Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Sah


__ADS_3

"Bolehkah aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya?" pinta Raka sambil menatap Rara dengan sendu.


Mata Rara berkaca saat Raka meminta pelukan padanya, Rara teringat saat dia masih menjadi istri Raka.


Setiap malam, Rara selalu menunggu Raka pulang kerja, hanya untuk kecupan dan pelukan dari Raka, namun setiap Rara ingin memeluknya Raka selalu bilang kalau badannya berkeringat dan kotor, jadi Rara dilarang untuk memeluknya.


"Bukannya dulu kamu selalu tidak mau memeluk aku mas," kata Rara


"Maafkan aku Ra, ampuni aku bila kini yang terkuak hanya perih dan membuat kamu sakit akan sikapku," ucap Raka


"Semua sudah berlalu, tidak usah minta maaf karena kini ada orang yang selalu memeluk aku, selalu menenangkan aku, selalu curi-curi pelukan aku jadi ya, is ok, im fine now," sahut Rara.


"Please Ra, ijinkan aku memeluk kamu," pinta Raka


Rara nampak berfikir, apa dia terima pelukan Raka atau menolaknya?


"Tapi tubuh aku bau Lo mas," sahut Rara


"Aku tak peduli," timpal Raka


Rara mengangguk, dan segera Raka memeluk Rara.


Raka menangis sambil terisak, kini setelah sembuh dia masuk dalam sebuah penyesalan yang teramat dalam, apa sebenarnya Raka telah mencintai Rara? hanya Raka yang tau.


Kini teringat jelas perlakuannya dulu, perlakuan yang tidak sepantasnya dilakuan oleh seorang suami pada istrinya.


Raka selalu menghindar saat Rara memeluknya, saat berhubungan dia selalu membayangkan wajah Sheryl dan agar tidak melihat wajah Rara, Raka selalu mematikan lampu.


"Maafkan sikap aku Ra, maafkan aku," katanya sambil memeluk Rara dengan erat.


"Iya mas, yang penting sekarang kita fokus ke depan, kamu juga fokus dengan kesembuhan kamu dan jangan buat papa sedih. kasian udah tua," pesan Rara.


"Makasih Ra, kamu sungguh baik sekali. Menyesal aku tidak menuruti kata papa dulu. Memang benar kamu jauh lebih baik dari Sheryl. Dia tidak tulus mencintai aku, dia tega meninggalkan aku hanya si laki-laki yang baru dia kenal," ungkap Raka.


"Sudahlah mas, ikhlaskan semua berdamai lah dengan dirimu sendiri, mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk kamu," sahut Rara


"Tuhan itu masih sayang kepada kamu, jadi jangan sia-siakan hidayah Tuhan mas dan pengalaman lalu jadikan pelajaran karena guru yang paling top itu adalah pengalaman," imbuh Rara lalu melepas pelukan Raka


Raka nampak tersenyum, betapa baiknya wanita yang berada di depannya, kenapa dulu dia tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusannya.


"Ya sudah mas, aku pulang dulu ya. Besok jangan lupa datang. Awas kalau nggak datang." Rara pamit dengan mengancam Raka. Dan ini membuat Raka tersenyum.

__ADS_1


"Aku pasti datang, mana mungkin aku melewatkan momen penting wanita yang telah menjadi bagian dari hidupku," ucap Raka.


Rara nampak tersenyum, kemudian dia membalikan badan, dan ternyata papa telah berdiri di ambang pintu dengan menangis.


"Andaikan kamu dulu menurut dengan papa Raka, pasti kini kamu sudah memiliki anak dengan Rara," ucap papa.


"Manusia hanya bisa berencana pa, tapi tetap Tuhan yang menentukan. Mungkin sampai di sinilah perjodohan Rara dan mas Raka," sahut Rara


"Ya sudah pa, Rara pamit. Besok datang ya pa. Lihat dan hadiri momen penting anak perempuan papa ini menikah untuk yang terakhir kalinya," ucap Rara lalu dia mencium punggung tangan mantan papa mertuanya lalu pergi.


Raka hanya bisa menyesali perbuatannya, cinta buta pada Sheryl membuatnya mengabaikan cinta halal pada Rara. Cinta yang tidak dia sadari, yang lebih parahnya dia telah menyakiti wanita yang seharusnya dia cintai dan sayangi.


Namun sudahlah nasi telah menjadi bubur, yang bisa dilakukan kini adalah berdamai dengan diri sendiri, berusaha berubah dan menjadi lebih baik lagi. Ibarat pepatah tentu tidak mungkin merubah bubur menjadi nasi kembali, yang bisa dilakukan bagaimana caranya, supaya bubur ini menjadi bubur yang nikmat sehingga saat kita memakannya kita merasakan nikmatnya sebuah bubur.


***********


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, semalam baik orang tua Rara maupun Ray sepakat kalau pernikahan diadakan di rumah Rara.


Ray yang sudah tidak sabar datang satu jam lebih awal, dia sungguh ingin sekali segera sah.


"Tu lihat calon istri kamu masih dirias," ucap mama yang kesal dengan Ray yang seperti bocah kecil


"Kan namanya juga tidak sabar ma. Dari semalam Ray malah nggak tidur karena nunggu momen ini," sahut Ray


"Pastilah mirip aku kan memang dia putraku, kalau mirip orang lain itu yang tanda tanya," sahut papa Ray


Satu jam telah berlalu, kini Rara keluar.


Ray hampir tidak berkedip melihat calon istrinya yang sangat cantik.


"Astaga, cantik sekali bidadari aku," puji Ray


"Gombal," sahut Rara tidak percaya.


"Lihatlah dirimu, artis Angelina Jolie saja kalah cantik," timpal Ray


Rara yang gemas mencubit perut Ray, dan ini membuat Ray berpura-pura kesakitan padahal cubitan Rara tidak sakit sama sekali.


Ray dan Rara nampak bahagia sehingga ini membuat mata Raka membasah.


Lagi-lagi rasa penyesalan datang dan menyeruak masuk ke dalam diri Raka.

__ADS_1


"Hanya satu harapanku Ra, semoga kamu berbahagia," ucap Raka.


Kini pak penghulu telah datang dengan wali hakim, mereka kini menyiapkan buku nikah Ray dan Rara. Dan setelah usai kini tiba saatnya untuk melangsungkan Ijab-Qabul.


Pak penghulu segera mengucapkan Ijab dan Ray segera menerimanya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rara binti almarhum Rayan dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan berlian lengkap serta uang sebesar Tujuh milyar dibayar tunai," ucap Ray dengan lantang.


Sah


sah


Sah


Semua orang berteriak kata sah yang artinya kini Ray dan Rara sah menjadi suami istri.


Semua tamu berkumpul untuk memberikan selamat pada mempelai.


"Selamat ya Ray dan Rara, akhirnya menikah," kata Rehan


"Iya, makasih ya pak Dokter," sahut Rara


"Tunangannya duluan kami namun nikahnya duluan kalian," ucap Rea


Kini Revan dan Raya ikut bergabung.


"Hey Ra, selamat ya," kata Raya


"Hay Raya makasih ya udah datang," sahut Rara


"Akhirnya bisa MP juga, dan sudah bisa dibayar kontan," timpal Revan


Semua tamu kini mengucapkan selamat untuk Ray dan Rara, hingga yang terakhir adalah Raka.


"Selamat ya Ra dan Ray. Semoga kalian langgeng sampai ajal memisahkan kalian," doa Raka


"Makasih Raka," ucap Ray


"Terima kasih telah membuang berlian sehingga aku bisa memungutnya," bisik Ray dengan tersenyum.


Raka nampak kesal namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum.

__ADS_1


Kini Raka bergabung dengan papa serta mama dan papa Raka, tak ketinggalan mama dan Papa Ray.


"Siapkan fisik kamu malam ini sayang, karena aku akan menjelajah gunung kembar dan hutan terlarang milik kamu," bisik Ray


__ADS_2