
Ray berbaring lemah di samping istrinya, dia mengambil nafas dalam-dalam.
Meski suhu dalam kamar Rara sangat rendah namun keringat Ray terus saja mengalir.
"Lagi yuk," ajak Ray
"Bentar sayang, istirahat dulu. Lagian kita harus tarawih," sahut Rara
"Tarawih nya besok saja ya, kita lanjut melakukan sunah rasul lainnya," bujuk Ray.
"Baiklah tapi beri jeda dulu, meskipun hanya di bawah tapi lelah juga," ucap Rara.
"Kamu menguasai gaya apa saja?" tanya Ray sambil memainkan puncak gunung istrinya.
"Gaya apa maksud kamu sayang?" tanya Rara yang merasa gagal paham dengan maksud Ray
"Gaya dalam bercinta lah, kan ada banyak tu. Ada gaya standar, wanita di atas, gaya miring, dan masih banyak lagi," jawab Ray
"Oalah, pengalaman aku hanya di gaya standar sayang, nggak kenal gaya yang macem-macem," sahut Rara
"Bearti nggak berpengalaman ya," timpal Ray.
Ray tersenyum licik, kali ini dia akan mempraktekkan aneka gaya dengan istrinya, supaya istrinya benar-benar puas dengan service yang dia berikan.
"Ya sudah ayo lanjut," ucapnya yang bersiap untuk naik ke puncak gunung lagi.
Namun baru saja memposisikan badannya pintu kamar ada yang mengetuk dari luar.
"Ah, siapa sih mengganggu sekali, gak tau apa kalau sedang sunah Rasul," gerutu Ray lalu menutup tubuhnya dengan selimut, sedangkan Rara mengambil handuk kimono miliknya dan membuka pintu.
Mama melihat Rara dari atas ke bawah, nampak merah-merah di bagian leher anaknya sehingga membuat mama gagal fokus dan melupakan tujuannya datang ke kamar anaknya.
"Kamu sibuk ya?" tanya mama
"Nggak juga kok ma, ada apa?" tanya Rara
"Apa ya? mama lupa. Ya sudah lanjut saja dulu, Maaf sayang mengganggu kegiatan kalian," jawab mama Rara lalu pergi dengan raut wajah tak enak.
Rara segera masuk ke dalam,
"Ada apa sayang?" tanya Ray
"Entah mama," jawab Rara.
Ray yang belum puas ingin mengulang kembali tugas negaranya. Namun Rara mengingatkan kalau mereka harus pulang ke rumah Ray.
"Astaga aku lupa, ayo kita bersiap. Pasti mama dan papa menunggu kita," kata Ray lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah semua siap, mereka segera pulang ke rumah Ray.
"Kamu sudah kirim pesan ke mama kan? takutnya nanti mama dan papa nyari saat pulang dari tarawih,"
"Sudah kok," jawab Rara.
Ray tidak sabar untuk mengulang kembali kegiatan panas mereka.
Tak perlu waktu lama untuk tiba di rumah Ray dan ternyata benar mama dan papa Ray sudah menunggu di ruang tamu.
"Gimana sukses?" tanya papa Ray saat melihat leher Ray maupun Rara.
__ADS_1
"Sukses dong pa, kan papa sudah lihat sendiri lukisan senja Ray di leher Rara," jawab Ray
Mama hanya bisa menggelengkan kepala, kenapa dua Toretto bisa seperti ini.
"Sudah sudah kalian ini ngomong apa," protes mama.
"Jadi apa rencana kamu selanjutnya?" tanya mama
"Rencana apa sih ma?" tanya Ray balik
"Ya rencana resepsi kalian, mama ingin mengadakan resepsi yang mewah untuk kalian tapi nggak disini," jawab Mama
"Mama adakan di US?" tanya Ray
"Iya, mama akan siapkan semua di sana," jawab mama
"Beberapa hari ke depan Ray juga mau ke US, karena Rara akan segera ditetapkan sebagai Presdir utama RA Grup, nanti rencannya kami akan bulan madu serta melakukan prewed di sana. Untuk bajunya besok atau lusa kamu bertemu dengan desainernya," jawab Ray
"Jadi sudah kalian siapkan," timpal mama
"Sudah dong ma," sahut Ray
"Ya sudah, mama besok kembali ke US," ucap mama
"Apa sudah pa ma, kalau sudah Ray mau ke kamar dulu, lanjut yang tadi," kata Ray dengan terkekeh.
"Sanalah, buatkan papa cucu yang banyak, bila perlu lembar empat," sahut papa
"Papa kira istriku kucing," ucap Ray tak terima.
Papa dan mama tertawa, kini orang tua Ray nampak lebih hangat dari dulu dan ini membuat Ray bahagia.
Rara menggoda Ray, sehingga Ray tak kuasa menahan hasratnya.
"Udah ayo sayang," pinta Ray
"Udah nggak kuat ya," goda Rara
"Iya, ayo sayang." Ray terus meminta.
"Bentar sayang, kebelet pipis," kata Rara lalu berlari ke kamar mandi.
"Astaga, lama sekali. Memangnya berapa liter sih yang dikeluarkan," gerutu Ray
Tak berselang lama Rara keluar dengan memakai handuk kimono.
"Im ready sayang," kata Rara.
Saat hendak membuka baju, terdengar suara ketukan dari luar dan ini membuat Ray frustasi
"Apa lagi," ucap Ray dengan mengusap rambutnya dengan kasar.
Dia sungguh frustasi.
"Kenapa sih kalian tidak mengerti kalau aku ingin bermain," kata Ray dengan meninju tempat tidurnya.
Rara hanya tertawa melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
Rara segera berlari untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Maaf mengganggu, bisakah kita bicara?" tanya mama Ray
"Bisa ma," jawab Rara
"Ya sudah, mama tunggu di ruang kerja mama," ucap mama Ray lalu pergi.
Rara nampak penasaran apa yang ingin mama Ray katakan padanya.
Kini Rara kembali mendekati Ray, dan tanpa basa basi Ray langsung saja menerjang istrinya.
"Aku sudah tidak tahan sayang," bisik Ray
Karena tidak tega dengan Ray, Rara sedikit memberikan sentuhan, tangannya bergerilya ke bagian sensitif Ray.
"Terus sayang," pinta Ray
Rara akhirnya menyudahi aksinya dan bergegas memakai baju.
"Bye bye sayang, lanjut nanti ya," kata Rara dengan melambaikan tangannya.
Ray hanya melongo melihat istrinya, sungguh tega meninggalkannya yang telah berhasrat.
"Awas kamu sayang," ucap Ray
Ray yang kesal menyalakan rokoknya, setelah itu dia memejamkan mata mencoba untuk tidur.
Satu jam kemudian Rara datang dengan sumringah, dia tidak menyangka mama Ray memberikan kalung kesayangannya untuk Rara.
Rara melihat Ray telah tertidur.
"Yaaaa, sudah tidur. Kasian pasti dia menahannya tadi," gumam Rara lalu mengganti bajunya dengan pakaian tidur yang tipis.
Rara memeluk Ray dan mencoba membangunkannya.
Perlahan Ray membuka matanya, dia nampak tersenyum licik.
"Kamu Pengen?" tanya Ray
Rara hanya mengangguk dan langsung saja Ray memainkan area sensitif Rara.
Setelah Rara basah Ray menghentikan aksinya.
"Ayo tidur, udah malam," kata Ray yang membuat Rara melongo.
"Tapi...."
"Tapi apa, pengen? salah sendiri tadi kamu meninggalkan aku saat aku pengen juga," sela Ray yang membuat Rara membuka mulutnya lebar-lebar.
"Astaga sayang kamu marah?" tanya Rara
"Nggak, sudah ayo tidur," ajak Ray
Ray kini berbaring dan memejamkan matanya, sedangkan Rara melongo seperti orang kebingungan.
"Ah sial, padahal aku ingin sekali," umpat Rara
"Awas besok kalau minta, nggak akan aku kasih," ucap Rara yang membuat Ray tertawa dalam hati.
"Nggak kamu kasih, ya aku ambil sendiri," batin Ray
__ADS_1