
Rara memerintahkan Leo untuk ke US malam ini juga, dia sungguh kecewa pada Ray.
"Tapi bagaimana dengan bayi kamu? jet pribadi kita kan berada di Amerika" tanya Leo dalam sambungan telponnya.
"Kamu beli malam ini juga atau bisa juga sewa jet atau menyewa pesawat milik maskapai penerbangan," jawab Rara
"Baiklah," sahut Leo.
"Aku tunggu kabar baiknya," balas Rara lalu dia memutuskan secara sepihak sambungan telponnya.
Seusai memutuskan sambungan telponnya Rara berjalan cepat sambil menangis.
Dia sudah tidak tau lagi bagaimana nasib dirinya dan Ray bagi Rara yang terpenting adalah keselamatan bayinya.
Revan dan Rehan yang hendak ke ruangan Ray tak sengaja melihat Rara menangis keluar rumah sakit.
"Itu kan Rara? kenapa dia menangis?" tanya Rehan pada Revan
"Entahlah Re, kasian juga melihat dia," jawab Revan yang tentu tidak tau kenapa Rara menangis.
Revan dan Rehan segera pergi ke ruangan Ray dia melihat Raisa duduk menemani Ray.
"Pasti gara-gara ini, astaga salah paham lagi," kata Revan
Rehan dan Revan mendekati Raisa.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Revan
"Aku tadi tidak sengaja melihat Ray jadi aku menemaninya," jawab Raisa
"Tapi kamu tidak berhak berada di sini, ingatlah batasan kamu Raisa apa yang kamu lakukan ini menimbulkan salah paham," maki Revan
"Salah paham apa sih, aku hanya ingin menungguinya," sahut Raisa
"Kalau Rara tau dia bisa salah paham," timpal Revan
"Lagian Rara itu juga nggak kesini," ucap Raisa
"Mana peduli dia sama suaminya," imbuh Raisa
Revan dan Rehan saling pandang seolah pikiran mereka sama.
Revan segera berlari keluar dia ingin menemui Rara kalau apa yang dilihatnya adalah salah paham semata.
"Aaarrgggg, dia sudah pergi," kata Revan yang tidak berhasil menemukan Rara.
Revan yang kesal pada Raisa menyuruh Raisa untuk pergi namun dia tetap bersikeras untuk tetap menemani Ray.
"Kamu pengin atau aku akan menggunakan kekerasan," ancam Revan
Mau nggak mau Raisa pergi
Di sisi lain Rara sampai di rumah Ray, dia segera mengambil koper dan memasukkan semua pakaiannya.
"Selamat tinggal," ucapnya dengan menangis
Rara melihat foto Ray dan dirinya, "Aku tidak menyangka sayang kamu tega melakukan ini padaku, kamu salah jika kamu berpikiran aku akan diam saja saat kamu menyakiti aku." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Rara mencium foto Ray lalu meletakkannya kembali tak lupa dia meletakkan cincin kawin yang setia selama 20 bulan melingkar di jari manisnya.
"Selamat tinggal, maaf. Rara sekarang berbeda dengan Rara yang dulu. Dulu saat aku disakiti aku akan diam namun kali ini aku lebih memilih mundur dan pergi," katanya lalu keluar dari kamarnya.
Sebelum turun Rara masuk ke dalam kamar samping kamarnya yang tak lain adalah kamar anaknya.
Ternyata Ray sudah menyiapkan semuanya, perabot bayinya sudah lengkap, mulai dari tempat tidur, lemari, ayunan, mainan dan lain-lain. Di dinding juga ada foto Rara dan Ray saat Ray mengelus perut besar Rara.
Rara terduduk di lantai, dia menangis mengingat kembali masa-masa bersama Ray dulu.
"Akankah semua harus berakhir seperti ini?" kata Rara sambil terisak.
Namun tiba-tiba perlakuan Ray yang menyakiti hatinya teringat kembali dan seketika Rara berdiri lalu mengusap air matanya.
Rara menyeret koper miliknya dan pergi dari rumah Ray, sempat pak Hendra bertanya namun Rara berbohong supaya para pelayan tidak melarangnya untuk pergi.
Rara pergi ke rumah sakit untuk mengambil bayinya namun dia meminta dokter dan perawat untuk menemaninya melakukan perjalanan ke Amerika.
"Saya akan membayar berapapun yang kalian inginkan asal kalian mendampingi bayi aku dan menjamin keselamatannya," kata Rara
Mereka tau kalau Rara adalah istri Ray sehingga mereka tidak berani menolak keinginan Rara.
"Baiklah," kata dokter
Leo kini yang dipusingkan untuk mencari jet, untungnya salah satu rekan bisnisnya mau meminjamkan jet pribadi miliknya.
Tiga jam berlalu, jet yang meluncur dari Singapura telah mendarat di Bandara internasional. Setelah satu jam melakukan persiapan kini semua naik termasuk Leo.
Rara sengaja tidak pamit pada orang tuanya karena tidak ingin membuat orang tuanya sedih lagipula dia masih bisa pulang kalau dia kangen.
Jet pun sudah lepas landas, sebelumnya di bandara beberapa anak buah Ray menghalangi jalan Rara namun anak buah Rara lebih kuat sehingga mereka bisa melumpuhkan anak buah Ray.
Ini semua juga Ray yang mengawali jadi kini Ray juga yang harus mengakhiri polemik rumah tangganya.
Dia harus berjuang sendiri kini.
Pagi datang dengan cepat, Ray perlahan membuka matanya.
"Aku dimana ini?" tanya Ray
"Anda di rumah sakit," jawab Revan
"Rara mana?" tanya Ray
Revan terdiam, dia sungguh bingung apa harus mengatakan kalau Rara telah pergi atau tidak mengingat kondisi Ray yang tidak memungkinkan.
Ray beranjak dari tidurnya entah mengapa Ray memiliki firasat yang tidak baik.
"Anda mau kemana?" tanya Revan
"Melihat bayi aku," jawab Ray lalu mencabut infus yang menempel di tangannya.
"Jangan," larang Revan
"Kenapa?" tanya Ray dengan curiga
"Karena anda masih sakit," jawab Revan berbohong
__ADS_1
"Aku sudah sehat," sahut Ray
"Siapa bilang," timpal Ray
Ray berjalan menuju pintu dan saat hendak keluar Revan berteriak
"Rara telah membawa bayi anda pergi," teriak Revan
Ray mematung di pintu, tubuhnya serasa disambar petir
"Apa," kata Ray dengan lirih.
Seketika matanya basah mendengar kalau Rara meninggalkannya.
"Kenapa dia tega pergi," ucap Ray dengan menyandarkan kepalanya di pintu
Revan mendekati Ray yang terpukul, dia berbicara pada Ray tanpa ada kata Formal.
"Raisa telah membuat Rara salah paham," kata Revan
"Wanita itu," sahut Ray dengan kesal.
"Semalam Rara kesini saat kuberi tahu kalau kamu masuk rumah sakit," kata Revan
"Lalu?" tanya Ray
"Aku tidak tau kronologinya karena saat itu aku meninggalkan kamu sendiri di sini, aku menemui Rehan untuk berbicara padanya. Pas aku dan Rehan hendak kembali ke sini, kami melihat Rara pergi dengan menangis," jawab Revan menjelaskan.
"Kenapa dia menangis?" tanya Ray lagi
"Karena ada Raisa yang menunggui anda," jawab Revan
"Oh Shiiiiiit," umpat Ray
Tanpa bicara apa-apa Ray pergi menemui Raisa, dia ingin membuat perhitungan dengannya. Sudah waktunya Ray tegas, dia lah dalang kekacauan rumah tangganya hingga datang Raisa jadi dia harus mengakhiri semuanya.
"Raisa!" teriak Ray
"Halo Ray, aku sangat kangen padamu," balas Raida dengan manja.
"Aku harap kamu nggak membuat salah paham antara aku dan Rara," kata Ray
"Apa maksud kamu?" tanya Raisa
"Aku nggak suka kamu menemui Rara dan bilang ingin jadi yang kedua dan lagi siapa yang menyuruh kamu untuk menunggui aku! aku tegaskan padamu aku hanya mencintai istriku seorang," jawab Ray
"Lalu bagaimana dengan hari-hari kita sebelumya, kamu yang memberi harapan padaku dan kita juga saling nyaman," sahut Raisa tak terima
"Iya tapi tak lebih dari teman," timpal Ray
"Nggak aku nggak mau, aku ingin kamu juga mencintai aku," sahut Raisa dengan memeluk Ray
Ray memberontak saat Raisa memeluknya namun Raisa enggan untuk melepaskannya bahkan Raisa dengan berani memegang bagian sensitif Ray.
"Jaga batasan kamu!" teriak Ray lalu melempar tubuh Raisa.
"Kenapa? bukan lah kamu lama tidak mendapatkan kepuasan? aku bisa memuaskan kamu Ray," kata Raisa
__ADS_1
Raisa membuka penutup tubuhnya sehingga Ray menatapnya dengan benci.
"Dasar wanita murah dirimu Raisa!"