Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Demam


__ADS_3

Mendengar kata-kata Riad tentu membuat Sheryl terkesan, dia sungguh dibuat melayang oleh Riad bahkan kini dia yakin untuk meninggalkan Raka demi membangun hubungan yang serius dengan Riad, dia tak peduli lagi jika Raka akan kembali lagi ke Rara, toh dia kini sudah mendapatkan ikan paus yang jauh lebih besar dari ikan Tuna.


Saat Raka menikah dengan Rara dulu, Sheryl juga sakit hati karena harus berbagi Raka dengan Rara, meski Raka mencintainya namun Raka juga melakukan hubungan badan dengan Rara.


"Baiklah aku akan meninggalkannya demi kamu, asal kita secepatnya menikah, karena hampir setiap kita berhubungan kamu mengeluarkannya di dalam," kata Sheryl yang membuat Riad tersenyum bahagia, bukan bahagia telah mendapatkan Sheryl melainkan bahagia karena tugasnya akan segera selesai dan dia akan segera kembali lagi ke negara asalnya.


"Terima kasih, tentu kita akan menikah," ucap Riad lalu mengecup kening Sheryl sekilas.


Adegan panas terulang lagi, dia sungguh dibuat lemas oleh Riad tanpa Sheryl sadari dia tertidur saat Riad masih mengerjainya karena saking lelahnya.


Selama berhubungan dengan Sheryl Riad memang hampir selalu membuang benihnya dalam rahim Sheryl dia masa bodoh dengan Sheryl yang akan hamil toh sebentar lagi dia juga akan kembali ke Algeria.


Melihat Sheryl yang terlelap kini waktunya Riad melaporkan semua pada Revan bahwa Sheryl sudah bersedia untuk meninggalkan Raka dan ini tentu menjadi berita bagus untuk Ray.


Waktu kini menunjukkan pukul sebelas malam dan Rara telah tidur di bed tamu samping bed nya Ray.


Ray yang tidak bisa tidur berkali-kali menoleh ke arah Rara, berharap Rara bangun dan menemaninya, namun nafas Rara terlihat teratur sehingga sudah dipastikan kalau Rara tengah tidur nyenyak. Ray kini memiringkan tubuhnya, dia menatap Rara yang tengah tertidur.


Melihat lekuk tubuh Rara serta belahan yang kelihatan membuat Ray merasakan panas, dia sungguh gelisah tak menentu kini.


Aaarrrgggg


Kini Ray bangun dan mencabut infus yang menempel di tangannya.


Dia turun ke dari bed nya dan pindah ke bed dimana Rara tidur.


Tangannya memeluk tubuh Rara hingga Rara menggeliat dan mendorong Ray sehingga Ray jatuh ke lantai.


"Ah brengsek," umpatnya.


Rara tidur terlentang kini, dan tentu membuat Ray panas dan panas, dia berkali-kali memegangi tengkuknya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ray bermonolog dengan dirinya sendiri.


Apa dia harus meredam nafsongnya dengan sabun? atau berendam malam-malam yang mungkin besok bisa membuatnya sakit lagi?


Ray yang tidak kuat langsung saja mencium bibir Rara, tangannya juga mer3m45 apa yang bisa dir3m45 seperti bagian dada dan pantat.


Nafsongnya terus menggebu, mendapat serangan dari Ray membuat Rara membuka matanya dan betapa kagetnya dia saat bibirnya kini dalam kekuasaan bibir Ray, sehingga dia tidak bisa berteriak maupun berbicara, ingin menolak namun alam bawah sadarnya sudah merespon semua apa yang telah Ray lakukan sehingga pilihannya hanya menikmati setiap sentuhan yang Ray berikan.


Melakukan penyerangan terhadap Rara bukannya membuat panasnya mereda melainkan membuat panasnya semakin berkobar.


"Boleh aku melakukannya?" tanya Ray


Rara yang sadar tentu menolak keinginan Ray,


"Jangan pak, ingat dosa," jawab Rara.

__ADS_1


Ray kini menggigit kecil telinga Rara sambil berucap


"Aku sangat panas Ra."


"Solo karier saja pak," saran Rara


Ray yang sudah tidak bisa menahannya segera pergi ke kamar mandi, dia membayangkan malam panas sebelumnya saat bersama Rara.


Setelah cairan putihnya keluar, dia segera membersihkan diri.


Rara yang malu memilih berpura-pura tidur, sebenarnya dia sendiri menginginkannya namun dia masih sedikit memiliki iman.


Pura-pura tidur membawa Rara masuk ke alam mimpinya sungguhan, dan tak terasa pagi hari telah menyapa, Ray menggunakan selimutnya untuk menyelimuti Rara, karena bisa bahaya jika ada Rehan atau Revan yang masuk secara tiba-tiba.


"Pagi Ray," sapa Rehan yang ingin memeriksa Ray


"Pagi," sahut Ray lirih karena dia sedikit pusing.


"Kamu demam?" tanya Rehan yang sedikit panik


Rara yang mendengar suara Rehan segera bangun, tak lupa Rara mengunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Entah," sahut Ray


"Mungkin karena mandi malam-malam dok," sahut Rara yang asal jawab saja karena nyawanya belum kembali semua.


"Mandi? kenapa mandi malam-malam?" tanya Rehan


"Astaaga Ray, jangan bilang kalau kamu habis...."


Rehan menggantung kata-katanya, dia mengira kalau Ray dan Rara habis melakukan hubungan suami istri padahal yang sebenarnya Ray melakukannya dengan bantuan sabun dan tangannya sendiri.


"Sudah jangan berpikiran yang macam-macam, kapan aku boleh pulang?" tanya Ray dengan memijat pelipisnya.


"Melihat kondisi kamu yang demam, pulangnya besok saja," jawab Rehan


"Kamu yakin?" tanya Ray


"Iya, kan aku harus memantau keadaan kamu, tapi kalau kamu memaksa pulang ya gak papa," jawab Rehan


"Aku di sini saja," sahut Ray


Tentu Ray malah senang jika dia di rumah sakit itu tandanya Rara akan merawatnya.


Melihat Ray yang senyum-senyum sendiri membuat Rehan curiga, "Kenapa ni orang malah senyum-senyum sendiri, bisanya benci sekali menginap di rumah sakit," batin Rehan heran.


Tentu dengan dia di rumah sakit, dia bisa manja-manja pada Rara.

__ADS_1


"Sudah jangan curiga, tentu dia senang bukankah sekertaris kesayangannya ini yang merawatnya jika dia sakit," sahut Rehan yang kebetulan datang dari tadi namun dia keluar lagi karena harus memberi titah pada beberapa bodyguard.


Revan pagi ini juga membawa baju untuk Rara, karena mungkin Rara butuh baju ganti untuk pagi ini.


Setelah menerima baju dari Revan, Rara pergi mandi dan ganti baju.


"Revan kamu urusi keperluan kantor dulu," kata Ray


"Bagaimana dengan Rara pak, dia ikut saya atau di sini menemani anda?" tanya Revan pura-pura karena dia tau kalau Rara pasti dilarang ke kantor.


"Di sini," jawab Ray


Rehan dan Revan saling pandang, seakan mereka memikirkan hal yang sama.


Raka kini mengurusi bisnisnya yang baru dia bangun, dia sungguh senang sekali akan kemajuan bisnisnya yang semakin pesat dalam hitungan hari,


"Setahun ke depan, bisnis ini pasti berada di puncak," kata Raka.


Dia ingin membagi kebahagiaannya dengan Sheryl, bagaimanapun juga Sheryl turut andil dalam rencana menjebak Rara. Beberapa kali Raka mencoba menghubungi Sheryl namun tidak diangkat.


"Dari kemarin dia tidak menghubungi aku," gumam Raka.


Dia mencoba menghubungi Sheryl lagi dan akhirnya diangkat oleh Sheryl.


"Sayang, gimana di sana?" tanya Raka


"Baik," jawab Sheryl sedikit ketus


"Oh ya bisnis aku mengalami kemajuan pesat," kata Raka


"Ya bagus dong," sahut Sheryl.


"Kamu sudah mandi?" tanya Raka


"Belum," jawab Sherly


"Boleh ikut?" tanya Raka


"Nggak boleh," jawab Sheryl.


Raka nampak kecewa dengan penolakan Sheryl,


"Kenapa nggak boleh ikut? tanya Raka.


Sheryl belum sempat menjawab, Riad memeluknya dari belakang, dia membuka baju Sheryl, dan mulai menyusupkan wajahnya ke leher Sheryl.


Dan ini membuat Sherly sedikit mend354h, tentu Raka bisa mendengarnya dengan jelas. Sheryl segera memutuskan secara sepihak panggilan telponnya.

__ADS_1


"Sheryl, halo Sheryl." Raka memanggil manggil Sheryl namun tak ada sahutan dan saat melihat ponselnya ternyata sambungan telponnya putus.


"Dia kenapa tiba mend354h, apa jangan-jangan...."


__ADS_2