
"Aku sudah tidak tahan sayang, please?" pinta Ray dengan suara yang berat bahkan dibalik handuk kimono yang ia kenakan sebuah benda keras tak sabar untuk masuk ke dalam lubang kenikmatan.
"Tapi aku takut dosa sayang," kata Rara
"Tapi aku sudah nggak tahan sayang, nanti kita sama-sama minta maaf pada Tuhan karena telah melakukan dosa," bujuk Ray
"Tapi sayang." Ray langsung saja melahap bibir Rara.
Dia tidak ingin Rara menolaknya.
Tangan Ray sudah kemana-mana, bahkan Rara sendiri sudah menggeliat, dari bahasa tubuh Rara nampak dia juga menginginkan Ray melakukan lebih.
"Aku buka ya?" tanya Ray
"Jangan sayang," jawab Rara.
"Aaarrrgggggg, sayang sayang. kenapa sih nggak boleh," protes Ray yang kesal.
"Kan memang nggak boleh kan sayang," sahut Rara
"Lihatlah sudah menegak, ini gimana membuatnya tidur," kata Ray dengan raut wajah yang berubah.
Dia sungguh tersiksa dengan berdirinya benda tumpul miliknya.
"Solo karier sayang." Rara mencoba memberi solusi
"Nggak, masa iya aku main ma sabun. Aku pengennya main sama kamu," sahut Ray.
Rara melihat kekasihnya dengan tatapan yang tidak tega, dia kini sungguh bingung.
"Ya udah sayang, tapi baju nggak usah dibuka, aku dulu ya gitu, dia hanya menggesek itunya ke itu aku tanpa dimasukkan," jelas Rara
"Baiklah," sahut Ray setuju.
Kini Ray mengungkung tubuh Rara, dia memulai lagi kegiatan panasnya.
"Aku buka ya," tanya Rara
"Sayang kamu tu kalau mau buka ya buka saja, kalau bertanya pasti aku jawabnya jangan, perasaan malam itu ahli sekali kenapa sekarang tanya mulu," jawab Rara
Ray kini membuka kancing baju Rara, dia juga melepas pengait beeeraa Rara.
"Oh sayang, indah sekali," kata Ray yang tanpa aba melahap pucuk dua pegunungan kembar milik Rara.
Rara mend333s444h penuh nikmat, rasanya iman Rara mau roboh.
"Aku sangat suka ekspresi kamu sayang," kata Ray dengan menatap nanar wanitanya tersebut.
Ray kini mulai menggesekkan miliknya ke bagian bawah Rara.
Rasanya memang tidak nikmat, namun setelah terus menggesek dia mendapatkan pelepasannya juga. Begitu pula dengan Rara, lama tidak disentuh membuatnya dengan cepat mendapatkan pelepasan meskipun hanya digesek tanpa membuka penutupnya.
Ray segera pergi ke kamar mandi, karena darah putihnya keluar di handuk yang dia kenakan.
Kini baik Rara dan Ray sudah siap untuk sarapan kemudian check out.
__ADS_1
"Jadi besok kalau pengen kita ulang lagi ya?" kata Ray
"Sebaiknya kita secepatnya menikah sayang," sahut Rara
"Pasti kalau itu," timpal Ray.
Sesuai makan Rara dan Ray check out lalu mereka pulang. Ray kini nampak rileks karena hasratnya sudah tersalurkan.
Di sisi lain, Raka sudah diperbolehkan pulang. Papa Raka rencananya ingin mengumpulkan Rara dan keluarganya untuk membahas warisannya.
Yang rencananya papa Raka akan memberikannya pada Rara sebesar lima puluh persen jikalau dinominalkan sebesar seratus milyar namun kebanyakan warisan Raka berupa tanah, hotel dan juga villa. Papa Raka sengaja tidak memberi warisan yang berupa bisnisnya karena itu sumber pendapatan keluarganya.
Beliau juga akan menjual sahamnya untuk keperluan sosial. Jadi yang tersisa nanti hanya rumah yang dia tempati dengan Raka, beberapa mobil dan juga satu induk bisnis keluarganya.
Untuk aset yang ada di luar negeri itu milik almarhum ibunda Raka.
"Pa jangan dijual pa, biar Raka yang mengelolanya," kata Raka tidak setuju
"Apa kamu tidak ingat perjanjian pra nikah dulu Raka, ini saja papa masih berbaik hati padamu dengan memperbolehkan kamu tinggal di rumah ini dan masih memberi kamu mobil," sahut papa Raka
"Apa kamu lupa dengan perbuatan kamu pada Rara, saat di usir oleh mama dan papanya, dia tidak membawa apa-apa, dan nggak kebayang nasibnya saat itu," imbuh papa Raka
"Raka sangat menyesal pa," kata Raka
"Percuma, menyesal kamu tak berguna saat ini!" bentak papa Raka
Papa Raka mencoba menghubungi Rara namun ponselnya tidak aktif sehingga beliau mengirim pesan sehingga nanti saat Rara mengaktifkan ponselnya, dia akan membaca pesan yang papa Raka kirim.
Selama beberapa jam di burung besi kini Rara dan Ray segera pulang. Mereka off dulu karena mereka lelah.
"Sayang, nanti aku ke rumah papa, karena beliau ingin membahas warisan," kata Rara
"Aku ikut," sahut Ray
"Nggak usah sayang, kan ini masalah aku dengan mereka," ucap Rara
"Kalau mereka menyakiti kamu bagaimana?" tanya Ray
"Nggak nggak sayang, takut kamu itu berlebihan. Aku bisa jaga diri kok," jawab Rara.
"Kalau mereka menyakiti kamu, aku tak segan membunuh mereka," ucap Ray.
Rara menatap Ray dengan tersenyum, dia sungguh bahagia memiliki Ray dalam hidupnya.
"Tuhan sungguh sayang padaku, aku malu yang terkadang terlalu banyak mengeluh. Seharusnya aku mengikuti alur yang ditakdirkan Tuhan untukku karena semua itu akan indah pada waktunya," batin Rara yang kini melemparkan tatapannya ke luar jendela.
Setelah mengantar Rara, Ray pulang ke rumahnya, Rara kini istirahat sambil ngerumpi di grup chat miliknya.
"Cie yang baru jadian," goda Raya
"Apaan sih Raya," sahut Rara
Berapa teman Rara juga ikut nimbrung, mereka semua kini malah asik ngerumpi dia grup chat.
Tak terasa waktu kini menunjukkan pukul empat sore, Rara bersiap untuk pergi ke rumah Papa Raka.
__ADS_1
Dia kesana dengan menggunakan jasa taxi online saat Rara masuk, dia seolah mengalami Dejavu, momen saat dia ke rumah Raka untuk pertama kalinya.
"Aku tak menyangka seperti ini nasib pernikahan aku," batin Rara lalu duduk.
Di sana sudah ada orang tuanya, Raka dan juga papa Raka.
"Rara," panggil mamanya
Rara hanya diam dia masih teringat akan kekejaman orang tuanya saat itu.
Mama Rara menghampiri Rara dan memeluknya.
"Maafkan mama," kata Mama dengan menangis.
"Sudahlah ma, semua sudah terjadi. Nggak ada yang perlu dimaafkan," kata Rara tanpa menerima pelukan dari mamanya.
Mama Rara sangat sedih karena anak mereka tidak mau memaafkannya.
"Ra, papa tau ini berat untuk kamu, semua ini memang anak ini yang menjadi biang keroknya, dia telah berhasil memecah keluarga kita. Untuk itu papa mohon maafkan mama dan papa kamu," kata papa Raka
"Semua masih menyakitkan untuk Rara pa, bahkan Rara sampai berfikir Rara ini anak mereka apa bukan," sahut Rara
"Tentu saja kami orang tua kamu sayang," timpal papa
Rara hanya terdiam. Apa dia memaafkan saja orang tuanya atau menyimpan dendam.
"Papa mohon Ra," kata papa dengan memohon.
"Hanya ini yang bisa papa lakukan untuk memperbaiki kesalahan anak brengsek ini," imbuh Papa
"Baiklah, baiklah," sahut Rara.
Mama dan papa Rara langsung memeluk anaknya.
"Terima kasih," ucap mereka barengan.
Setelah usai berdrama, kini mereka ke intinya. Rara diminta tanda tangan begitu pula Raka.
Papa Raka meminta pengacaranya untuk membalik semua aset dengan nama Rara.
Raka yang tidak terima memilih pergi, tanpa berkata apa-apa.
Papa Raka hanya bisa menggelengkan kepala, heran dengan sikap anak semata wayangnya. Entah apa kesalahan di masa lalunya hingga memiliki anak seperti rubah.
Karena urusan sudah selesai Rara pamit untuk pulang begitu dengan orang tuanya, mereka meminta Rara untuk pulang ke rumah.
Sebenarnya Rara enggan namun karena mereka memaksa jadi Rara akhirnya mau nggak mau ikut pulang bersama mereka.
Saat hendak masuk mobil, terdengar seseorang melarang Rara untuk ikut.
"Siapa yang mengijinkan kalian untuk membawa wanitaku,"
Malam kak...
Untuk pemenang komen aku umumin nanti part selanjutnya ya.
__ADS_1
maksih😘😘😘😘