Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Berteman


__ADS_3

"Raymond, apa-apaan ini," teriak mama.


Mama Ray dan Rea berdiri di depan pintu, melihat mama Ray membuat Rara segera turun dari pangkuan Ray.


"Maaf," ucap Rara dengan menunduk


Mama Ray dan Rea segera mendekati Ray dan Rara,


"Bisa-bisanya kamu menggoda Ray saat jam kantor aktif Ra," maki mama


"Jangan salahkan Rara ma, Ray yang memaksanya," sahut Ray


"Jangan coba-coba membelanya," timpal mama Ray


"Bukan membela tapi memang Ray yang menyuruhnya untuk duduk di atas Ray," bela Ray


"Ok lah, terserah apa kata kamu Ray," ucap mama.


"Ini Rea baru datang, bisa kan kamu menjaganya sebentar mama ada meeting dengan dewan dan juga beberapa staf," titah mama


"Kenapa mama tidak memberitahu Ray kalau ada meeting dengan mereka," sahut Ray kesal karena mamanya bersikap seenaknya sendiri.


"Ingat saham kamu dan mama seimbang," kata mama Ray dengan tersenyum sinis.


Tak ingin debat lagi mama Ray meninggalkan Rea di ruangan Ray, memang tujuannya untuk membuat Rara panas. Sebelumya mama telah mendapatkan info kalau Ray memang suka bermesraan dengan Rara untuk itu beliau membawa Rea ke kantor untuk memecah kemesraan mereka.


Rara kini kembali ke mejanya, hadirnya Rea membuatnya sedikit tidak nyaman.


"Duduklah Rea," titah Ray tanpa menemani Rea


Dia sengaja membiarkan Rea duduk sendiri karena Ray ingin menjaga perasaan Rara.


"Ray," panggil Rea


"Hem," sahut Ray tanpa melihat Rea.


"Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Rea


"Enggak sama sekali," jawab Ray yang membuat Rara tertawa.


Mendengar Rara tertawa membuat Rea menatapnya.


"Ada yang lucu?" tanya Rea


"Nggak nona, maaf," jawab Rara dengan menahan tawa.


Rea nampak kesal, bisa-bisanya Rara menertawakannya.


"Ray aku ini baru datang, tidak maukah kamu menemani aku sebentar?" tanya Rea.


"Aku sibuk," jawab Ray


Lagi-lagi Rara ingin tertawa, tidak ada yang ditakutkan kini, dia yakin kalau Ray tidak akan berpaling darinya, nampak terlihat kalau Ray menghargai perasaanya.


Mama Ray yang selesai meeting kembali ke ruangan Ray, melihat Rea duduk sendiri membuat mama Ray marah.

__ADS_1


"Rea datang dari jauh bukannya ditemani ngobrol malah membiarkannya sendirian," omel mama


"Maaf mam, Ray sibuk," alasan Ray


"Lagipula ada hati yang harus Ray jaga," imbuh Ray.


"Susah memang bicara dengan kamu Ray," kata Mama lalu dia mengajak Rea pulang. Mama nampak kesal dengan Ray yang tidak bisa menghargai Rea.


Sepanjang perjalanan mama dan Rea hanya terdiam hingga Rea membuka suara.


"Untuk apa Tante menyuruh Rea datang kemari?" tanya Rea


"Tante berniat menjodohkan kamu lagi dengan Ray," jawab Mama Ray.


"Dulu Ray menolak Rea Tante dan pasti sekarang juga sama," sahut Rea.


"Kali ini dia pasti mau,' timpal mama


"Sudahlah Tante, Ray tidak pernah mencintai Rea lagipula dia sekarang sudah memiliki kekasih," sahut Rea dengan wajah sedih.


"Tante tidak suka dengan kekasih Ray, dia tidak selevel dengan kelaurga Toretto, lagipula tidak kah kamu lihat sikapnya yang murahan, dia selalu menggoda Ray mungkin dia telah menjual tubuhnya pada Ray," timpal mama Ray


Mendengar ucapan mama Ray membuat Rea berpikir, apa mungkin kini saatnya mengejar cintanya yang selalu diabaikan? tapi bagaimana dengan kekasih Ray? Rea berperang dengan pikirannya sendiri. Saat sedang perang pikiran, mama Ray mengompori Rea supaya terpengaruh dan mau dijodohkan dengan Ray.


"Saatnya kamu berjuang Rea, jangan menyerah," bujuk mama Ray.


Keluarga Steven memiliki kekuatan yang luar biasa, ditambah bisnis mereka yang selalu menjadi trend di setiap bulannya, dan ini tentu menjadi keuntungan yang besar bagi bisnis keluarga Toretto.


Rea nampak tersenyum, dia pun setuju jika mama Ray ingin menjodohkan dirinya dengan Ray.


Setibanya di kediaman mama Ray, Rea meminta ijin untuk istirahat.


"Apa Rea akan dijodohkan dengan pak Ray?" Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ray yang melihat Rara nampak lesu membuatnya bertanya-tanya. Apa kedatangan Rea membuat Rara lesu dan tak bergairah?


Ray mendekat, dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Rara.


"Ada apa sayang?" tanya Ray


"Nggak ada apa-apa sayang," jawab Rara berbohong


"Pasti ada apa-apa, meski baru beberapa bulan bersama namun aku cukup paham dirimu sayang," sahut Ray


"Apa wanita tadi wanita pilihan mama kamu?" tanya Rara


"Iya kelihatannya, aku belum tau pasti karena aku sendiri tidak tau," jawab Ray


"Dia cantik Lo," sahut Rara


"Masih cantikan kamu," timpal Ray


"Dia gadis, single," kata Rara


"Sedangkan aku janda," Imbuh Rara.

__ADS_1


"Kamu nggak tau, kalau janda itu selalu di depan, para gadis kalah," kata Ray yang membuat Rara tertawa, itu seperti slogan sepeda motor.


Ray nampak senang karena Rara sudah senyum kembali, dia membuat Rara supaya tidak terpengaruh pada siapa pun.


"Dengar sayang, sekali ku janji padamu cukup untuk selamanya, jangan kamu ragu kepadaku. Setiap malam kita selalu tidur bersama dan tidak melakukan pembayaran kontan, jadi apa masih kurang pembuktian cintaku?" kata Ray


"Telah aku lukis panorama rinduku, telah aku tulis azimat hatiku, aku kuncikan hati hanya lah untukmu, jadi jangan ragukan itu," imbuh Ray


Rara nampak tersenyum


"Pasti nyontek lagi kan?" tanya Rara yang membuat Ryan tertawa.


Waktu terus berlalu kini Ray telah sampai di rumahnya, mama dan Rea sengaja duduk di teras untuk menunggu Ray.


Tanpa kata Ray langsung masuk dan ini membuat mama kesal, "Cepat kejar dia," ucap mama


Rea segera mengejar Ray yang hendak masuk ke kamarnya.


"Ray," teriak Rea


Ray berhenti dan membalikkan badan.


"Ada apa?" tanya Ray


"Aku ingin bicara," jawab Rea.


Ray menghela nafas, dia malas sekali sebenarnya berbicara dengan Rea.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Rea?" tanya Ray


"Bisa kita duduk di balkon?" jawab Rea.


"Ayo," kata Ray


Ray dan Rea kini menuju balkon,


"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan," tanya Ray


"Begini, mama kamu ingin menjodohkan aku dan kamu, dan sebab itulah aku ada di sini," jawab Rea


"Aku sudah tau," sahut Ray


Rea nampak terdiam,


"Aku sudah punya kekasih, jadi jawabannya aku nggak mau dijodohkan dengan kamu," imbuh Ray


Rea tersenyum ketir namun dia juga tidak bisa memaksa Ray.


"Aku tahu Ray, untuk itu bisakah kita berteman minimal dengan berteman mama kamu mengira kita dekat dan tentu beliau tidak akan mengusik kamu dengan kekasih kamu," kata Rea


Ray nampak menimbang perkataan Rea, dan dia membenarkan kata-kata Rea.


"Aku hanya tidak bisa menolak keinginan mama kamu karena keluarga aku memiliki hutang Budi yang besar dengan mama kamu Ray," imbuh Rea


"Baiklah kita berteman saja tidak lebih," sahut Ray lalu dia meninggalkan Rea sendiri di balkon.

__ADS_1


Meski kesal namun Rea lega karena Ray telah menerima pertemanannya.


"Setidaknya aku bisa terus bersama kamu bila kita berteman,"


__ADS_2