Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Jebakan Nikmat


__ADS_3

"Nanti datanglah ke rumah aku, ada tugas penting untuk kamu," kata Ray dari sambungan telponnya.


"Tugas apa Ray?" tanya Rehan penasaran.


"Udah jangan banyak tanya, enak-enak tugasnya bahkan mungkin setelahnya kamu akan berterima kasih kepada aku," jawab Ray.


Tut


Tut


Tut


Ray mengakhiri panggilan telponnya secara sepihak sehingga membuat Rehan bingung. Kira-kira tugas apa? kenapa setelahnya dia berterima kasih pada Ray? beragam pertanyaan singgah di kepala Rehan.


Dengan perut yang kenyang sehabis berbuka puasa, Rehan segera datang ke rumah Ray.


Ray dan Rea makan bersama di meja makan, sedangkan mama Ray di kamarnya, karena disiram air oleh mama Rara tadi membuatnya tidak enak badan.


"Mama mana?" tanya Ray


"Tante Raina ada di kamarnya, beliau sedang tidak enak badan," jawab Rea.


Ray berkekspresi datar, dia tidak sedih saat mendengar mamanya tidak enak badan, bahkan dia senang karena nanti, Rehan bisa leluasa bermain dengan Rea.


"Ray berpura-pura meminum kopinya namun sebenarnya dia tidak meminumnya sama sekali.


Drama pun dimulai.


Beberapa menit seusai berpura-pura meminum kopinya Ray mengusap tengkuknya seolah dia merasakan panas yang luar biasa.


"Ada apa dengan tubuhku? kenapa panas sekali?" gumam Ray dengan terus mendeeeesassaaaaaah.


Rea tersenyum licik, "Yes, malam ini kamu milikku Ray, Rara good bye," batin Rea dengan berpura-pura bertanya.


"Kamu kenapa Ray?" tanya Rea


"Entah, tiba-tiba aku merasa panas dan aku tidak tahan," jawab Ray


Ray beranjak dan ingin pergi,


"Mau kemana Ray?" tanya Rea lagi


"Ke ruang kerja, badanku panas sekali. Tolong bawakan kopi aku," jawab Ray lalu dia sedikit berlari saat menaiki tangga.


Dengan menoleh sedikit ke bawah Ray menyunggingkan senyuman miringnya.


"Kena kau," batin Ray.

__ADS_1


Rea mengambil kopi Ray, dan melihat isinya.


"Astaga obat ini mujarab sekali, padahal Ray baru meminumnya dikit tapi efeknya langsung terasa," batin Rea lalu dia segera menyusul Ray ke ruang kerjanya.


Saat masuk, Ray sudah melepas bajunya sehingga terlihat ototnya yang seperti roti sobek.


Rea melongo melihat Ray, tak terasa dia menelan ludahnya. Tak sabar ingin dikerjai Ray.


"Kemari lah Rea," kata Ray dengan melambaikan tangannya.


Rea mendekat dengan senyum kemenangan, dia meletakkan kopi Ray di atas meja.


"Kenapa badanku panas sekali Rea?" tanya Ray dengan berbisik.


"Apa ada sesuatu di dalam kopi ini?" tanya Ray


"Tentu ada gula dan kopinya Ray," jawab Rea gugup


"Kalau begitu coba kamu minum, biar kita sama-sama panas," titah Ray.


Tanpa pikir panjang Rea langsung meminumnya,


"Habiskan," bisik Ray


Rea pun menghabiskan semuanya, dan Ray tersenyum miring.


Rea merasakan panas yang luar biasa,


"Ray kenapa kamu memakai baju kamu kembali?" tanya Rea


"Karena aku kedinginan, suhu AC nya terlalu rendah" jawab Ray


"Katanya kamu kepanasan," ucap Rea dengan terus mengusap tengkuknya.


"Cuma panas biasa, asal kamu tau aku tidak meminum kopi itu," bisik Ray


Rea membolakan matanya, dia tidak percaya kalau Ray telah membodohi dirinya.


Kini jebakan untuk Ray malah kena dirinya sendiri, dan tubuh Rea semakin panas dan panas.


Tak berselang lama datanglah Rehan,


"Hay Rehan, kamu akhirnya sudah datang," sapa Ray


"Ada apa Ray?" tanya Rehan


"Nih Rea, sedang sakit panas. Coba kamu periksa," jawab Ray

__ADS_1


Rehan yang belum tau apa-apa, memutar bola matanya dan menyentuh dahi Rea namun suhu tubuhnya normal.


Mendapatkan sentuhan dari Rahan membuat Rea semakin panas.


"Periksa dia di kamarnya Rehan, nanti kamu akan tau penyakitnya," titah Ray


"Ray, kamu apa-apaan!" teriak Rea


"Sudahlah Rea yang penting kamu sembuh dulu, daripada racunnya semakin parah dan mengancam diri kamu," ucap Ray yang membuat bingung dokter Rehan. Sebenarnya ada apa?


Mau nggak mau Rea membawa dokter Rehan untuk ke kamarnya.


Setelah di kamarnya, Rea segera membuka bajunya tentu Rehan sedikit shock.


"Apa yang kamu lakukan Rea?" tanya Rehan gugup karena kini Rea hanya memakai pakaian dalam saja.


"Tolong aku dokter Rehan," pinta Rea


Tanpa aba-aba Rea menarik dan sedikit melempar Rehan di tempat tidur.


Posisi Rehan yang terlentang di tempat tidur tentu membuat Rea dengan mudah naik ke atas tubuh dokter Rehan.


"OMG, seketika dia berdiri, saat sebuah sarang berada di atasnya," batin Dokter Rehan.


Rea langsung saja mencium bibir Dokter Rehan dengan rakus bahkan dia menuntun tangan Rehan ke dadanya.


"Shiiittt kenyal sekali," batin Rehan saat tangannya mencoba berkelana di pengunungan Rea.


"OMG Rea, apa yang kamu lakukan?" tanya Rehan setalah pautan mereka terlepas.


"Tolong aku dokter, tubuhku panas sekali. Tolong padamkan apinya," jawab Rea


"Rea aku baru saja buka puasa dan sekarang kamu meminta aku membuka kamu," sahut Rehan.


"Please dokter Rehan, please," pinta Rea dengan terus menggeliat.


Rehan nampak bingung, ditolak sayang tapi kalau diterima dia dosa besar.


Aarrrggg, " Bagaimana ini," ucap Rehan.


Rea yang tidak tahan membuang semua penutup tubuhnya, kini Rea benar-benar polos, Rehan menatapnya dengan tatapan seekor predator.


"Ya Allah, ampuni dosa hamba mu ini, hamba tak kuasa menahan nikmat dunia yang kini berada di depan hamba," ucap Rehan.


"Ayolah dokter Rehan, please! aku tidak kuat," pinta Rea dengan terus menggeliat.


Aarrrrgggggg

__ADS_1


"Baiklah,"


__ADS_2