
"Mana mama kamu Ray?" tanya Ken Steven.
"Beliau sudah kembali ke US calon papa mertua," jawab Ray dengan raut wajah yang sedih.
Ken Steven menepuk bahu Ray mencoba menenangkan Ray, memang siapa pun orangnya pasti sedih jika orang tua tidak hadir di momen penting seperti ini.
Kini pikiran Ray jauh melayang ke masa di mana saat dia wisuda, semua teman kampusnya datang dengan orang tua masing-masing bahkan Rehan dan Revan juga ditemani orang tua meraka namun hanya dia yang datang sendirian, tidak ada peluk cium seperti teman-temannya dan kini dia merasa hal terulang kembali, mamanya dengan sengaja kembali ke US saat dia akan melangsungkan pertunangan.
Saat asik melamun, sebuah tangan menepuknya.
"Siapa yang bilang mama kembali ke US, mama menunggu sampai kamu resmi bertunangan, kamu pikir siapa yang membelikan jas indah ini dan juga gaun indah milik calon istri kamu," kata mama Ray yang membuat Ray kaget.
"Mama," ucap Ray
"Jadi ini mama yang belikan? bukan Rara," imbuh Ray
"Menurut kamu siapa lagi, mana mungkin selera mama sama dengan selera Rara?" ucap Mama
"Iya, tentu bagus selera mama," jawab Ray dengan mata yang basah.
Dia tidak menyangka kalau mamanya masih memikirkan perasaannya bahkan memilihkan baju untuknya.
Mama Ray menoleh ke arah Rara,
"Jadi kamu harus belajar banyak kepadaku Ra, supaya selera kamu disukai oleh Ray, karena tetap seleraku yang jadi pilihannya," kata mama Ray yang membuat Rara menangis haru.
"Baik ma," ucap Rara lalu memeluk calon mama mertuanya.
"Lihatlah Rena, anak kamu memanggilku mama, dia sekarang menjadi anakku. Aku janji akan menyayanginya dengan sepenuh hatiku," kata mama Ray dengan menangis.
Rara semakin mengeratkan pelukannya, dia sungguh terharu hingga terisak.
Ray pun kini ikut memeluk kedua wanitanya.
"Jangan menangis, kalian cengeng sekali," kata Ray
"Kamu pun juga menangis sayang," sahut Rara.
Semua sungguh terharu melihat keluarga Toretto.
"Bagiamana jika acaranya di mulai besok, supaya kalian bisa saling peluk dulu," kata Ken Steven yang membuat semua melerai pelukannya.
"Sekarang dong calon papa mertua, supaya saya bisa malam pertama," celoteh Ray yang membuat Rara menggelengkan kepala.
__ADS_1
Mana ada malam pertama setelah pertunangan.
Karena tidak ingin basa basi lagi, Ken Steven memulai acara pertunangan Ray dan Rara.
Kini saat yang ditunggu-tunggu dimana Ray akan memberitakan cincin kepada Rara sebagai simbol kalau Ray ingin menjadikan Rara wanitanya.
Ray kini berdiri di hadapan Rara dan membuka kotak warna merah.
"Dengarkan lah, wanita impianku. Hari ini akan ku sampaikan, hasrat suci kepadamu dewi ku jadi dengarkanlah kesungguhan hati. Aku ingin mempersunting mu untuk yang pertama dan yang terakhir. Jangan sampai kamu menolaknya dan membuat aku hancur karena aku tak ingin mengulang tuk meminta, satu keyakinan hatiku kini, akulah yang terbaik untuk mu," kata Ray yang menuturkan sepenggal lirik lagu band terkenal.
"Iya sayang, iya aku mau menerima kamu menjadi imam aku meski kamu kini masih belum muslim, aku ingin menjadi tulang rusuk kamu yang hilang, aku ingin menjadi wanita yang selalu kamu lihat setiap pagi kamu dan aku ingin menjadi ibu dari anak-anak kamu," ucap Rara yang membuat Ray memeluknya.
Kini Ray memakaikan cincin kedua kalinya di jari manis Rara.
"Terima kasih sayang," timpal Ray kemudian dia mengecup bibir Rara yang kemudian menjadi pautan dan sebagainya.
Rehan, Revan, Raya dan Rea menggelengkan kepala, bisa-bisanya mereka malah berciuman mesra di depan tamu dan orang tua.
"Rehan sudah, Ray sudah tinggal aku saja nih yang belum punya tunangan," kata Revan
"Bukan hanya anda saja pak Revan saya juga belum," sahut Raya
"Bagiamana kalau kita bertunangan secepatnya," timpal Revan asal
"Aku suka kok sama kamu," sahut Revan
"Lo alah pak Revan kenapa nggak nembak sih kalau suka, kenapa menunggu saya bilang dulu," timpal Raya.
Revan menggeser tubuh Rea yang bersebelahan dengan Raya
"Rea minggir, jika perlu sana jauh-jauh," usir Revan yang membuat Rea kesal.
"Duh yang mau nembak, sana jauh-jauh cari tempat yang sepi buat menyatakan cinta." kata Rea dengan kesal.
"Maklum sayang, dia itu jomblo abadi," sahut Rehan
"Kamu kan juga iya sayang, sebenarnya kalian bertiga lo jomblo abadi, tampang aja yang ok tapi cemen," ejek Rea.
"Eh eh jangan sembarangan, aku itu nggak cemen cuma terlalu sibuk saja." Rehan tidak terima jika dibilang cemen.
Karena ingin konsentrasi, Revan mengajak Raya untuk pergi ke mobilnya dia ingin menyatakan cinta yang romantis kepada Raya karena tidak nyaman bilang cinta jika banyak orang.
*************
__ADS_1
"Selamat Ray," ucap Ken Steven
"Terima kasih calon papa mertua," balas Ray dengan memeluk paman dari calon istrinya.
"Titip Rara, ingat jangan kamu sakiti dia, jika itu terjadi tangan ini yang akan memberimu pelajaran," ancam Ken Steven
"Iya, saya janji tidak akan pernah menyakitinya," ucap Ray
"Tenang Pak Steven, jika dia menyakiti Aurora, tangan ini juga akan memberinya pelajaran," imbuh mama Ray
"Astaga, lalu kalau dia yang menyakiti Ray bagaimana, kenapa mama berpihak padanya, bukan kah Ray anak mama," gerutu Ray
Semua tertawa mendengar ocehan Ray
"Ya sudah kalau kamu disakiti oleh Rara, biar mama dan papa akan menghukumnya," timpal Mama dan papa Ray.
"Kalian the best," sahut Ray dengan merangkul mama dan papa Rara.
Mama Ray kini tersenyum bahagia, dan ini semua berkat Rara.
"Kamu memang malaikat Ra, berkat kamu Ray banyak berubah, kamu juga mengajarkan aku sesuatu yang tidak mungkin aku lupa seumur hidup aku," batin mama Ray dengan tersenyum menatap calon mantunya.
Canda tawa riuh terdengar, Rehan dan Rea kini ikut bergabung sehingga menambah riuhnya suasana malam pertunangan Ray, dan para tamu kini sedang menikmati hidangan mereka.
"Mana Revan dan Raya?" tanya Ray
"Mereka sedang memadu kasih, kelihatannya Revan tidak ingin ketinggalan sehingga dia gas pol untuk mengejar ketinggalannya," jawab Rehan.
"Tak di sangka dia gerak cepat juga, tau teman-temannya bertunangan," ucap Ray
"Malu dia ma kita," sahut Rahan.
Di dalam mobil, Raya dan Revan nampak malu-malu meong lagi.
"Kalau kita saling diam untuk apa kita menyendiri kesini pak Revan." Raya mencoba mengurai keheningan di antara mereka.
"Hehe iya ya, ya udah to the poin saja. "Raya apa kamu ingin menjadi kekasih aku?" tanya Revan dengan memegang kedua tangan Raya.
"Mau pak, mau pake banget," jawab Raya.
Revan yang senang langsung saja mencium bibir Raya.
"Akhirnya aku bisa mencium bibir wanita, dan kini aku tidak hanya melihat adegan bos dan sekertaris saja karena aku bisa langsung praktek kini," batin Revan
__ADS_1