
Mendengar kata-kata Ray membuat Raina Toretto menangis.
"Anda tidak apa-apa nyonya?" tanya Ryan
"Tidak," jawab mama Ray
"Oh ya Rian, batalkan pesawat kita," titah mama Ray.
"Baik nyonya," kata Ryan dengan tersenyum.
Raina Toretto berubah pikiran, dia akan hadir dalam pertunangan Ray, dia menghubungi suaminya kalau ternyata kekasih Ray adalah Presdir utama Empire RA Grup dan ini cukup membuat Toretto terkejut.
Keesokannya pagi sekali Raina pergi ke rumah Rara, dan ini membuat Ray mengira kalau mamanya kembali ke US.
"Mama tak berperasaan, aku kira dia akan tinggal namun dia tetap bersikeras kembali," kata Ray saat melihat mobil mamanya keluar.
Kini Mama dan Ryan telah sampai di rumah Rara, dia sungguh malu untuk bertemu Rara namun mau nggak mau dia harus menemui calon menantunya.
Mama Ray menunggu di luar saat art memanggil Rara di kamarnya.
"Nyonya," ucap Rara saat dia tahu kalau yang mencarinya adalah calon mertuanya.
"Maaf mengganggu waktu kamu," kata mama Ray
"Tidak sama sekali nyonya," sahut Rara
"Saya kesini hanya ingin meminta maaf atas semua perlakukan saya selama ini terhadapmu," kata mama Ray
Rara tersenyum, meskipun terkadang kesal dengan sikap Raina namun Rara sudah memaafkannya bagaimanapun juga Raina adalah calon mertuanya.
"Iya nyonya saya sudah memaafkan anda," ucap Rara
"Terima kasih Ra, kamu memang seperti Rena yang mudah sekali memaafkan kesalahan orang," timpal Mama Ray dengan tersenyum.
Melihat senyuman tulus dari mama Ray membuat Rara bahagia, baru kali ini dia melihat senyuman manis mama Ray.
Karena tidak ada yang dibicarakan Raina pamit namun sebelumnya dia menatap lekat Rara dengan mata yang berkaca.
"Terima kasih." Raina mengucapkan terima kasih lagi lalu mengusap pipi Rara dengan lembut setelah itu dia pergi dan masuk mobil.
Dalam mobil dia menangis, Raina sungguh rindu dengan Rena melihat Rara dia seperti kembali ke masa lalu saat dia masih bersama Rena dulu.
"Rena, maafkan aku yang telah menyakiti anak kamu, tolong jangan benci aku. Di dunia ini hanya kamulah teman aku, teman yang mengerti aku," ucapnya.
__ADS_1
Ryan yang melihat Raina menangis nampak bingung, pasalnya baru akhir-akhir ini dia melihat Raina menangis, karena sebelumnya Raina tidak pernah menangis bahkan dia sungguh tegar bisa dibilang Raina adalah wonder women.
Raina meminta Ryan untuk pergi ke butik rencannya dia ingin membelikan Rara gaun untuk pesta pertunangannya nanti, tak hanya Rara dia juga membelikan Ray jas yang senada dengan gaun Rara setelahnya mama Ray meminta kurir untuk mengantar gaun dan setelan jas kepada Rara dan Ray.
Rara yang ingin menyiapkan pesta pertunangannya nanti meminta ijin pada Ray kalau hari ini tidak masuk kantor tentu hal ini membuat Ray kesal.
"Apa-apaan dia, beraninya nggak masuk kerja," gerutu Ray.
Sebenarnya hal yang membuat Ray kesal adalah mamanya entah mengapa dia kesal sekali.
"Aaarrgggg menyebalkan sekali," teriaknya.
Ray yang tidak bisa fokus memanggil Revan ke ruangannya karena dia ingin tau persiapan pestanya nanti.
"Semua sudah beres pak, dan yang datang mungkin teman dekat kita saja dan beberapa klien dan petinggi perusahaan," kata Revan
"Bagus," sahut Ray
"Bagaimana dengan mama anda Pak?" tanya Revan
"Dia telah kembali tadi pagi, entah hatinya terbuat dari apa hingga dengan darah dagingnya sendiri dia tidak peduli," jawab Ray dengan raut wajah yang sedih.
"Sabar pak, mungkin nyonya memang sibuk," bujuk Revan
"Sibuk apanya, memang dia tidak sayang kepadaku," sahut Ray.
"Saya puasa pak," tolak Revan
"Ya sudah temani aku makan," ucap Ray
"Tapi...." belum sempat melanjutkan kata-katanya Ray menyela.
"Tidak ada tapi-tapian, ini perintah," sahut Ray
Revan melemas, sudah dipastikan dia akan pengen melihat Ray makan, apalagi tadi pagi dia sahur sedikit sekali.
"Ya Allah kuatkan iman hamba, jika memang tidak kuat dengan godaan Raymond nirojim maafkan hamba jika hamba membatalkan puasa," batin Revan.
Setibanya di restoran, Ray memesan banyak makanan, dan ini cukup membuat Revan menelan salivanya berkali-kali.
"Aarrggg, makanannya benar-benar menggoda," gumam Revan dengan melihat makanan yang tersaji di meja.
"Kalau sudah tidak kuat makan saja, nanti kamu puasa lagi, kadang aku juga begitu," kata Ray
__ADS_1
"Astaga pak, itu puasanya anak kecil," sahut Revan dengan menggelengkan kepala.
Ray hanya tertawa sambil makan ikan salmon panggang dengan saos lemon.
"Enak sekali Revan," kata Ray
"Astaga Raymon nirojim, apa-apaan dia menggoda iman aku dan masalahnya iman aku kini berada di ujung tanduk dan siap jatuh," batin Revan.
"Aaarrrrgggg." Revan mengusap rambutnya, kini dia sungguh dilema antara lanjut atau membatalkan puasanya.
"Bismilah, allahumma laka sumtu wabika amantu waala rizkika aftortu birohmatika ya arhamarrohimin, amin." Revan berdoa berbuka puasa lalu dia meminum lemon jus yang Ray pesan.
Ray tertawa melihat temannya yang akhirnya melambaikan tangan, dia telah membatalkan puasa gara-gara melihat Ray makan.
"Anda berdosa pak, karena telah membuat saya membatalkan puasa," kata Revan
"Mana bisa kan kamu yang membatalkan puasa bagaimana bisa dosanya kamu lemparkan kepadaku," sahut Ray tak terima.
Seusai makan Revan dan Ray kembali ke kantor. Saat masuk ke dalam ruangannya, Ray kaget karena melihat ada hadiah kotak besar di mejanya.
"Apa ini," gumam Ray dengan mengerutkan alisnya. Lalu dia membuka kotak yang diterimanya.
Di dalam hadiah gaun maupun jas untuk anaknya, terdapat kartu ucapan yang meminta mereka untuk memakainya saat acara pertunangan nanti.
Ray sungguh takjub dengan jas yang dia terima, dari model dan bahan jas tersebut sudah dapat dipastikan kalau harganya mahal.
"Ternyata dia membelikan aku setelan jas yang indah, Sungguh so sweet sekali calon istri aku," kata Ray dengan tersenyum, karena hadiah yang dia terima membuat dia sangat bahagia.
Tak hanya Ray, Rara juga kaget saat kurir datang ke rumahnya dan memberi kotak besar yang bertuliskan untuk nona Rara.
"Apa ya isinya dan dari siapa," gumam Rara dengan membuka kotak yang dia terimanya.
Alangkah terkejutnya Rara, ternyata isi dari kotak tersebut adalah gaun indah.
"Bagus sekali gaun ini, aku tak menyangka Ray memberi surpise seperti ini," kata Rara dengan tersenyum.
Mereka berdua sama-sama bahagia dan mengira kalau hadiah itu bukan dari mama Ray.
***************
Malam yang ditunggu telah tiba, semua nampak cantik dan tampan dengan gaun yang mereka pakai.
Tak terkecuali Rea dan Ken Steven.
__ADS_1
"Mana mama kamu Ray?" tanya Ken Steven.
"Beliau sudah kembali ke US calon papa mertua," jawab Ray dengan raut wajah yang sedih.