
Rara menghela nafas, dia mencoba tenang melihat suaminya bercanda dengan wanita lain.
"Tenang Ra, tenang." Rara menyemangati dirinya sendiri.
Dia berjalan menghampiri Ray dan langsung ikut duduk.
"Jadi ini urusannya," sindir Rara dengan menatap Ray
"Kamu ngapain kesini?" tanya Ray heran.
"Nunggu seseorang," jawab Rara dengan ketus.
"Lebih baik kamu pulang," titah Ray dengan raut wajah yang tidak enak.
"Pulang sama kamu," sahut Rara
"Aku masih ada urusan," timpal Ray
"Urusannya bercanda dengan wanita ini?" ucap Rara dengan penuh penekanan.
"Jaga ucapan kamu, dia itu klien aku." Ray tidak terima dengan ucapan Rara
Raisa kesal karena Rara mengganggu waktu sarapannya dengan Ray.
"Lebih baik anda pulang nona, karena memang kami masih ada urusan," kata Raisa
Spontan Rara menatap Raisa dengan tajam
"Lebih baik anda yang pergi," sahut Rara tak terima
"Kami ini lagi ada kerja sama dengan nilai yang lumayan fantastis, jadi mengertilah," ucap Ray.
"Memangnya berapa nilainya?" tanya Rara
"Kenapa sih kamu banyak bertanya?" Ray membentak Rara sehingga spontan Rara tersentak kaget.
"Kamu membentak aku hanya demi kerja sama dengan dia!" Nada bicara Rara ikut meninggi.
Mata Rara berkaca karena bentakan dari Ray namun dia mencoba membendung air matanya yang ingin keluar.
"Nona gini, kerja sama kami itu mencapai angka trilyunan tolong mengertilah, lagipula anda ini kan seorang istri, seharusnya anda itu di rumah menunggu suami pulang bukannya malah mendikte seperti ini," ucap Raisa kesal.
"Lagipula anda tidak paham bisnis jadi nurut suami saja," imbuh Raisa dengan senyuman mengejek.
Rara sangat kesal dengan ucapan Raisa.
"Putuskan saja kerja sama ini, segala kerugian aku yang tanggung," sahut Rara
Rara telah mencium bau-bau tak beres dari Raisa, dengan alih alih kerja sama dia ingin mendekati Ray namun Ray saja yang buta dan bodoh mau saja ditipu daya oleh Raisa.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Rara membuat Raisa tertawa. Dia tertawa seolah mengejek Rara.
"Kamu ini hanya seorang istri memangnya sanggup mengganti rugi kerugian jika Ray membatalkan kerja sama ini secara sepihak," ejek Raisa.
Rara hanya tersenyum miring mendengar ejekan Raisa. Rara mengambil ponselnya lalu memotret wajah Raisa dan mengirimkannya pada Leo.
"Cari tau siapa dia dan perusahan yang dia pimpin, aku ingin kamu buat saham perusahaannya anjlok dan buat dia gulung tikar." Rara mengirim pesan pada Leo.
Ray yang mencium bau tidak enak bertanya pada Rara.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ray
"Dulu saat aku disakiti, aku menerimanya tanpa membalas tapi sekarang aku tidak akan diam jika aku disakiti," jawab Rara
Ray nampak terdiam, memang dari segi manapun dia tetap kalah dengan Rara.
Tak berselang lama Leo datang dan menghampiri Rara dan Ray.
"Pagi bos," sapa Leo
Raisa nampak tercengang melihat Leo, pasalnya Leo telah terkenal di dunia bisnis sama seperti Ray.
Raisa telah salah tangkap, dia mengira kalau Leo menyapa Ray dengan panggilan bos.
"Saya sudah melakukan apa yang telah anda perintahkan bos," ucap Leo
Raisa nampak kaget kalau yang disapa bos ternyata Rara.
Dia juga nampak shock karena kini perusahannya tiba-tiba di ujung tanduk.
"Kenapa tiba-tiba perusakan aku sahamnya anjlok?" teriak Raisa tak percaya
Rara hanya tersenyum,
Ray yang tau kalau ini perbuatan Rara meminta Rara untuk mengembalikan perusahaan Raisa.
"Segitunya kamu bela dia, kamu ingat nggak apa yang dulu kamu lakukan padaku saat aku disakiti, tapi sekarang kamu malah membelanya, hey yang istri kamu ini aku atau dia," kata Rara lalu pergi meninggalkan Ray dan Raisa.
"Istri kamu sungguh kejam Ray," kata Raisa sambil menangis lalu pergi meninggalkan Ray seorang diri.
Ray mengusap rambutnya dengan kasar, dia yang bingung memilih pulang dan berbicara pada Rara, dia juga cemburu melihat Rara dekat dengan Leo apalagi saat keadaan Rara seperti ini.
Rara dan Leo pulang dengan mobil Rara, sepanjang perjalanan Rara menangis, dia sungguh tak habis pikir kalau Ray bersikap seperti itu padanya.
"Aku tidak tau jalan di sini, jika anda terus menangis kita akan nyasar kemana-mana," kata Leo
Karena sudah nyasar, sekalian Rara mengajak Leo untuk pergi ke pantai lalu dia memberikan ponselnya pada Leo.
"Gunakan GPS, kita ke pantai," titah Rara
__ADS_1
Leo segera melaksanakan titah Rara, dua jam kemudian mereka telah sampai di pantai yang cukup asri.
"Sedari tadi menangis apa tidak capek," kata Leo dengan menatap atasannya tersebut.
"Kasian anak yang ada di dalam perut anda bos," imbuh Leo
"Kamu jangan formal gitu Leo, panggil aku Rara saja, kalau di kantor baru gunakan bahasa formal," kata Rara
"Ok, Gimana baiknya saja," sahut Leo
"Aku tidak menyangka Leo, dia akan menyakiti aku seperti ini, dia ada niat Lo kalau mau selingkuh," ucap Rara dengan terisak.
Hati wanita mana yang tidak sakit jika suami yang amat sangat disayang lebih memilih membela wanita lain daripada istrinya apalagi keadaannya yang hamil besar seperti ini.
"Sabar, terkadang alur cerita itu tidak bisa kita tebak, kita hanya pion yang dipaksa menjalankan skenario yang dibuat untuk kita," kata Leo
"Betul, sekejap manusia bisa berubah. Yang awalnya cinta bisa jadi benci yang awalnya benci bisa jadi cinta yang awalnya perhatian bisa jadi cuek dan acuh," sahut Rara
"Nah itu kamu tau. Aku tidak bisa memberi saran apa-apa karena yang tau Ray itu kamu begitu pula sebaliknya," ucap Leo
Rara menatap kagum Leo, sungguh Leo dewasa sekali bahkan dia bukan tipe penjilat. Dia tidak menjelek-jelekkkan Ray di depannya.
Rara dan Leo berjalan di tepi pantai, banyak yang Leo ceritakan pada Rara. Mulai kisah cintanya yang menyedihkan hingga kisahnya yang lucu.
"Aku senang jika kamu bahagia Ra," kata Leo dalam hati
"Maksih Leo," kata Rara
"Sama-sama," balas Leo.
Sikap Leo cukup membuat Rara terhibur. Sejenak dia bisa melupakan Ray.
Karena hari sudah malam Rara memutuskan untuk pulang.
"Kamu bawa saja mobil aku Leo," kata Rara
"Baiklah," sahut Leo
Rara bergegas masuk ke dalam kamarnya, saat membuka pintu Rara melihat Ray duduk di sofa.
"Enak ya keluyuran sama Leo," sindir Ray
"Lalu bagaimana dengan kamu," sahut Rara
"Aku dan Raisa tidak ada hubungan apa-apa, kamu hanya rekan bisnis," timpal Ray
"Dulu kamu dan aku juga bukan apa-apa, kita hanya atasan dan bawahan," ucap Rara
Wajah Ray tengah merah padam, dia sungguh kesal dengan Rara yang berani membantah kata-katanya.
__ADS_1