
"Dan sekarang apa rencana kamu? apa kamu mau dengan aku membesarkan anak ini atau kamu ingin membesarkan sendiri anak ini seperti yang kamu bilang kemarin?" imbuh Riad
Sheryl masih terdiam, dia kini bingung apa yang harus dia pilih menjadi single parents atau hidup bersama Riad.
Dengan menghela nafas Sheryl menatap Riad dan mulai membuka mulutnya.
"Baiklah aku pilih membesarkan anak ini dengan kamu, bagaimanapun juga anak ini butuh sosok ayahnya." Akhirnya Sheryl memilih bersama Riad untuk membesarkan anaknya.
"Alhamdulillah, terima kasih Sheryl tapi aku bukan lelaki yang kaya seperti saat kamu mengenalku, aku hanya memiliki sebuah kafe yang baru aku rintis di negaraku Algeria," ucap Riad
"Tidak apa-apa, bukankah saat ini aku juga hidup dalam kesederhanaan," sahut Sheryl
"Kamu yakin?" tanya Riad
"Yakin," jawab Sheryl
"Tapi kita akan menetap di Algeria bukan di sini," kata Riad yang membuat Sheryl menatapnya.
Kini lagi-lagi Sheryl dirundung dilema lagi, saat dia bersedia bersama Riad malah Riad kini mengajaknya untuk menetap di negaranya.
"Tidak bisakah kamu menetap di sini?" tanya Sheryl
"Tidak bisa, di sana aku memiliki bisnis sedangkan di sini tidak. Lagipula aku memiliki keluarga di sana, ada umi dan Abi," jawab Riad
__ADS_1
"Bukankah seorang wanita harus mengikuti kemana prianya pergi? apalagi kalau terikat ikatan pernikahan," imbuh Riad yang membuat Sheryl terdiam.
Riad yang melihat raut wajah Sheryl tau kalau Sheryl keberatan untuk ikut dengannya. Dia tersenyum, dia sadar kalau memang Sheryl dulu tidak benar-benar mencintainya.
"Aku paham dan sadar kalau kamu tidak mencintai aku Sheryl," kata Riad dengan melempar tatapannya.
Dia berjalan mendekati jendela dengan raut yang sudah berubah.
Sheryl berdiri lalu memeluk Riad dari belakang,
"Aku mau ikut denganmu," katanya
Riad membalikkan tubuhnya lalu memeluk Sheryl dnegan erat, dia sebenarnya merindukan Sheryl. Meskipun hanya sebuah drama namun kebersamaannya dengan Sheryl cukup membuat benih cinta tumbuh.
Revan yang mendapatkan kabar dari Riad cukup bahagia akhirnya mereka bisa bersama walaupun awalnya ini hanyalah gimik dari Ray.
"Kini semua telah bahagia, Rehan telah menikah dengan Rea, Ray dan Rara, Riad dan Sheryl, tinggal aku yang belum menikah," gumam Revan
"Harus tancap gas nih." Revan bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dia iri dengan para sahabatnya yang sudah bahagia dengan pasangan mereka masing-masing.
Malam ini rencananya Revan akan melamar Raya secara, dia ingin segera membina rumah tangga dengan wanita yang ia cintai.
__ADS_1
*************
Di sisi lain, Rara dan Ray istirahat di private room mereka.
"Sayang seharusnya yang istirahat di sini adalah Rea kan dia lagi hamil," kata Rara
"Enak saja, jet ini milik aku, room ini milik aku nggak akan kubiarkan orang lain meniduri kamar ini. Lagipula di depan juga nyaman, Rea bisa bersandar," sahut Ray
"Iya iya sayang. Jangan marah." Rara mencoba membujuk Ray.
"Kamu harus aku hukum," ucap Ray
"Kenapa dihukum sih sayang," protes Rara
"Ya iyalah, karena kamu telah membuat suami kamu ini marah," sahut Ray
"Astaga, memangnya apa hukuman buat aku?" tanya Rara
"Apalagi kalau nggak bergoyang di sini, sekali-kali kita bercinta di pesawat," jawab Ray dengan terkekeh
"Aku heran sama kamu sayang, dulu mama memangnya ngidam apa ya, kok anaknya seperti tokek kaya kamu," ejek Rara yang membuat Ray kesal.
"Sembarangan, beraninya kamu mengatai aku seperti tokek," protes Ray.
__ADS_1