
Revan tidak mempedulikan teriakan Ray, dia berjalan keluar rumah Ray.
Revan bergegas masuk ke dalam mobil, tak lupa dia mematikan ponselnya karena sudah pasti Ray akan menghubunginya.
"Kenapa panggil-panggil Revan?" tanya Rara
"Nggak papa sayang, aku heran saja kenapa dia tiba-tiba pergi," jawab Ray dengan raut wajah yang sudah berubah.
"Sayang, ambilkan aku asem ya," pinta Rara dengan menarik tangan sang suami
"Kita beli saja, kan di supermarket banyak dijual asem-asem import," sahut Ray
"Nggak, aku maunya kamu yang manjat seperti Revan," timpal Rara
"Mati aku," gumam Ray
"Bisa nggak kamu minta yang lain sayang," Ray bernegosiasi dengan Rara
"Nggak, aku pengen asem nggak pengen yang lain," protes Rara
"Tapi jangan suruh aku yang manjat ya. Kita suruh pelayan," sahut Ray
"Aku tanya, anak ini akan kamu atau anak mereka?" Rara melirik Ray yang berada disampingnya
"Ya anak aku," jawab Ray
"La kenapa menyuruh mereka?" tanya Rara dengan kesal
"Kalau aku yang manjat bisa hilang wibawa dan ganteng aku," jawab Ray
Rara berdecak kesal dengan melemparkan tatapan mautnya pada Ray, mana ada orang manjat pohon asem bisa menghilangkan wibawa dan rupa ganteng justru dengan dia memanjat pohon asem dia mendapatkan predikat suami sayang istri.
"Kamu nggak usah mengada-ngada sayang. Mau apa nggak?" tanya Rara
"Kalau nggak mau gimana?" tanya Ray
"Akan aku tukar tambah, aku mau cari suami yang sayang istri bukan suami yang memikirkan egonya saja," jawab Rara dengan ketus lalu dia berjalan meninggalkan Ray.
Ray mengusap rambutnya dengan kasar, dia sungguh frustasi mendengar kata-kata sang istri,
"Awas saja kalau mau menukar tambah aku dengan Leo," gumam Ray.
Ray segera menyusul Rara yang tengah merajuk,
"Iya iya sayang, aku mau. Jangan ngambek ya," bujuk Ray
Senyum Rara merekah, dia sangat senang saat Ray mau menuruti keinginannya.
"Ayo kita pergi," ajak Rara
"Ayok ayok, mana pohon asemnya," kata Ray
Ray mengeluarkan ponselnya, dia ingin bertanya pada Revan dimana bisa menemukan pohon asem.
"Brengsek, nomornya tidak aktif," umpat Ray
__ADS_1
"Mungkin ponselnya low bat terus mati," ucap Rara
"Dia sengaja," timpal Revan
"Kamu kok tau?" tanya Rara
"Tau lah, kamu tidak lihat tadi dia langsung pergi tanpa pamit," jawab Ray
"Besok lihat saja, akan aku hukum," imbuh Ray dengan kesal.
Rara dan Ray akhirnya bertanya pada pelayan mereka dimana bisa ditemukan pohon asem.
"Bukankah di ujung kompleks ini ada pohon asemnya Tuan?" kata Pak Hendra.
"What!" teriak Ray
Rara yang mendengar teriakan Ray tersentak kaget,
"Kenapa sih mengagetkan saja," omel Rara
"Aku manjat pohon asem yang ada di ujung kompleks, apa kata dunia sayang," ucap Ray dengan cemas
Ray merasa malu jika ada yang mengenalinya,
"Ya dunia bilang kalau kamu suami terbaik," sahut Rara
Aarrrggggg
Ray mengusap rambutnya dengan kasar, ingin marah takut nanti Rara pingsan lagi. Akhirnya mau nggak mau Ray dan Rara pergi ke ujung kompleks untuk memanjat pohon asem.
Dan setelah sampai betapa terkejutnya dia kalau pohon asemnya sungguh tinggi.
"Sudahlah sayang, jangan banyak mengeluh panjat saja, masa iya cowok nggak bisa manjat," ejek Ray
"Aku hanya bisa manjat kamu saja," sahut Ray
Dengan di temani pelayannya Ray mulai memanjat dan baru saja memanjat ada sebuah mobil yang membunyikan klakson.
Tin
Tin
"Pak Ray, anda ngapain memanjat pohon asem," teriak salah satu tetangga Ray
Ray memercingkan alisnya, dia sungguh malu sekali dengan tetangganya.
"Eh iya," sahutnya
"Suami saya mau mengambil buah Asem pak," sahut Rara
"Ngapain ambil buah asem nyonya Ray?" tanya tetangga
"Saya ngidam pak," jawab Rara
"Ya ampun pak Ray sungguh sayang istri, salut ma pak Ray saya," puji tetangganya lalu beliau pamit untuk pergi.
__ADS_1
"Jadi orang kepo sekali," umpat Ray lalu melanjutkan aktivitas panjat memanjatnya.
Ray mengambil buah Asem, dia mengambil tanpa memilih mana yang mentah dan mana yang mateng pokoknya buah asem yang diambilnya.
"Sayang, yang mentah jangan diambil, aku ini bukan lagi pengen masak sayur asem," kata Rara
"Yang mentah malah yang enak," sahut Ray dari atas.
Mendengar jawaban dari Ray membuat Rara tiba-tiba memiliki keinginan yang lain.
Dia membayangkan Ray makan buah asem yang mentah.
"Kenapa aku ingin sekali melihat dia makan buah asem yang mentah ya," ucap Rara sambil terkekeh
Setelah mendapatkan buah asem yang mateng, Rara meminta Ray untuk turun. Dia mengajak Ray pulang karena dia tidak sabar untuk memakan buah asem yang baru saja dipetik suaminya.
Sesampainya di rumah Rara segera memakan buah asem Mateng yang dibawanya. Dia begitu menikmati buah yang terkenal asem tersebut.
"Itu lidah normal apa nggak, makan buah asem seperti makan buah anggur," kata Ray
Rara melemparkan tatapan mautnya pada Ray, dia sungguh kesal, istri lagi menikmati buah Asem mulut nerocos saja seperti blender.
Seusai Rara makan, dia mengambil buah asem yang masih mentah. Dia meletakkannya di piring dan meminta Ray untuk memakannya.
"Sekarang gantian kamu sayang," pinta Rara
"What!" teriak Ray dengan membolakan mata.
"Ini makan, please! demi anak kita," pinta Rara dengan memohon.
"Nggak nggak, buah asem disuruh makan orang," maki Ray yang enggan untuk memakan buah asem.
"Please!" pinta Rara dengan memohon. dia mengeluarkan jurus tatapan anak anjing untuk memperoleh simpati Ray.
Ray melemas, kenapa begitu menyusahkan sekali memiliki istri hamil.
"Kenapa menyusahkan sekali memiliki istri yang tengah hamil," ucap Ray
"Mangkanya jangan hanya buatnya saja yang senang, pas hamil gini juga harus siaga," sahut Rara
"Iya iya, sungguh miris nasib pria di dunia ini yang memiliki istri yang hamil. Disiksa harus ini dan itu. Kalian para istri sepertinya dendam pada kamu para suami yang menghamili kalian," timpal Ray
"Sudahlah sayang, ini nggak seberapa. Apa kamu lihat, kami kaum hawa mempertaruhkan nyawa kami saat melahirkan anak kalian dan kami hanya meminta hal kecil seperti ini pada kalian tapi kalian selalu mengeluh," ucap Rara dengan sedih.
Ray menghela nafas,
"Baiklah baiklah, jangan ungkit jasa kalian," pinta Ray
Ray kini mulai memakan buah asem yang Rara sajikan di piring.
Dengan memejamkan mata Ray memasukkan buah Asem ke dalam mulutnya.
"Asem sekali," ucap Ray ekspresi keasaman.
"Lanjut sayang, setelah anak kita paus, udah kok," timpal Rara.
__ADS_1
Ray habis satu buah asem yang mentah, setelahnya dia meminta gula pada pelayannya. Dia juga minta air putih.
"Udah, aku tak sanggup lagi," kata Ray dengan mengangkat tangannya.