tertawa dengan keras dan ini membuat Rara merinding, bukan suara tawanya yang menyeramkan melainkan karena Rara kenal suara itu.


Perlahan Ray melepas maskernya,


"Tak kusangka kamu lupa dengan calon suami kamu sendiri," kata Ray


Rara yang kaget hanya bisa diam, tak disangka Ray tau kalau dia datang ke rumah Raka.


"Jadi apa urusan kamu datang ke jalan cinta blok rindu satu nomer 23," tanya Ray dengan memegangi dagu calon istrinya


Rara hanya terdiam, ingin sekali menjawab namun entah mengapa lidahnya sangat keluh karena pandangan Ray.


"Jawab! kenapa hanya diam saja," teriak Ray yang membuat Rara tersentak kaget.


Rara kini sungguh ketakutan, dia kini sungguh dilema, antara jujur atau tidak.


"Kalau kamu masih diam, bearti kamu ada apa-apa dengan Raka mantan suami kamu yang banci itu," kata Ray dengan sedikit menjauh.


Rara kini menangis,


"Tidak, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Raka, bagaimana bisa aku memiliki hubungan dengan pria lain sedangkan hatiku hanya untuk kamu," ucap Rara dengan pipi yang basah.


"lantas apa yang kamu lakukan dia rumah Raka?" tanya Ray.


"Aku hanya mencoba menolong Raka, dia gila karena Sheryl meninggalkannya," jawab Rara


"Bagaimana bisa kamu menolongnya, memangnya kamu psikiater," sahut Ray


"Bukan, tapi dia merespon kata-kata aku dan kata dokter ini baik untuk kesembuhannya, papa Raka meminta aku untuk menyempatkan diri supaya mengajak Raka mengobrol oleh karena itu, aku ke rumahnya," jelas Rara


"Bagaimana awalnya kamu berbicara dengan Raka?" tanya Ray


Rara kemudian menceritakan semua, dan Ray manggut-manggut dengan cerita Rara.


"Kalau aku tidak mengijinkan kamu mendatangi Raka lagi gimana?" tanya Ray


"Sayang, aku sudah berjanji dengan papa Raka untuk menolongnya. Kasian dia sudah tua," bujuk Rara

__ADS_1


Ray tertawa, dia sungguh tidak ikhlas sekali kalau Rara dijadikan alat untuk menyembuhkan Raka bagiamana pun juga, dialah yang membuat Raka gila kan lucu kalau kini Rara yang menyembuhkannya.


"Nggak, aku nggak setuju. Biar saja dia gila," kata Ray


"Inilah alasannya aku tidak memberitahu kamu sayang, pasti kamu tidak mengijinkan aku," sahut Rara.


Ray dan Rara sama-sama terdiam, baik Ray dan Rara sama-sama kesal. Satu merasa kesal karena dibohongi satunya kesal karena tidak diijinkan untuk membantu mantan papa mertuanya dan kini dia juga disekap oleh calon suaminya sendiri.


"Lepaskan aku," titah Rara


"Nggak, lebih baik kamu dalam keadaan terikat supaya nggak kemana-mana," sahut Ray


"Oh, jadi kamu nggak mau melepaskan aku, ok. Tapi aku nggak ingin nikah sama kamu," ancam Rara


Mendengar ancaman dari Rara membuat Ray marah,


"Apa! ingin membatalkan pernikahan kita," ucapnya dengan rahang yang mengeras.


"Kalau iya kenapa," sahut Rara


"Beraninya kamu, lalu apa yang telah kita jalani itu kamu anggap apa?" teriak Ray lalu dia menyambar bibir Rara,


Ray terus saja menikmati bibir Rara dengan rakus tak hanya bibirnya yang aktif bekerja tangannya juga.


Awalnya dia hanya diam namun lama-lama Rara membalas ciuman Ray dan ini membuat Ray tersenyum dalam hati.


Ray yang sudah kehabisan nafas melepaskan ciumannya.


Rara kini berpikir saat ini Ray jadi api, kalau dia ikut menjadi api maka bukannya padam malah justru banyak yang terbakar untuk itu, Rara mencoba menjadi air saat ini.


"Sayang maafkan aku," ucap Rara


"Apa harus aku terima," sahut Ray


"Begini sayang, coba deh kamu jadi aku. Meskipun Raka jahat kepada aku tapi papanya sangat menyayangiku, semua yang dilakukan saat itu untuk melindungi aku, dan sekarang dia menangis berlutut di depan aku memintaku untuk menolong anaknya apa menurut kamu aku bisa menolaknya? ungkap Rara


"Aku hanya kasian pada papanya bukan kasian pada Raka, mengertilah. Bagaimana pun juga Raka adalah anak satu-satunya, hanya Raka yang beliau miliki, jadi mengertilah sayang. Ijinkan aku membantunya sembuh. Lagian Sheryl itu tak tau diri sekali," imbuh Rara sambil menggerutu.


Ray hanya tersenyum kecut, bagaimanapun juga Raka dan Sheryl begitu karena ulahnya.


"Baiklah akan aku pikirkan, tergantung bagaimana kamu merayu aku," ucap Ray dengan tersenyum licik


"Baiklah tapi lepaskan dulu ikatan aku," pinta Rara.

__ADS_1


Ray segera melepaskan Rara dan setelah lepas mereka saling berpaut dan bergerilya kembali.


*************


Ken Steven yang harus menyiapkan pengangkatan Rara memutuskan kembali ke US malam ini juga, jet sudah disiapkan.


Ken datang ke rumah Rara untuk pamit namun Rara tidak ada di rumah. Meski nampak kecewa namun Ken tetap berangkat ke US.


"Hati-hati ya pa, Dua Minggu lagi kamu pulang ya. Karena nanti Aurora akan resmi jadi Presdir utama, atau Ratu di kerajaan RA Grup," pesan Papa Rea yang tak lain adalah Ken Steven


"Baik pa, Rea boleh kan mengajak Rehan?" tanya Rea


"Tentu," jawab papa


"Oh ya pa, Rea dengar Ray akan mualaf sebentar lagi, boleh kan Rea juga ikut muslim?" tanya Rea


Ken Steven tersenyum,


"Kamu sudah besar, kamu bisa melihat mana yang terbaik untuk kamu, papa hanya bisa mendokan. Jika memang kamu sudah yakin berpindah keyakinan ya silahkan sayang, papa setuju-setuju saja asal kamu tidak membuat mainan sebuah keyakinan, jangan seperti para artis yang membuat mainan keyakinan, gonta-ganti keyakinan tanpa ada rasa takut kepada Tuhan mereka," pesan papa.


"Rea yakin dengan mas Rehan pa, semoga dia bisa menuntun Rea jadi manusia yang lebih baik lagi," sahut Rea dengan tersenyum


Rea kini melambaikan tangannya pada papanya, setelah beberapa hari bersama papanya, membuatnya sedih saat papanya kembali ke US.


Rea yang bingung ingin ngapain memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karena Rehan ada jam jaga malam. Rencananya dia ingin menemani Rehan.


Setibanya di loby banyak yang menatap Rea apalagi Rea bertanya ruangan direktur kepada beberapa perawat di sana.


"Ada keperluan apa anda mencari Dokter Rehan?" tanya salah satu wanita yang memakai jas warna putih.


"Saya sudah ada janji dengan Dokter Rehan," jawab Rea


Dokter sedang sibuk, lebih baik kamu pulang dan jangan mengganggu Dokter Rehan.


Bola mata Rea memutar dan nampak sebuah ruangan dengan tulisan ruang direktur.


Rea meninggalkan dokter wanita tadi. Dia berjalan menuju ruangan Dokter Rehan.


"Hey kamu, bisa berhenti apa tidak?" teriak dokter muda tersebut.


Rea membalikkan badan dan menatap dokter wanita tersebut dengan lekat.


"Rehan itu calon suami aku, kenapa seolah kamu mempersulit aku untuk masuk ruangannya," ucap Rea

__ADS_1


__ADS_2