
Raka yang kesal membanting ponselnya di tempat tidur, dia semakin yakin kini kalau Sheryl telah mengkhianatinya.
"Aarrggggg," umpat Raka dengan mengusap rambutnya kasar.
Raka merenung sejenak, dia sungguh tak percaya wanita yang telah dia cintai selama ini bermain api dibelakangnya.
"Sudahlah, lebih baik aku mendengarkan penjelasannya dari Sheryl nanti."
Raka yang lelah memutuskan untuk bersiap ke kantor, rencannya seminggu ke depan dia akan mengurusi bisnisnya yang berada di luar kota.
*********
"Sheryl bersedia lepas dari Raka pak," kata Revan memberi laporannya pada Ray
"Bagus, secepat itu dia berpaling," sahut Ray
"Entah pak, mungkin Sheryl pikir Riad lebih menjanjikan," timpal Revan.
Sekali murahan tetap murahan. Raka, Raka aku tidak bisa membayangkan penyesalan kamu nanti. Demi kerikil yang tak ada artinya kamu membuang batu berlian yang sangat berharga," sahut Ray dengan senyum kecil di ujung bibirnya.
"Kalau tidak dibuang Raka anda juga tidak akan mendapatkannya pak," timpal Revan.
"Exactly Revan," ucap Ray dengan senyuman devilnya.
"Pantau terus Riad dan Sheryl," titah Ray.
Dia tidak sabar menunggu hari kehancuran Raka, dimana semua hilang dalam genggamannya.
Harta, wanita, keluarga dan juga jabatan hilang semua dalam sekejap.
Selepas kepergian Revan, Rara baru kembali dari membeli bubur, Ray yang tidak ingin Rara mendengarkan pembicaraan mereka menyuruhnya untuk membeli bubur di kantin.
"Pak Revan sudah pergi pak?" tanya Rara
"Sudah," jawab Ray
Rara meletakkan buburnya di atas nakas, dia kini mengambil obat Ray, karena setelah makan bubur Ray harus minum obat.
"Aku makan makanan dari rumah sakit saja," kata Ray saat Rara membuka bungkusan bubur yang dibelinya.
Rara melemparkan tatapan mautnya pada Ray karena tadi Ray lah yang tidak mau makanan rumah sakit sehingga menyuruhnya membeli bubur, dan sekarang Ray menginginkan makanan dari rumah sakit dan menolak bubur yang susah payah dia beli karena harus mengantri panjang untuk mendapatkan bubur tersebut. "Maksudnya?" tanya Rara dengan menahan kesal.
"Tiba-tiba aku nggak berselera makan bubur," jawab Ray tanpa rasa bersalah.
Rara menghela nafas, dia mencoba meredam emosinya. Meski sebenarnya ingin sekali menumpahkan bubur di atas kepala Ray.
Kini Rara mengambil sarapan yang rumah sakit berikan.
"Buka mulutnya pak," kata Rara
Ray perlahan membuka mulutnya, disuapi orang terkasih mungkin rasanya jauh lebih nikmat sehingga sebentar saja kini Ray sudah menghabiskan makannya.
"Sekarang minum obat ya pak," ucap Rara
__ADS_1
"Obatnya pasti pahit," kata Ray yang mulai melakukan aksi modusnya.
"Kalau manis ya permen pak," sahut Rara kesal
"Manisan bibir kamu," seloroh Ray
"Pagi-pagi pak, jangan mulai deh. Cepat minum obatnya." Rara menyodorkan obat pada Ray
"Nggak," kata Ray
Rara yang tau maksud dan tujuan Ray memakan obatnya lalu dia mentransfer obatnya menggunakan mulut.
Setelah obat masuk dalam mulut Ray, Rara lalu mengambilkan minum dan meminumkannya pada Ray.
Ray tersenyum, kini Rara cukup memahami dirinya.
"Udah sekarang istirahatlah, biar demamnya turun," titah Rara.
"Demam juga karena semalam," sahut Ray
"Mangkanya lain kali jangan ngeres tu otak, lagian tau malam kenapa nekad mandi, kan bisa mandinya nunggu pagi," omel Rara yang kesal sekali sama Ray.
"Berani memarahiku," kata Ray dengan menatap Rara
Rara merespon kata-kata Ray dengan menghela nafas.
"Istrirahat ya pak," kata Rara lalu duduk sambil memainkan ponselnya.
Kandungan obat yang Ray minum membuatnya tertidur, Rara yang bosan memilih pergi keluar sebentar, dia ingin mencari makan di kafe dekat-dekat rumah sakit, Rara enggan untuk makan makanan kantin rumah sakit karena menurutnya makanan rumah sakit hanya untuk orang sakit karena rasanya yang tidak enak.
Rara yang kaget pun menolah, ternyata Raka yang menepuknya.
"Mas Raka," kata Rara
"Ngapain Ra?" tanya Raka
"Apa perlu aku menjawab pertanyaan kamu mas, kan kamu bisa lihat sendiri aku lagi ngapain," jawab Rara.
Raka terkekeh dengan jawaban Rara, lalu dia menarik kursi samping Rara dan duduk.
"Kita makan bareng ya," kata Raka
Rara bengong melihat sikap Raka, kini rasanya dia kembali ke beberapa waktu yang lalu saat Raka masih menjadi suaminya. Sikap lembut dan perhatian selalu dia terima saat itu.
"Tumben kamu bersikap baik sama aku?" tanya Rara heran karena semenjak malam itu sikap Raka berubah seratus delapan puluh derajat.
"Nggak boleh ya?" tanya Raka balik
"Bukannya nggak boleh cuman aneh saja mas, bukankah setelah malam itu kamu sangat membenci aku," jawab Rara.
"Iya Ra, maafkan aku atas sikap aku, itu semua karena aku sakit hati Ra melihat kamu polos dengan berbagai kecupan." Raka mulai berakting lagi.
"Sudahlah mas nggak usah dibahas, bukannya kamu juga sudah memiliki Sheryl, mungkin Tuhan mengirim wanita terbaik buat kamu," sahut Rara.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu Ra." Rara yang minum jadi menyemburkannya karena mendengar kata-kata Raka.
"Tapi sayangnya aku enggak mas," ucap Rara.
"Untuk apa kamu rindu sama perempuan tukang selingkuh seperti aku," timpal Rara dengan nanar meski hatinya sungguh senang mendengar kata rindu dari Raka namun dia tidak mau terbuai, Raka kini milik wanita lain, dia nggak mau dituduh sebagai pelakor.
"Maafkan aku." Lagi-lagi Raka meminta maaf.
"Kamu nggak salah, sikap kamu itu wajar mas," sahut Rara yang entah mengapa malas sekali mendengar permintaan maaf Raka.
"Oh ya, warisan aku sudah jatuh ke tangan kamu kan, jadi sekarang tentu sakit hati kamu sudah terobati dengan harta itu," imbuh Rara.
Raka nampak terdiam, sikap Rara kini telah berubah tidak seperti dulu lagi.
"Kamu banyak berubah Ra," kata Raka
"Aku dari dulu seperti ini mas, tapi setelah menikah dengan mu aku berusaha merubah diriku mengikuti apa mau kamu," sahut Rara.
Raka dan Ray saling berdebat, di sisi lain Ray yang terbangun nampak kesal karena Rara tidak ada di tempatnya. Dia menyuruh semua pengawalnya untuk mencari Rara bahkan Revan dan Rehan juga dibuat bingung.
"Dimana dia, beraninya meninggalkan aku yang sedang tidur," kata Ray kesal.
"Sabarlah pak, mungkin dia beli sesuatu." Revan mencoba menghibur
"Sabar-sabar!" seru Ray
Di kafe Rara yang masih debat dengan Raka dikagetkan oleh anak buah Ray yang mengajak Rara harus kembali karena Ray sudah bangun.
"Ya sudah mas, aku balik dulu. Ray sudah bangun," pamit Rara lalu pergi meninggalkan Raka.
Raka menatap nanar punggung Rara yang berangsur menjauh.
Setibanya di ruang perawatan Ray, Rara langsung masuk dia heran kenapa semua berkumpul.
"Ada apa ini pak Ray, pak Revan dan dokter Rehan?" tanya Rara sedikit panik.
"Ni, bingung mencari kamu hingga kami yang bekerja dibuat pusing," jawab Revan
"Astaga pak Ray, saya itu cari makan. Memangnya ada apa?" tanya Rara dengan menatap bosnya.
"Tugas kamu kan menjaga aku, jadi wajar kalau aku mencari kamu," jawab Ray
Setelah Rara kembali, Rehan dan Revan pamit untuk keluar, Rehan harus menunda jadwal operasinya karena telpon dari Ray yang nggak penting, begitu pula dengan Revan yang harus menunda meeting karena ditelpon juga oleh Ray. Cinta memang terkadang tidak pakai logika, hanya karena ditinggal Rara, Ray sampai menyuruh yang bekerja untuk menunda pekerjannya demi mencari orang yang baru dua jam meninggalkannya.
"Heran aku sama Ray," kata Rehan
"Bucin nya Rara," sahut Revan
"Aku kira dia tidak bakalan jatuh cinta," timpal Rehan
"Iya," ucap Revan.
Kini Revan kembali ke kantor sedangkan Rehan harus mengoperasi orang.
__ADS_1
Untung operasi yang bisa ditunda coba kalau sedang mengoperasi orang yang kritis, bisa-bisa nyawa pasien melayang gara-gara dokternya mencari kekasih temannya.