Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Jadian


__ADS_3

Ray tersenyum puas mendengar kata cinta dari Rara. Bahagianya sungguh tak terkira ingin sekali dia berteriak untuk mengungkapkan rasa bahagianya.


"Kamu nggak lagi ngeprank aku kan?" tanya Ray


"Nggak pak, masa iya saya ngeprank pak Ray, ini tulus dari dalam hari saya," sahut Rara


"Kalau nggak percaya, belah saja dada saya pak, nampak merah hati suci tiada ternoda," imbuh Rara dengan terkekeh.


Ray kini membalikkan tubuhnya, dia langsung memeluk tubuh Rara.


"Terima kasih telah menyambut cintaku," bisik Ray.


"Terima kasih juga pak, kalau bukan karena pak Ray, saya tidak akan pernah tau kebusukan si ne Raka itu," sahut Rara.


"Sama-sama," timpal Ray.


Ray mengeratkan pelukannya, dia tidak menghiraukan setiap mata yang memandangnya.


Rara sungguh damai dalam pelukan Ray, hingga dari kejauhan orang tuanya yang melihat cukup bahagia, akhirnya Rara kini mendapatkan lelaki yang mencintainya.


"Semoga Nyonya dan Tuan mau memaafkan kita pa," kata Mama Rara


"Sudahlah ma, mereka sudah bahagia di sana," sahut papa Rara.


"Tapi kini mama bingung bagaimana meminta maaf pada Rara," ucap mama Rara


"Besok kalau sudah kondusif kita temui Rara," timpal papa Rara lalu mengajak istrinya pulang.


Revan juga melihat drama Rara dan Ray, dia turut bahagia karena kini Ray telah menemukan wanita yang membuatnya leleh, sebelumnya Revan sempat khawatir dengan Ray, karena jika Ray melajang selamanya dia merasa tidak enak jika menikah.


Tanpa Revan sadari tak jauh dari tempatnya ada Raya yang juga melihat Rara dan Ray.


"So sweet banget sih mereka," kata Raya.


Raya berharap Ray bisa menyayangi temannya dengan tulus tidak seperti Raka.


Revan yang mendengarnya berinisiatif untuk mendekat.


"Kamu teman Rara ya?" tanya Revan


"Iya pak," jawab Raya


"Ish jangan panggil pak dong, panggil saja mas biar lebih akrab," ucap Revan


"Baiklah mas, tapi ngomong-ngomong mas namanya siapa?" tanya Raya


"Aku Revan," jawab Revan, "Kalau kamu?" tanya Revan kemudian.

__ADS_1


"Aku Raya," jawab Raya


"Nama yang bagus," Puji Revan


"Makasih mas," sahut Raya.


Revan mengobrol asik bersama Raya, saat ingin meminta nomor telepon Raya, Ray memanggilnya dan ini membuat Revan kesal.


"Mengganggu kesenangan orang saja," kata Revan lalu dia segera menghampiri Ray yang sudah selesai drama peluk-pelukannya.


"Kamu kembali ke kantor, aku mau pergi dulu dengan Rara," titah Ray


"Kemana pak?" tanya Revan yang kepo


"Mau ikut?" tanya Ray balik dengan melemparkan tatapan mautnya.


"Nggak pak," sahut Revan dengan terkekeh.


Setelah kepergian Ray dan Rara, Revan berbalik, dia ingin kembali lagi ke tempatnya namun Raya sudah pergi.


"Ah ini semua gara-gara do Raymond itu, eh aku kok malah ikut-ikutan si Dora," ucap Revan dengan tertawa.


Ray dan Rara ingin merayakan hari jadian mereka.


Ray mengajak Rara untuk makan siang di Singapura, lalu untuk dinner mereka memutuskan ke Thailand sekalian melihat situasi negara gajah putih tersebut karena akhir-akhir ini Thailand lagi viral dengan kematian seorang artisnya yang tenggelam di sungai yang terkenal di negara tersebut.


"Sampai kapan kamu akan memanggil aku pak, kamu itu kekasih aku, jadi jangan panggil pak lagi," ucap Ray


"Harus panggil apa dong?" tanya Rara


"My love, my life, my everything, my...." jawab Ray namun dia menggantungkan katanya karena bingung dengan kelanjutannya.


Rara membolakan matanya, mana ada panggilan seperti itu, menurutnya itu lebay sekali.


"Apa-apaan itu, aku panggil mas saja," sahut Rara


"Nggak-nggak kurang romantis, wajahku kan blesteran US masa iya dipanggil mas," timpal Ray yang tidak terima dipanggil mas.


"Ya udah aku panggil sayang saja, fix no debat," kata Rara


Ray pun menyetujui panggilan sayang dari Rara, dia kini meminta ponsel Rara.


"Kenapa kamu menamai aku Do Raymond jutek," protes Ray yang kesal.


Rara hanya terkekeh, kan memang dulu Ray jutek sekali.


Ray kini mengganti namanya, dia menamainya dengan my beloved husband.

__ADS_1


"Kenapa menamainya my beloved husband, kan kita belum menikah," protes Rara


Ray menghela nafas karena Rara selalu saja protes dengan apa yang dilakukannya.


"Sudahlah jangan protes, aku juga menamai kamu my beloved wife," sahut Ray.


"Baiklah my beloved husband," timpal Rara dengan pasrah.


Kini mereka menuju Bandara dan bersiap untuk terbang ke Singapura.


Ray ingin sekali memanjakan Rara, inilah pertama kalinya Ray jadian dengan wanita jadi dia begitu bahagia.


Dia ingin segera melamar Rara dan segera menikah dengannya namun untuk menikah harus meminta restu orang tau Ray terlebih dahulu.


Setelah makan siang di Singapura, Ray dan Rara pergi berjalan-jalan mengitari kota Singapura, Rara sangat bahagia, dia tidak menyangka orang seperti Ray bisa juga hangat dan romantis.


"Aku tak menyangka orang yang sedingin dan sejutek dia bisa hangat dan lembut seperti ini, dia sangat tulus tidak seperti Raka si brengsek itu yang hanya berpura-pura tulus," batin Rara dengan tersenyum sambil menatap Ray yang duduk berseberangan dengannya.


Rara yang curi-curi pandang kini ketangkap basah karena Ray mengetahuinya "Apa kamu ingin segera mendapatkan hukuman dari aku?" tanya Ray dengan mengangkat dagu Rara


"Eh nggak kok sayang," jawab Rara mengelak.


"Sudahlah jangan mengelak," sahut Ray


"Aku sangat bahagia sayang," timpal Rara


"Aku juga, bahkan lebih," ucap Ray.


Setelah puas mengelilingi kota Singapura, mereka siap berangkat ke Thailand untuk makan malam, mereka memilih tempat sekitaran sungai chao Phraya sekalian menginap di hotel berbintang lima di sana.


"Siap-siap menerima hukuman kamu," bisik Ray


Rara yang mendengarnya jadi merinding, kini dia diantara senang dan bingung. Apa dia harus merelakan Ray membayar kontan dirinya tanpa Ijab-Qabul terlebih dulu? atau tetap bersikeras menjaga tubuhnya? namun yang pasti dia sangat berhasrat saat Ray menghukumnya.


Di sisi lain Papa Raka sungguh marah dengan Raka, untuk apa dia melawan Ray. Kalah ya kalah kenapa harus cari gara-gara.


"Kamu sendiri yang menulis kekalahan kamu saat kamu berlaku curang Raka," omel Papa


"Coba dulu kamu setia sama Rara, hidup kalian pasti akan makmur, bahagia dan tak kurang apapun. Tapi sayang cinta telah membuat kamu buta, kamu mengejar wanita seperti Sheryl. Ibaratnya kamu itu membuang batu Safir demi batu lintang, eh mending kalau batu lintang masih ada harganya Sheryl itu ibarat batu kerikil," imbuh Papa


"Tapi Sheryl nggak seperti yang papa pikirkan." Raka mencoba membela Sheryl.


"Dasar buta," sahut papa lalu keluar dari ruang perawatan Raka. Beliau sungguh kesal sekali dengan anak semata wayangnya.


Akibat bogeman Ray yang bertubi-tubi membuat Raka harus menjalani perawatan di rumah sakit.


Raka yang kepikiran Sheryl mencoba menghubunginya, dia melihat ponselnya dan Sheryl sekalipun tidak pernah mengubungi Raka.

__ADS_1


"Aneh, sama sekali tidak menghubungi aku,"


__ADS_2