Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Tetap pergi walau tanpa ijin kamu


__ADS_3

"Untuk apa pak? kenapa anda menghabiskan uang anda untuk hal-hal yang tidak penting seperti ini. Rara saja tidak tau menau masalah ini," kata Revan heran dengan Ray yang rela menghabiskan uang ber M M M demi membalaskan dendam yang mana orangnya saja tidak memiliki dendam dengan mantan suaminya.


"Aku ingin Raka merasakan sakitnya dibohongi karena dia dulu selalu membohongi Rara," sahut Ray dengan santai.


"Astaga pak, tapi nggak harus gitu juga kali, sayang kan uangnya, daripada buat Sheryl mending buat saya saja, atau saya yang pergi ke luar negeri," timpal Revan dengan tertawa.


Ray menatap asisten bawelnya tersebut, memang kalau dipikir-pikir Ray sudah sinting dia rela membuang banyak uangnya demi Rara.


"Oh ya Revan, buat Bisnis Raka yang baru dibangunnya berkembang pesat," kata Ray


Revan benar-benar nggak habis pikir dengan Ray bagaimana bisa dia ingin membuat bisnis rivalnya berkembang pesat, biasanya dalam cerita-cerita novel pada umumnya, rival malah ingin menghancurkan bisnis rivalnya tapi Ray malah sebaliknya.


"Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran anda pak, Raka itu rival anda kenapa anda malah ingin membuat bisnis Raka berkembang, daripada membuat bisnis Raka berkembang lebih baik mengembangkan bisnis sendiri," sahut Revan dengan menggelengkan kepala.


"Bisnis kita sudah berkembang pesat," sahut Ray


"Tapi saingan kita juga banyak pak," timpal Revan.


"Kita sudah di atas, kemungkinan untuk jatuh kecil sekali, semua bidang kita kuasai. Tak hanya offline kini kita merambah online, bahkan kita kini bisa menyaingi AMESONE milik Jiff Besus," ucap Ray


"Ya ya, tapi jelaskan dulu kenapa anda ingin membuat bisnis Raka berkembang pesat?" tanya Revan.


"Mana mungkin aku menjatuhkan bisnis Rara, semua itu akhirnya akan menjadi milik Rara jadi kita bantu perbesar sekarang," jawab Ray


Revan melongo mendengar kata Ray, pikiran Ray sungguh selangkah lebih maju dari dirinya.


Hebat sekali, dia sudah memperhitungkan yang tidak diperhitungkan oleh Revan.


"Bisa dibilang sambil menyelam kita minum air," imbuh Ray


Lagi-lagi Revan gagal paham dengan kata-kata Ray, apa maksudnya sambil menyelam kita minum air.


"Maksudnya pak?" tanya Revan


"Kamu telmi sekali," ejek Ray


"Ya kan malu bertanya sesat di jalan pak," sahut Revan tak mau kalah

__ADS_1


"Tapi kalau bertanya terus jadinya malu-maluin, kelihatan bodohnya," timpal Ray


"Intinya, saat semua itu jadi milik Rara, Raka akan menyesal dan sakit hati karena bisnis yang telah berkembang pesat lepas dari tangannya, kalau bisnisnya bangkrut dia tidak akan sesakit hati saat Rara mengambilnya. Paham?" tanya Ray


Revan tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya dua jempol tangannya yang dia acungkan, betapa salutnya dia dengan Ray yang sungguh jenius, apa-apa sudah dia perhitungkan dari awal.


Memang benar jika bisnis Raka jatuh, dia tidak akan sakit saat Rara mengambilnya, toh perusahaan sudah bangkrut namun saat berkembang pesat dia akan sakit hati karena bisnis yang berkembang pesat di kuasai Rara.


Karena tidak ada yang dibicarakan Ray kembali ke ruangannya dan Revan segera memberitahu Riad untuk rencana selanjutnya yaitu pergi ke luar negeri dengan Sheryl.


Riad yang kebetulan sedang chat dengan Sheryl segera memberitahu Sheryl kalau dia akan mengajak Sheryl ke luar negeri.


Tentu Sheryl sangat gembira, dan dia langsung menyetujuinya tanpa bilang pada Raka terlebih dahulu.


Sheryl seperti anak muda yang mengalami puber kedua, dia melihat ponselnya dengan senyum-senyum sendiri, tak berselang lama Raka datang dengan wajah yang merah, dia kesal sekali melihat Sheryl senyum-senyum sendiri dengan menatap ponselnya.


"Siapa yang chat dengan kamu sehingga kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Raka dengan raut wajah yang berubah.


Raka segera mendekati Sheryl dan mengambil ponsel milik Sheryl, seketika Sheryl memucat untung tadi dia menghapus semua chat dan list panggilan dari Riad dan untungnya juga dia menamai Riad dengan nama Renata jadi bisa mengelabuhi Raka tapi kalau Riad membalas chat terakhirnya dan memanggilnya sayang, matilah dia.


Raka mengecek semua panggilan dan chat Sheryl, dan dia menemukan balasan chat dengan nama Renata, yang isinya hanya Ok. "Siapa Renata?" tanya Raka dengan heran karena Sheryl menghapus semua chat Renata.


Tiba-tiba ponsel Sheryl berbunyi dan Raid yang memanggilnya.


"Tuh sayang Renata menelpon," kata Sheryl lalu mengambil ponselnya.


"Iya, Ren nanti kita ketemu di tempat biasa, maaf ini ada calon suami aku aku tutup dulu ya," ucap Sheryl lalu mengakhiri panggilan telponnya sebelum Riad berkata apa-apa.


Sheryl merayu Raka dengan rayuan mautnya, dia juga menarik Raka ke kamar untuk memberinya service ranjang karena mungkin Raka merindukannya.


"Kamu kenapa selama aku pergi sulit dihubungi?" tanya Raka


"Kan sudah aku jelaskan semua by chat kemarin sayang, kenapa kamu masih bertanya?" jawab dan tanya Sheryl balik.


Sheryl yang tidak ingin dikejar mengenai hal itu pun memainkan bagian bawah Raka dan ini membuat Raka melayang dan melupakan pertanyaannya.


"Lebih baik kita bermain daripada membahas yang nggak penting," kata Sheryl lalu melanjutkan aksinya.

__ADS_1


Entah mengapa service Sheryl begitu nikmat hingga Raka keluar sebelum bagian bawahnya masuk dalam sarang.


"Udah keluar mas?" tanya Sheryl


"Nikmat sekali," jawab Raka lalu kini saatnya dia yang memimpin.


Ya begitulah Raka dan Sheryl yang setiap harinya melakukan dosa besar, namun semua itu urusan mereka dengan Tuhan mereka kita tidak boleh mengjudge yang pastinya hal tersebut sangat tidak dibenarkan dalam norma-norma negara kita karena melanggar norma asusila dan norma agama.


Murahan mungkin itu sebutan untuk Sheryl sehabis memberikan service untuk Raka dia kini menemui Riad, "Kenapa lama sekali?" protes Riad.


"Maaf, aku nunggu calon suami aku memberi ijin," sahut Sheryl


"Kita mau kemana?" tanya Sheryl


"Belanja untuk keperluan kita di Korea karena di sana sedang musim dingin," jawab Riad


"Ok," sahut Sheryl dengan senang, karena lagi-lagi dia dimanjakan oleh Riad.


Sheryl membeli banyak barang, dan Ray harus mengeluarkan uang sekitar 300 juta untuk belanja Sheryl kali ini.


"Aku heran dengan Billionaire itu, untuk apa melakukan hal seperti ini," batin Riad dengan menatap heran Sheryl yang suka sekali belanja.


Seminggu telah berlalu, Sheryl melakoni perselingkuhannya dengan epik seperti Raka dan dirinya dulu yang bermain dibelakang Rara.


"Pokoknya ingat Riad saat aku di rumah jangan chat atau hubungin aku dulu, kalau nggak aku yang hubungi kamu dulu," pesan Sheryl


"Ok beb," sahut Riad lalu mengecup bibir Sheryl.


Saat masuk rumah ternyata Raka sudah pulang dan ini membuat Sheryl terkejut.


"Siapa yang mengantar kamu?" tanya Raka


"Itu kakak Renata sayang," jawab Sheryl dengan sedikit gugup.


"Ingat Sheryl jangan pernah macam-macam, sebentar lagi kita akan menikah, bukankah ini yang kita inginkan dari dulu," kata Raka


"Iya iya mas, cerewet sekali. Oh ya mas, selama dua Minggu ke depan aku mau ke luar negeri bersama Renata," ucap Sheryl yang membuat Raka kaget.

__ADS_1


"Nggak, aku nggak mengijinkan," sahut Raka


"Terserah, aku akan tetap pergi meski tanpa ijin kamu,"


__ADS_2