Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Suka marah-marah


__ADS_3

"Ya allah, apa sih mau kamu?" Ray sungguh frustasi dengan perubahan sikap Rara yang secara tiba-tiba, Rara semakin menjengkelkan dari biasanya.


"Tadi minta bubur udah dituruti, minta di suapin udah dituruti. Kini ada orang rapat ditelpon terus, itu semua klien penting," gerutu Ray


"Aku ingin jus sirsak," ucap Rara dengan enteng.


Ray menghela nafas sambil menatap istrinya yang kini menatapnya.


"Astaga, kan ada OB. Tinggal pencet tu telpon di meja minta belikan jus, dah kelar masalah. Kenapa harus mengganggu suami yang lagi kerja sih, ya Allah," Ray meluapkan semua kekesalan hatinya pada Rara.


Rara nampak terdiam, mendengar ucapan Ray membuatnya diam-diam menangis dan ini tentu membuat Ray merasa bersalah.


Ray mencoba memeluk sang istri namun Rara menolak pelukan dari suaminya, hatinya terlanjur sakit karena Ray marah padanya.


"Kamu itu memang nggak sayang sama aku dan anak kita. Aku tu maunya kamu yang belikan aku jus bukan OB, memangnya anak ini anaknya OB?" Maki Rara dengan terisak.


Ray dibuat semakin frustasi, dia sungguh bingung harus berbuat apa.


Revan yang ingin melaporkan hasil rapatnya tak sengaja mendengar pembicaraan Rara dan Ray dan dia mencoba membantu.


"Permisi," Revan mengetuk pintu


"Masuk," titah Ray dengan menoleh ke arah Revan


Revan mendekati Rara yang tengah menangis, dia cukup tau apa yang seharusnya dia lakukan karena Raya juga tengah hamil, tapi kehamilan Raya sudah menginjak tujuh bulan.


"Kamu mau jus sirsak?" tanya Revan


Rara mengusap air matanya lalu mengangguk,


"Mau aku belikan?" tanya Revan lagi


Lagi-lagi Rara mengangguk, manis sekali sikapnya seperti anak kecil.


"Ya sudah akan aku belikan," jawab Revan dengan tersenyum.


Sikap Revan begitu manis, dia sudah cukup paham bagaimana caranya menghadapi orang hamil.


"Ikut," pinta Rara dengan tatapan puppy eyes


Revan awalnya tidak enak pada Ray, namun dia juga tidak bisa menolak keinginan istri bosnya tersebut.


Orang hamil tentu lebih penting daripada rasa bosnya.

__ADS_1


"Ya sudah ayo," sahut Revan


Ray pun tidak terima, dia mencoba menawarkan diri untuk menggantikan Revan namun Rara sudah terlanjur sakit hati pada sang suami sehingga dia tidak mau saat Ray yang ingin membelikan jus sirsak.


"Biar aku saja yang antar, kamu kembali bekerja Revan," titah Ray


Rara yang enggak pergi dengan Ray menolak ajakan Ray.


"Bilang pada bos Anda pak Revan kalau aku sangat malas padanya," kata Rara dengan memalingkan wajahnya dari Ray.


"Baik Ra," sahut Revan serba bingung.


"Bos, istri anda tidak mau anda yang mangantar," kata Revan


Ray mencoba merayu istrinya, bagaimanapun juga dia tidak rela kalau ada lelaki lain yang menemani istrinya membeli jus apalagi ini adalah keinginan sang buah hatinya.


"Ayo dong sayang, jangan merajuk gitu, iya-iya aku minta maaf," rayu Ray


Rara yang sudah sakit hati tidak bisa terbujuk oleh rayuan suaminya sehingga dia tetap bersikeras meminta Revan yang membelikannya jus.


"Pak Revan bilang pada bos anda kalau aku masih ingin merajuk, dan bilang juga tolong jangan menghalangi jalan," kata Rara


Lagi-lagi Revan harus jadi perantara antara Ray dan Rara. Revan mencoba membujuk bosnya supaya mau mengalah, lagian hanya beli jus kenapa harus dipermasalahkan.


Ray yang tidak memiliki pilihan mencoba merelakan istrinya membeli jus bersama Revan.


"Baiklah baiklah, sana bawa wanita hamil ini pergi," usir Ray yang ikut kesal pada istrinya.


"Memang kami akan pergi, bye!" ucap Rara yang ikut kesal.


Revan dan Rara kini pergi dari hadapan Ray, dada Ray terasa panas dan bergemuruh dia sungguh kesal sekali dengan Revan.


"Aaarrrrgggg, brengsek," umpat Ray sambil melemparkan tubuhnya ke kursi kebesaran miliknya.


"Menjengkelkan sekali." Ray bermonolog dengan dirinya sendiri.


Untuk menghilangkan dongkol di hatinya Ray mencoba mengalihkan pada pekerjannya, dan dia kini teralihkan dari rasa kesal yang menyiksanya sedari tadi.


***********


"Ini pak saya bawa kembali istri anda," kata Revan sesaat dia dan Rara masuk ke dalam ruangan Ray.


Ray yang masih kesal hanya melirik dengan tangan yang masih memegang berkas yang tengah dipelajarinya.

__ADS_1


"Letakkan saja dia di sana," sahut Ray yang berpura-pura tidak peduli pada istrinya.


Tentu kata-kata Ray membuat Rara emosi kembali, good mood kini berubah jadi bad mood, tentu ini membuat Revan memijat pelipisnya.


"Kamu pikir aku barang," gerutu Rara lalu melemparkan tubuhnya di sofa.


Revan hanya bisa menggelengkan kepala, tadi dia mencoba untuk membujuk Rara dan kini setelah mood Rara sudah baik Ray kembali lagi mencari gara-gara.


"Maunya apa sih!" gerutu Revan dalam hati.


Revan menatap Ray dengan tatapan yang tidak biasa, meskipun kesal dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa sabar, sabar dan sabar.


"Ya sudah Revan kamu boleh pergi," titah Ray yang kini beranjak dari kursi kebesarannya, dia mendekati Rara yang tengah duduk di sofa.


"Saya permisi pak, pesan saya jangan buat mood ibu hamil tidak enak atau anda rasakan sendiri akibatnya," pesan Revan lalu pergi dari ruangan Ray.


"Memangnya apa akibatnya," ucap Ray meremehkan perkataan Revan.


Revan cukup tau, karena dulu ketika dia membuat Raya bad mood akibatnya dia tidak diberi jatah dan Revan tidak mau Ray bernasib sama dengan dirinya yang kehilangan jatah bercinta dari sang istri.


"Enak jus sirsak nya?" tanya Ray dengan nada menyindir Rara.


Rara mengerutkan alisnya, dengan melirik Ray merasa ambigu dengan pertanyaan Ray, jus sirsak tentu enak kenapa Ray masih bertanya.


"Perlukah aku menjawab pertanyaan retoris kamu itu?" tanya Rara dengan ketus


"Perlu, perlu sekali malah," jawab Ray dengan senyuman di ujung bibir.


"Enak, enak banget malah." Rara menjawab pertanyaan Ray sebelumnya.


"OOO enak banget , ya jelas enak la belinya ma Revan," sahut Ray tak kalah sewot.


Emosi Rara kini berapi-api mendengar sahutan Ray, kesal sekali dengan Ray yang sedari tadi menyindirnya.


"Iya dong, kalau belinya ma kamu pasti rasanya pahit, jusnya seperti jus pare, tau kan sayur pare?" timpal Rara dengan menatap suaminya.


"Kamu!" seru Ray dengan menunjuk istrinya.


"Apa, nggak terima," sahut Rara dengan berdiri


"Kalau nggak terima kamu mau apa?" imbuh Rara yang semakin membuat Ray kesal.


Ray dan Rara cek cok lagi, Revan yang ingin memberikan laporan lagi-lagi harus memijat kepalanya karena heran sama atasannya tersebut.

__ADS_1


"Istri hamil bukannya sayang-sayangan ini malah marah-marahan, apa sih maunya," gumam Revan dengan heran.


__ADS_2