
Ray saat di parkiran melihat Rara masih di atas motornya, entah siapa yang dia hubungi.
Dari kejauhan dia mengawasi Rara lalu tanpa dia sadari kini dia mengikuti Rara dari belakang.
"Mau kemana dia," batin Ray
Ray meminta supir untuk lebih cepat karena dia tidak ingin ketinggalan jejak Rara.
Rara membelokkan motornya di sebuah restoran, "Mau menemui siapa dia," gumam Ray.
Ray yang kepo menyuruh sopir untuk masuk, dia diam sejenak, bingung antara masuk atau pergi.
"Rayaaaa," teriak Rara lalu memeluk sahabatnya tersebut
"Kalau ada maunya nyari aku, hello selama ini kamu kemana aja, nomor tiba-tiba diganti aku main di rumah katanya kamu pindah dan nggak ingin diganggu, cih sombong amat," omel Raya tak henti-henti.
"Maaf Raya," sahut Rara menyesal.
"Pasti kerjaan suami kamu kan, yang larang-larang kita kumpul, gedek aku ma Raka," omel Raya lagi
"Ni dia tahu apa nggak, ntar aku dituduh nyulik kamu lagi," imbuh Raya.
"Duh yang udah jadi lawyer ternama banyak ngomongnya," sahut Rara yang membuat Raya semakin kesal.
Rara memesan makanan, saat asik bercanda tiba-tiba Ray lewat dan betapa kagetnya Rara.
"OMG, Raymond Toretto," kata Raya.
"Pak Ray," kata Rara.
Ray dengan dinginnya mengabaikan Rara padahal dia datang juga karena membuntuti Rara.
Rara berdecak kesal, "Masih saja dingin," umpatnya.
"Kamu kenal Ra?" tanya Rara
"Kenal banget, pernah tidur bareng juga malah," seloroh Rara. Tanpa sadar dia membuka aibnya sendiri pada Raya.
"What!" teriak Rara
"OMG, beruntung sekali kamu Ra, bisa tidur dengan manusia sempurna seperti Raymond Toretto," ucap Raya.
"Nggak seperti yang kamu bayangkan," timpal Rara.
Kini makanan yang mereka pesan telah datang, Raya dan Rara bercerita sambil makan.
"Begini Raya, aku ingin kamu membantu aku mengambil warisan aku kembali," kata Rara
Raya mengerutkan alisnya kemudian menatap Rara
"Warisan?" tanya Raya
"Iya," jawab Rara.
Rara kini menceritakan semua pada Raya tanpa ada yang dia tutup-tutupi, dan ini membuat Raya kesal setengah mati.
"Benar-benar tu Raka, jelmaan devil," kata Raya sambil mengepalkan tangannya.
"Lalu saat kamu diusir kenapa nggak ke rumah aku sih Ra, sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Rara kemudian.
"Aku tinggal di apartemen Park City," jawab Rara
Raya mengerutkan alisnya, bagaimana bisa Rara yang diusir orang tuanya bisa tinggal di apartemen yang cukup mewah.
__ADS_1
"Udah nggak usah bingung, aku dibelikan pak Ray," imbuh Rara
"Issss, cem ceman kamu Ra, no kaleng-kaleng beda ma si Raka," sahut Raya.
Kini mereka melanjutkan makan mereka, lalu Raya minta bukti-bukti perselingkuhan Raka dan juga jebakan Raka untuk Raka.
"Dengan adanya bukti yang kuat, kita bisa meminta kompensasi pada Raka, jika dia menolak kita bisa menuntutnya. Kamu juga bisa menuntut orang tua kamu," jelas Raya
"Nggak perlu, kok seperti kasus yang viral beberapa saat yang lalu, anak menuntut orang tuanya," sahut Rara
"Tapi orang tua kamu keterlaluan sekali Ra, tu orang tua kandung nggak sih, jangan-jangan kamu anak hasil temuan lagi," timpal Raya dengan tertawa.
Setelah selesai, kini Raya pamit terlebih dahulu. Dia memberi semua kontak teman-teman pada Rara, dia juga memasukan nomor Rara di grub mereka.
Setelah urusannya selesai, Rara pulang ke apartemennya.
*********
Hari ini adalah hari libur, oleh sebab itu Rara memanjakan dirinya di atas tempat tidur, dia enggan untuk turun, Rara mengambil ponselnya dan melihat foto Ray.
"Pak Ray," katanya
"Sampai kapan sikap anda kembali seperti biasa pak." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri, dia sungguh rindu Ray.
Meskipun dingin namun sikap Ray padanya sungguh hangat apalagi Ray telah berkorban banyak untuknya.
Rara mencoba menghubungi Ray namun lagi-lagi pesan dan panggilannya terabaikan.
Aarrgggg
Rara yang frustasi, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, seusai mandi dia pergi ke dapur untuk masak.
"Masak apa ya," gumam Rara
Di dalam kulkasnya hanya ada telur dan mie instan.
Di sisi lain Ray juga merasa malas untuk bangun, tidak seperti biasanya yang bangun pagi dan berolahraga.
Ray melihat ponselnya nampak panggilan tak terjawab dari Rara, dan sebuah pesan ucapan selamat pagi.
Ray tersenyum kecil lalu meletakkan ponselnya kembali tanpa membalas atau menghubungi kembali.
Keesokannya seperti biasa Rara datang terlebih dahulu, dia sengaja membuatkan kopi untuk Ray kali ini dia ingin memperbaiki hubungannya, dia sudah tidak tahan dengan sikap dingin Ray.
Saat Ray masuk, Rara segera berdiri dan mengekor di belakang Ray.
"Pak Ray," panggil Rara
"Apa," sahut Ray dengan datar.
"Saya buatkan kopi," kata Rara
"Aku lagi tidak ingin minum kopi," timpal Rara
"Saya buatkan teh ya," ucap Rara
"Nggak perlu," sahut Ray lalu dia membuka laptopnya dan mengabaikan Rara.
"Pak Ray, saya bicara dengan anda bisakah anda tidak mengabaikan saya," pinta Rara
"Tapi aku tidak ingin bicara dengan kamu," kata Ray.
Rara yang tidak peduli langsung saja mencium Ray, namun Ray malah mendorongnya sehingga Rara jatuh.
__ADS_1
Saat dia jatuh, dia tertawa sedangkan Ray yang mendorongnya merasa menyesal namun egonya terlalu tinggi untuk membantu Rara berdiri.
"Ok fine, saya tau saya salah. Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan saya yang memang keterlaluan, tapi semua itu terjadi juga karena saya tidak tau menau, tapi meskipun begitu saya memang salah. Untuk semua yang telah pak Ray lakukan untuk saya terima kasih banyak, semua kerugian anda akan saya kembalikan. Mulai detik ini saya tidak akan mengemis apapun lagi pada anda pak Ray. Terima kasih," kata Rara lalu dia membalikkan diri dan mengusap air matanya yang jatuh.
Rara kembali ke mejanya, lalu dia terdiam sesaat dan kini dia kembali ke pekerjaannya.
Revan datang lalu memberikan sejumlah berkas yang harus Rara cek.
"Kamu cek, setelah selesai berikan pada pak Ray," kata Revan
"Baik pak," sahut Rara lalu kini dia memulai mengerjakan pekerjaannya.
Setelah usai dia berdiri dan meletakkannya di meja Ray.
"Sudah saya cek," katanya lalu dia kembali ke mejanya.
Tak terasa jam makan siang sudah datang, Rara segera mengambil tas nya dan buru-buru pergi.
Ray mengerutkan alisnya, dia sungguh bertanya-tanya mau kemana Rara.
"Hari ini, gugatan kamu sudah aku masukkan. Kemungkinan dua hari lagi kalian sama-sama dipanggil," kata Raya
"Bagus Raya, semakin cepat semakin bagus," sahut Rara
"Rasakan kamu mas, harta yang kamu ambil akan aku ambil kembali dan harta kamu juga akan aku ambil." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri. Dia masih tidak percaya kalau Raka sekeji itu padanya, padahal dia telah mencintainya dengan tulus dan berusaha menjadi seorang istri yang penurut.
"Sabar Ra," Raya mencoba memberi kekuatan pada temannya. Dia sangat paham apa yang temanya rasakan.
Revan yang tau kalau Rara telah menggugat Raka melaporkan pada Ray, dan Ray tidak menduga Rara bertindak secepat itu.
"Wao, Ditinggal Sheryl dan kehilangan harta secara bersamaan," kata Ray
"Iya pak, sekarang bagaimana dengan hubungan anda dengan Rara? saya lihat anda masih marah padanya," tanya Revan
"Entahlah, aku sungguh kesal padanya namun aku juga merindukannya," jawab Ray
"Memang sih pak, sikap Rara itu keterlaluan tapi kita juga tidak bisa menyalahkannya seratus persen.
Baginya Raka adalah segalanya, lelaki yang amat dia cinta, saat dia tahu kalau kita ingin menghancurkannya tentu dia marah besar," ungkap Revan
"Lalu bagaimana sikap aku seharusnya?" tanya Ray
"Anda yang lebih paham," jawan Revan
"Ikuti kata hati anda pak, saya takut setelah Rara dapat semuanya, dia benar-benar pergi meninggalkan anda, dia telah terluka dan berangsur sembuh karena sikap anda, jika anda bersikap acuh tak acuh padanya, dia bisa pergi dan tidak pernah menoleh lagi," pesan Revan lalu keluar.
Sebenarnya tadi pagi Revan melihat drama Ray dan Rara, dia juga melihat Rara yang didorong Ray.
Ray nampak berfikir, apa dia sanggup jika Rara benar-benar meninggalkannya?
Ray lagi-lagi mengusap rambutnya dengan kasar, dia meminta Revan untuk mengubah surat perjanjian kerjanya dari tiga puluh milyar menjadi 300 milyar jika Rara keluar dari perusahaannya.
Revan hanya tersenyum, "Takut juga ditinggal pergi," batin Revan.
Rara yang baru datang langsung duduk dan membuka laptopnya.
Ray yang takut kehilangan Rara mendekati Rara dan langsung menarik kursi Rara.
"Maafkan aku," kata Ray dengan memeluk Rara
Mendapat pelukan dari Ray membuat Rara menangis
"Kenapa anda egois sekali pak," kata Rara
__ADS_1
"Iya maaf, dan untuk itu kamu boleh menghukum aku," sahut Ray yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintai kamu Ra,"