
Mama Ray yang melihat keromantisan Ray dan Rea tersenyum penuh kemenangan,
"Lihatlah Ra, sebentar lagi kamu akan menangis darah ketika Ray meninggalkan dirimu," ucap mama.
Mama Ray tidak sadar kalau saat ini dia lagi dikibuli oleh anaknya sendiri. Karena Ray dan Rea sudah setuju untuk itu dia meminta asistennya untuk menghubungi asisten pak Steven supaya segera datang ke Indonesia.
"Hubungi mereka Ryan, suruh secepatnya datang karena pertunangan secepatnya akan dipercepat supaya si rumput liar tidak datang mengusik," titah mama Ray.
"Baik nyonya secepatnya saya hubungi asisten pak Steven," sahut Ryan.
Kini Ryan meninggalkan atasannya di ruang tamu sendirian, dia segera melaksanakan titah yang ia terima.
Ray dalam kamarnya nampak senyum-senyum sendiri, dia tidak sabar melihat mamanya shock karena baik dia maupun Rea sudah memiliki pasangan.
Di depan umum dia dan Rea akan mengumumkan pasangan mereka masing-masing.
"Aku tidak sabar," gumam Ray.
Keesokannya, Rara mendapati Ray dan Rea diparkiran berdua. Dan ini membuat dirinya cukup sakit.
"Enak banget ya pagi-pagi sudah berduaan," batin Rara dengan melihat Ray dan Rea dari jauh.
Tak ingin melihat pemandangan yang menyesakkan hati, Rara masuk dan segera menuju ruangan Ray.
Dia menyalakan laptopnya dan segera bekerja.
Tak berselang lama Ray datang dengan wajah sumringah.
"Habis berduaan nampak sumringah sekali," batin Rara dengan melirik Ray
"Kelihatannya kamu menginginkan hukuman sayang," kata Ray saat tau Rara meliriknya.
"Ogah, males sekali dihukum sama kamu," sahut Rara
Ray tertawa, pagi-pagi wanitanya ketus sekali.
"Kamu lagi dapat ya? kok ketus sekali," tanya Ray
"Kalau iya kenapa?" tanya Rara balik
"Yes, jadi aku bisa menghukum kamu tanpa menunggu waktu berbuka," jawab Ray
"Ah, kenapa aku bilang, matilah aku. Pasti selama tujuh hari ke depan aku dihukum," batin Rara dengan menggigit bibirnya.
Ray datang mendekat,
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Rara
"Menghukum wanitaku karena bersikap ketus kepadaku," jawab Rara
"Aku nggak mau dihukum," ucap Rara
Ray tidak peduli, dia memegang tengkuk Rara dan mencium bibir Rara namun Rara menggigit bibir Ray sehingga Ray melepaskan ciumannya.
"Jangan menyentuh aku," maki Rara dengan mendorong tubuh Ray.
"Kamu kenapa sih!" protes Ray dengan kesakitan.
"Pikir saja sendiri," sahut Rara dengan ketus.
Ray hanya bisa menggaruk kepalanya, ada apa sebenarnya dengan kekasihnya tersebut. Tiada angin tiada hujan marah-marah tidak jelas. Kini bibirnya juga bengkak karena gigitan Rara.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Ray
Rara hanya diam dan menghela nafas, kemudian menatap Ray.
"Aku nggak suka kamu berduaan dengan Rea," jawab Rara
Mendengar jawaban Rara membuat Ray tertawa, dia tak menyangka kalau kekasihnya sedang cemburu.
"Kamu cemburu sayang," ucap Ray dengan tertawa.
Ray akhirnya memeluk Rara, dia mencoba menangkan wanitanya yang sedang cemburu.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu cemburu, tadi kami hanya mengobrol saja karena kebetulan kami datang terlalu pagi," kata Ray
"Bohong," sahut Rara tak percaya
"Astaga sayang, kamu kok nggak percaya sih sama aku," timpal Ray dengan ekspresi yang berubah.
"Yakin nggak bohong?" tanya Rara
"Sumpah aku nggak bohong sayang," jawab Ray.
Kini mereka berdua saling diam, hingga Ray mengeluarkan kata-katanya.
"Jadi aku sudah boleh kan memberi hukuman," kata Ray dengan tersenyum licik
"Nggak," sahut Rara
Ray melepaskan pelukannya dengan melemas.
__ADS_1
"Baiklah," ucapnya dengan pasrah.
************
Tiga hari berlalu dengan cepat, Rara dan Ray bersiap untuk pulang namun mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Nggak papa kan kamu pulang sendiri?" tanya Ray
"Nggak papa kok sayang, lagian aku juga mau ke rumah papa dan mama, mau buka puasa di sana," jawab Rara
"Kan nggak puasa," sahut Ray
"Kan aku ikut berbuka," timpal Rara dengan tertawa.
Hari ini Pak Steven datang dari US, rencananya nanti malam keluarga Ray akan mengadakan makan malam dengan pak Steven. Untuk itu Ray pulang ke rumahnya tanpa mengantar Rara terlebih dahulu karena dia harus bersiap menyambut kedatangan papa Rea.
Setibanya di rumah orang taunya nampak ada tamu,
"Oh ternyata ada tamu, siapa ya?" batin Rara dengan melangkahkan kaki menuju rumahnya.
Saat di depan pintu, mama Rara menyambut Rara.
"Rara sayang, ini kamu ditunggu paman," kata mama Rara
"Paman?" tanya Rara heran, paman siapa yang dimaksud mamanya.
"Iya, kamu sudah lupa, ini paman Steven yang dulu kadang kemari," jawab Papa Rara.
Rara memandang Steven dengan mengingat-ingat kembali dan akhirnya dia ingat.
"Paman Ken," teriak Rara.
Steven berdiri kemudian memeluk Rara,
"Kamu sudah besar Ra," ucap paman Steven.
"Iya paman," kata Rara
"Kamu sangat cantik sekali Ra, mirip sekali dengan mama kamu," puji Pak Steven.
"Ah paman ngaco, aku dan mama tidak mirip sama sekali, malah kak Riana yang mirip," protes Rara
Papa dan mama Rara tersenyum,
"Lihatlah Rena, anak kamu mirip sekali dengan kamu," batin Steven.
__ADS_1
"Sudah saatnya aku memberitahu semua kepadanya," imbuh Steven dalam hati.