
"Kamu menghamili wanita?" tanya Rara dengan tatapan yang tak biasa.
Ray yang mendengarnya kemudian beranjak dan meletakkan ponselnya di meja.
"Satu-satunya wanita yang ingin aku hamili itu kamu," jawab Ray
"Lantas tadi itu apa? siapa yang hamil?" tanya Rara penuh penekanan.
"Bukan siapa-siapa," jawab Ray
"Aku nggak percaya," sahut Ray cemberut.
Ray menghela nafas, dia masih belum ingin Rara mengetahui semuanya, hubungannya dengan Rara baru seumur jagung, kepercayaan dan cinta Rara masih belum kuat, untuk itu Ray tak ingin berbagi soal sheryl dan Raka padanya.
"Aku baca sebuah artikel, wanita yang aku maksud dalam kisahnya memerankan peran antagonis, jadi aku senang jika dia hamil dan ditinggal teman prianya," kata Ray berbohong.
"Yakin?" tanya Rara
"Iya, memangnya aku pernah berbohong padamu?" tanya Ray balik
"Berbohong sih nggak cuman sering modus," jawab Rara.
"Eh, aku nggak kebayang nasib wanita itu, sadis sekali prianya, ingin rasanya aku potong anunya biar nggak bisa menghamili wanita lagi," imbuh Rara
Mendengar kata Rara membuat Ray tanpa sadar memegangi area terlarang miliknya.
Rara yang melihat Ray jadi tertawa, "Sayang yang ingin aku potong tu milik lelaki dalam cerita yang kamu baca bukan milik kamu, kenapa kamu memeganginya?" tanya Rara dengan tertawa.
"Reflek aja tangan aku," jawab Ray.
Ray tersenyum licik, "Apa kamu ingin menikmatinya?" tanya Ray
"Nggak, aku ingin menikmatinya setelah kita menikah," jawab Rara
Rara segera beranjak, karena kalau sudah begini pasti Ray akan minta hal lebih. Belum sempat melangkahkan kaki Ray sudah menarik tangan Rara, sehingga Rara terjatuh di dalam pangkuan Ray.
"Kenapa setiap kita membahas hal itu kamu pasti kabur?" bisik Ray dengan menggigit kecil telinga Rara. Ray melanjutkan aksinya dengan mengendus leher Rara.
"Karena aku nggak ingin kita khilaf sayang," jawab Rara dengan sedikit mend354h, kini tangan Ray telah bermain di dalam kaos tipis miliknya.
Tangannya juga sudah merambat ke belakang untuk melepaskan kait penutup dada Rara.
"Kamu mau apa sayang?" tanya Rara
Ray meletakkan jadi telunjuknya di bibir Rara, yang tandanya Rara dilarang untuk bertanya.
Ray kini menaikkan kaos Rara sehingga bagian dadanya terekspos sempurna.
__ADS_1
"Kamu cabul sekali sih sayang aaahhhh," teriak Rara saat dia merasakan bibir Ray memainkan pucuk dadanya sedangkan tangan lainnya memainkan dada satunya.
"Nikmati saja, aku sungguh suka melihat ekspresi kamu saat aku memainkannya," kata Ray lalu kembali lagi ke aktivitasnya.
Ray terus memainkannya hingga kini dia dan Rara sama-sama berhasrat.
Puas dengan dada kini bibirnya balik ke atas, lalu dia melumaaaaaaatttt habis bibir merah kekasihnya. Setalah puas Ray menyudahi aksinya.
"Milik kamu sudah mengeras sayang," kata Rara
"Iya, bagiamana dengan kamu?" jawab dan tanya Ray
"Sama, aku basah," jawab Rara.
Ray tertawa mendengar jawaban kekasihnya.
"Kalau sudah berhasrat, ini yang susah," kata Rara dengan wajah yang tak karu-karuan.
"Apa kamu butuh bantuan tangan aku sayang?" tanya Ray
"Eh nggak sayang, aku bisa menahannya. Kalau kamu nggak tahan bisa bersolo karier sebentar," ucap Rara menolak tawaran Ray
"Kamu yang bantu ya," goda Ray
"Sayang, kamu cabul sekali," teriak Rara lalu berlari masuk ke dalam.
Ray hanya tertawa melihat kekasihnya, sungguh pertahanannya kuat juga padahal Ray ingin sekali-kali khilaf. Supaya tidurnya nanti jadi nyenyak.
"Aku dimana?" gumamnya dengan memijat kepalanya yang terasa pusing. Sheryl menggapai ponselnya, hal yang ingin dia lakukan adalah menghubungi Riad, namun lagi-lagi nomor Riad tidak aktif.
"Brengsek kamu Riad," umpat Sherly dengan menangis.
"Kenapa riad, saat aku sudah pergi dari Raka kini malah kamu yang menghilang, apartemen bukan milik kamu, perusahaan juga bukan kamu yang menjadi CEO nya, jadi kamu itu siapa? kenapa menjanjikan hal yang indah selepas itu kamu pergi?" Sheryl bermonolog dengan dirinya sendiri. Kini dia sungguh bingung. Jika Riad benar-benar menghilang bagaimana dengan hidupnya. Dia tidak memiliki apa-apa karena selama ini dia tidak kerja dan hanya mengandalkan Raka.
Sikap borosnya membuat Sherly tidak memiliki tabungan sama sekali, uang yang diberi Raka dan Riad lewat saja.
Tak selang beberapa lama, perawat datang dengan membawakan makanan untuk Sheryl sekalian mengecek keadaannya.
"Anda sudah bangun?" tanya perawat dengan meletakkan makanan Sherly di atas nakas.
"Kenapa saya berada disini sus?" tanya Sheryl
"Anda tadi pingsan dan beberapa orang membawa anda kemari," jawab suster.
"Selain mereka apa tidak ada yang lain lagi?" tanya Sheryl.
"Ada, seorang lelaki. Kami pikir dia suami anda namun dia pergi saat anda masih di ruang UGD," jawab suster
__ADS_1
"Apa dia berperawakan Arab?" tanya Sheryl lagi
"Tidak, dia orang lokal," jawab suster
"Raka," timpal Sheryl
"Kapan saya boleh keluar dari rumah sakit ini sus?" tanya Sheryl
"Setelah keadaan anda pulih nona, untuk saat ini anda masih lemah sekali. Anda juga harus melakukan USG untuk mengetahui perkembangan janin anda," jawab suster
"Apa? USG? kenapa harus di USG? apa saya hamil?" Sheryl memberondong suster dengan banyak pertanyaan.
"Iya anda hamil," jawab suster.
Mendengar jawaban dari suster membuat Sheryl shock.
"Tidaaaaakkkkkkk," teriaknya
Sherly sungguh histeris saat tau dia hamil. Apalagi sekarang Riad menghilang bak ditelan bumi. Lantas siapa yang bertanggung jawab dengan anak yang dikandungnya?
"Saya tidak mau anak ini sus," teriak Sheryl dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Sheryl memukul mukul perutnya, dia sungguh tidak ingin hamil, apalagi bapak dari anaknya telah menghilang dan tidak bertanggung jawab.
Suster segera memegangi tangan Sherly kemudian dia memencet tombol supaya perawat lainnya datang dan menolongnya.
"Dia histeris karena tidak ingin hamil," kata Suster
Perawat lainnya segera menyuntik Sheryl.
Sheryl diberi obat penenang supaya tenang. Dan tak selang berapa lama dia tertidur.
Raka semenjak pulang dari rumah sakit dia nampak terdiam bahkan papa yang sedari tadi berbicara kepadanya diabaikan, seolah Raka ini buta dan tuli plus bisu.
"Kamu kenapa sih Raka?" tanya papa
Raka hanya diam tanpa merespon atau menjawab pertanyaan papanya.
Papa Raka yang cemas berusaha memanggil dokter.
Dokter yang baru datang segera melihat kondisi Raka, dan Dokter pun menggelengkan kepala.
"Mohon maaf pak, namun sebaiknya anda memanggil psikiater karena kelihatannya anak anda mengalami gangguan kejiwaan, itulah yang menyebabkan dia diam," kata Dokter.
Papa Raka sungguh shock mendengar ucapan dokter.
"Raka Raka, kenapa jadi begini?" Papa bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Papa yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan Raka segera meminta orang kepercayaannya untuk mencarikan psikiater ternama untuk mengobati Raka.
"Papa tak mengira kamu akan depresi seperti ini,"