
"Bukankah itu Rara?" batin Revan
Revan ingin berhenti dan mengantarnya pulang namun Rara sudah keburu naik mobil, namun bukannya ke arah jalan pulangnya melainkan menuju jalan lain.
"Mau kemana dia," batin Revan
Tak berselang lama Ray mendapatkan telpon dari orang suruhannya yang ia tugaskan untuk membuntuti Rara.
"Dia dimana?" tanya Ray
"Jalan Cinta, blok rindu satu nomor 23," jawab orang suruhan Ray.
"Cari tau itu rumah siapa," titah Ray kemudian dia memutuskan sambungan telponnya.
Mood Ray kini benar-benar buruk, dia nampak resah dan gelisah tak menentu, dia terus melihat ponselnya dan sesekali mengumpat.
"Shiiiiiit." Kata itulah yang keluar dari mulut Ray
Lama menunggu, kini sebuah pesan diterima oleh Ray, dan mata Ray membola melihat pesan yang diterimanya.
"F4k3 you Ra." Ray mengumpat dengan marah, nampak rahangnya mengeras menahan amarah yang kini bergemuruh di dalam dadanya.
"Ada masalah apa pak?" tanya Revan
"Putar balik Revan, kita pergi ke jalan cinta blok Rindu satu nomor 23," jawab Ray
"OMG, itukan rumah Raka. Ada masalah apa?" batin Revan.
"Untuk apa kita kesana pak?" tanya Revan
"Memergoki maling," jawab Ray
Otak Revan kini berkelana, apa ini ada hubungannya dengan Rara?
Revan yakin kalau tadi Rara pasti pergi ke rumah Raka.
"Kamu ngapain cari penyakit sih Ra? tau bentar lagi akan menikah kok malah cari masalah," batin Revan
Kini mobil Revan telah sampai di depan rumah Raka.
"Apa perlu kita panggil buldoser untuk merobohkan rumah ini?" tanya Revan
"Bagus sekali ide kamu," jawab Ray yang semakin kesal dengan Revan.
Satu jam berlalu namun Rara tak kunjung keluar,
"Apa yang dia lakukan di dalam lama sekali!" gerutu Ray dengan resah
"Apa sebaiknya kita masuk saja," saran Revan
"Tidak perlu, kita tunggu di sini saja," sahut Ray
Satu jam telah berlalu, namun Rara juga belum keluar dan ini membuat Ray geram dan marah.
"Jangan-jangan Rara menginap di sini." Ucapan Revan bagai bensin yang semakin memperbesar amarah api dalam dada Ray
"Raka bangsat beraninya dia menggoda calon istri aku, kenapa nggak mati saja banci itu." Lagi-lagi Ray mengumpat.
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh namun Rara belum juga keluar.
__ADS_1
"Aarrggg apa sih yang mereka kerjakan di dalam," teriak Ray sambil mengusap rambutnya dengan kasar
"Apa perlu kita ledakkan pak," saran Revan
Ray hanya melemparkan tatapan serigalanya, sungguh kesal sekali dengan Revan.
"Apalagi ide kamu?" tanya Ray
"Sementara itu saja pak," jawab Revan dengan terkekeh.
Revan memang suka usil, bukannya menenangkan Ray dia malah membuat Ray semakin kesal.
Nampak sebuah taxi berhenti di depan rumah Raka, kemungkinan itu adalah taxi yang Rara pesan.
"Kelihatannya itu taxi yang dipesan Rara pak," kata Revan
"Sabotase, bilang ke supirnya biar aku yang menggantikan pekerjaannya," titah Ray
"Apa!" ucap Revan kaget
"Buruan, nanti Rara bisa keluar duluan," omel Ray
Revan segera keluar, dia mengetuk kaca taxi dan sopir segera keluar, Revan segera menarik sopir dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya sedangkan Ray keluar dan masuk ke dalam taxi.
"Diam dan jangan banyak bicara, tuanku hanya pinjam taxi kamu sebentar," kata Revan
Revan mengambil lima belas lembar uang warna merah dan memberikannya pada sopir taxi tersebut.
Sopir taxi yang shock hanya diam, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian tidak mengambil taxi aku kan?" tanya sopir taxi
"Sombong sekali sampean," timpal sopir taxi dengan logat Madura.
"Kamu orang Madura ya?" tanya Revan
"Iya, kalau cem macem tak bacok sampean," jawab Sopir dengan mengancam.
"Waduh, kelihatane salah profesi, kamu cocoknya jadi tukang sate," ejek Revan yang membuat sopir taxi marah.
"Berani sampean," maki sopir taxi.
Revan segera mengambil pistol yang selalu dia bawa di mobilnya.
"Macam-macam timah panas ini akan bersarang di kepala kamu," ancam Revan
Sopir taxi yang takut pun terkekeh
"Ampun cak," ucapnya
"Cemen, tadi sok sok an ngajak carok, sekarang malah minta ampun," ucap Revan.
Revan kini melihat pintu pagar rumah Raka yang terbuka, dan benar saja Rara keluar dari sana.
Rara segera masuk ke dalam taxi.
"Jalan pak," titah Rara
Ray memperhatikan Rara dari kaca spion, untung tadi dia memakai masker.
__ADS_1
Rara yang tau kalau sopir taxi memperhatikannya pun bertanya
"Kenapa anda memperhatikan saya?" tanya Rara
Ray hanya diam saja, dia yang sudah dikuasai oleh amarah sebisa mungkin menahan amarahnya.
"Pak, anda bisu ya?" tanya Rara dengan kesal
Namun Ray hanya diam.
"Ampun pak jangan apa-apakan saya, calon suami saya galak sekali Lo pak, lebih galak dari pitbull. Bapak tau kan anjing Pitbull, anjing tergalak namun masih galakkan calon suami saya," kata Rara
"Brengsek, beraninya dia menyamakan aku dengan Pitbull," umpat Ray.
Karena Ray hanya diam, Rara jadi semakin takut.
Kini mobil berjalan tidak sesuai alamat.
"Pak ini kan bukan jalan menuju rumah saya," kata Rara dengan takut.
Rara mencoba mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi Ray namun kalau Ray tau dia pergi malam-malam pasti marah.
"Pak Revan," batin Rara
Rara segera menghubungi Revan, dan Revan yang tau kalau Rara menghubunginya jadi tertawa.
"Pak Revan," ucap Rara begitu sambungan telponnya terhubung.
"Kenapa malah menghubungi Revan bukannya aku," umpat Ray dalam hati
Rara berbicara nerocos, dia sungguh takut, dan dengan santainya Revan menjawab
"Bentar aku mau mandi dulu, mau buka kedua dan baru mencari kamu,"
Rara yang mendengar jawaban Revan tentu sangat kesal
"Bisa-bisanya anda bicara begitu, nyawa saya dalam bahaya pak, ini ada orang yang mau menculik saya," teriak Rara lalu mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Ray membawa Rara ke vila miliknya yang tempatnya jauh dari pemukiman warga.
Rara melihat ke belakang dan betapa kagetnya dia ada mobil yang mengikutinya di belakang.
"Mati aku, jangan-jangan mereka mau macam-macam sama aku," batin Rara
"Pak sopir ini kita dimana?" tanya Rara dengan takut.
Letaknya yang jauh dari pemukiman tentu sangat sulit untuk kabur.
"Ya Tuhan tolong hamba," batin Rara.
Kini mobil telah memasuki vila Ray, dari tampilannya sungguh mewah namun nampak horor.
"Mati aku," gumamnya.
Revan turun dengan memakai maskernya, dan kemudian sopir taxi segera mengambil mobilnya dan pergi dari Vila Ray.
Sedangkan Ray telah membawa Rara masuk terlebih dahulu.
Ray kini membawa Rara ke dalam kamarnya, kemudian dia mengikat tangan dan kaki calon istrinya.
__ADS_1
"Lepas, woy dasar bajingan tengik," teriak Rara dengan menggigit tangan Ray.