
"Beraninya kamu mempermainkan aku," umpat Rara lalu Rara keluar restoran yang ingin tutup.
Di sisi lain Rey menunggu Rehan memeriksa Rea.
"Rehan kamu urus dia, aku tinggal dulu karena aku ada janji dengan Rara," kata Ray lalu pergi begitu saja meninggalkan Rea dan Rehan.
"Hey, kok bisa kamu meninggalkan aku Ray," teriak Rehan yang kesal, bagaimana bisa Ray meninggalkannya. Rehan juga kesal karena ternyata pasiennya berpura-pura pingsan.
"Bangunlah Ray sudah pergi," kata Rehan
Rea mengerutkan alisnya, siapa yang berbicara padanya?
Perlahan Rea membuka matanya, nampak pemuda dengan jas warna putih serta stetoskop di lehernya.
"Kamu dokter?" tanya Rea
"Bukan, aku pilot," jawab Rehan.
Rea mencibirkan bibir, "Sungguh terlihat jelas kalau kamu ini dokter kenapa bilang pilot?" tanya Rea
"Sudah tau kalau aku dokter kenapa masih bertanya?" tanya Rehan balik
Rea menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
"Jadi kenapa kamu pura-pura pingsan?" tanya Rehan
Rea nampak terdiam karena dia ketahuan berbohong.
"Jangan bilang pada Ray ya?" pinta Rea
"Baiklah namun ada syaratnya," sahut Rehan
"Apa syaratnya?" tanya Rea
"Traktir aku makan malam besok" jawab Rehan
Rea kesal sekali kenapa Rehan meminta syarat seperti itu.
"Kenapa harus makan malam?" protes Rea
"Apa kamu tidak lihat kerugian yang aku alami karena ulah kamu, aku harus kesini saat jam istirahat dan juga lihatlah aku ditinggal sendiri oleh Ray," sahut Rehan.
"Baiklah dokter Rehan," timpal Rea
"Tau nama aku?" tanya Rehan
"Tu," Rea menunjuk bros nama yang menempel di jas milik Rehan.
"Oh," sahut Rehan lalu dia pamit.
"Aku pamit, aku nggak ngasih kamu obat apa-apa karena kamu hanya pura-pura," kata Rehan lalu keluar.
Rea sungguh kesal karena Ray meninggalkannya, sepanjang perjalanan Ray nampak cemas, kenapa dia bisa seceroboh ini, ponsel mati sampai dia nggak tau.
Setibanya di restoran nampak restoran sudah tutup, dia memutar bola matanya mencari Rara namun tentu Rara sudah pulang.
Ray segera ke apartemen Rara, dia langsung membuka pintu dan masuk.
__ADS_1
Saat hendak masuk kamar Rara, ternyata kamar terkunci.
Ray mengetuk pintu dan memanggil manggil nama Rara namun Rara enggan untuk membukanya.
"Dia pasti marah," gumam Ray
Ray mengetuk pintu lagi, karena tidak direspon Rara ingin mendobrak pintu kamar Rara namun saat dia mengambil ancang dan menabrakkan tubuhnya tiba-tiba Rara membuka pintu dan tentu ini membuat Ray masuk dan terjatuh.
Rara hanya menatapnya sinis tanpa ingin membantu Ray.
"Sakit?" tanya Rara
"Sakit," jawab Ray
"Syukurlah kalau masih bisa merasakan sakit," sahut Rara.
Ray kini mendekati Rara, dia ingin meminta maaf pada Rara karena tadi mengingkari janjinya.
"Maafkan aku," kata Ray dengan menyesal
"Nggak ada yang perlu dimaafkan," ucap Rara
"Aku tau kamu marah," sahut Ray
"Hanya menunggu sampai restoran tutup kenapa harus marah?" Rara menjawab pertanyaan Ray dengan penuh penekanan.
"Sayang kamu boleh menghukum aku," kata Ray
"Lari mengitari apartemen ini seratus kali," ucap Rara
"Pulanglah," suruh Rara
"Mana mungkin aku pulang jika belum mendapat maaf dari kamu," kata Ray dengan memelaskan diri.
Rara sungguh kesal dengan Ray, dia menyilangkan kedua tangannya lalu duduk di sofa.
Ray ikut menyusul lalu duduk di sofa.
"Asal kamu tau aku menunggu kamu di restoran, setiap ada yang datang aku menoleh berharap itu kamu, aku menghubungi kamu namun ponsel tidak aktif, berkali-kali beranjak ingin pulang tapi aku duduk kembali takut kalau kamu datang dan tidak menjumpai aku," kata Rara dengan mata yang basah.
"Bayangkan, betapa kesalnya aku. Berkali-kali pelayan menghampiri aku bertanya pesan apa, pesan apa. Aku seperti orang yang bodoh yang menunggu orang yang tidak mungkin datang," imbuh Rara.
"Maafkan aku, tadi saat aku ingin berangkat Rea pingsan sehingga aku menungguinya sampai Rehan datang, dan saat perjalanan ada sedikit kendala di jalan," ucap Ray.
Rara nampak tersenyum, "Jadi alasan kamu mengingkari janji adalah karena Rea," timpal Rara dengan air mata yang jatuh.
Entah mengapa Rara sangat sakit mengetahui alasan Ray mengingkari janjinya.
"Sayang maafkan aku," ucap Ray.
"Apa dia tinggal di rumah kamu?" tanya Rara
"Iya," jawab Ray
"Dia tamu mama, jadi mama menyuruhnya untuk tinggal di sana," imbuh Ray
"Hubunganku dengan mas Raka kandas karena ada Sheryl, dan sekarang Rea mau merusaknya juga," sahut Rara
__ADS_1
"Suruh dia keluar dari rumah kamu," pinta Rara
"Baiklah aku akan bicara padanya," kata Ray
Rara dan Ray nampak terdiam, "Pulanglah," kata Rara lalu dia naik ke tempat tidur.
Rara memejamkan matanya, meski marah namun dia berharap Ray ikut naik di tempat tidur dan memeluknya namun sepertinya itu nggak terjadi, Ray lebih memilih keluar kamar dan pulang.
Sesampainya di rumah Ray segera ke kamarnya, dia membuang jaketnya ke tempat tidur lalu dia merebahkan diri.
"Maafkan aku," gumamnya dengan memejamkan mata dan terlelap.
Keesokannya Rea sudah menunggu Ray di meja makan, saat Ray datang Rea menarikan kursi untuk Ray, tapi Ray malah memilih tempat lain dan menarik kursi sendiri.
"Rea, kita ini hanya teman jadi jangan berlebihan. Aku bisa menarik kursi sendiri," kata Ray lalu dia mengambil makananannya sendiri.
"Oh ya, kan mama tidak ada di sini, tentu tinggal seatap tidak baik untuk kita mengingat kita ini berlawan jenis," kata Ray yang membuat Rea tersedak.
"Tapi mama kamu meminta aku untuk tinggal di sini Ray," sahut Rea lalu mengambil minum.
"Tapi mama nggak ada, aku takut kalau timbul fitnah diantara kita," timpal Ray
"Baiklah kalau begitu, asal nanti siang kamu menemani aku cari apartemen," kata Rea
"Nggak perlu, biar Revan yang mencarikan apartemen buat kamu," sahut Ray.
"Tapi...." belum sempat melanjutkan kata-katanya, Ray sudah menyela.
"Sudahlah Rea, kamu tinggal duduk manis, semua akan beres kenapa kamu ribet sekali," sela Ray
Rea nampak terdiam, apa ini karena Rara yang memintanya untuk pergi dari rumah Ray?
Ray segera menghabiskan makanannya lalu dia pergi meninggalkan Rea di tempat makan.
Setelah makan, Rea mengambil tas miliknya kemudian berangkat dengan diantar sopir keluarga Ray.
Sepanjang perjalanan Rea nampak befikir, apa dia menyerah saja dan pulang? atau berlanjut sesuai keinginan mama Ray?
Rea kini telah sampai di kantor, saat hendak masuk kebetulan Rara juga baru sampai.
"Ra," panggil Rea
Rara menoleh dan tersenyum sinis,
"Ada apa?" tanya Rara
"Aku ingin bicara sebentar," jawab Rea.
"Bicaralah," sahut Rara
"Kamu tau kan, aku dan Ray telah dijodohkan oleh Tante Raina," kata Rea
"Iya, lantas?" tanya Rara
"Apa kamu meminta aku untuk meninggalkan Ray? dan merelakan dia untukmu????
jangan mimpi!!!" imbuh Rara.
__ADS_1