
Revan yang kembali lagi karena karena ada hal yang ingin ditanyakan akhirnya tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Ray dan Raisa.
"Wanita gila," umpat Ray
Saat dia membalikkan badan Ray kaget karena melihat Revan berdiri di belakangnya sambil melipat tangan di dada.
"Ngagetin saja, ada apa?" tanya Ray dengan kesal.
Revan tersenyum.
"Sekarang tau kan kenapa pertemanan wanita dan laki-laki itu tidak diharuskan bagi orang yang memiliki pasangan." Revan menjawab pertanyaan Ray dengan ceramah.
Ray hanya terdiam mendengar ceramah Revan.
"Wanita itu mahkluk yang baperan, apalagi sudah nyaman akan susah buat mereka untuk lari. Sekarang lihatlah dia akan mengejar-ngejar anda dan pr anda tidak hanya meluluhkan hati istri anda, tapi anda juga harus lari dari Raisa," imbuh Revan dengan terkekeh di akhir ceramahnya.
"Gampang jika dia tidak bisa dikendalikan kirim saja ke Ukraina biar ikut bantu tentara di sana melawan Rusia," sahut Ray dengan kesal.
************
Waktu terus berlalu keadaan Rara cukup membaik dan juga anaknya, kelihatannya Tuhan masih sayang pada Ray karena dokter ahli yang dia datangkan dari berbagai negara membuat bayi mungilnya mengalami kemajuan yang signifikan. Berat badannya juga perlahan naik.
"Makasih sayang kamu mau bertahan," kata Ray yang terjadi melihat bayi mungilnya.
Matanya membasah karena haru.
"Apa boleh saya menggendongnya sus?" tanya Ray
"Jangan pak, meski keadaannya mengalami kemajuan yang signifikan namun dia belum boleh keluar dari inkubator," jawab Suster
Ray hanya bisa menurut tanpa omelan, seusai menjenguk sang buah hati Ray melihat Rara yang tertidur.
Malam ini sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada Ray, tidak ada yang menjaga Rara dia juga melihat Rara tidur jadi kesempatan baginya untuk mendekati sang istri.
"Hampir sepuluh hari aku tidak dekat denganmu, tidak menyentuh kamu dan tidak memeluk dan mencium kamu sayang. Aku rindu sayang," kata Ray dengan terisak.
Kerinduan yang mendapat terhadap sang istri membuat jiwanya merana dan kosong, dia hanya bisa melihat sang istri dari balik pintu.
Ray yang tidak kuasa menciumi wajah Rara tanpa ada yang terlewat, dia mendengus leher sang istri sungguh dia sangat merindukan Rara.
Untung saja Rara habis minum obat jadi dia sangat pulas sehingga dia tidak terganggu oleh pergerakan Ray yang mencium dan memeluk dirinya.
Puas mencium dan memeluk istrinya Ray menunggui Rara hingga dia ketiduran sambil memegangi tangan sang istri.
Rara yang terbangun dari tidurnya heran karena terasa berat dan saat menoleh Rara melihat Ray tidur di sampingnya.
Rara yang sejatinya juga merindukan Ray pun menangis, dia sungguh dilema antara cinta dan benci di hatinya.
"Kenapa harus seperti ini," batin Rara
Rara menarik tangannya dan ini membuat Ray terbangun.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun sayang?" tanya Ray
Rara hanya diam dengan melemparkan wajahnya sembarang.
"Keluarlah," pinta Rara
"Sayang, aku mohon please! biarkan aku menjaga dan merawat kamu," ucap Ray
"Percuma jika kamu tidak bisa menjaga hati aku," sahut Rara
"Maafkan aku sayang," timpal Ray
Ray terus membujuk Rara untuk memaafkannya dia juga menceritakan sang buah hati pada istrinya.
"Anak kita cowok dia mirip sekali dengan aku tapi bibirnya mirip kamu kecil dan merah," kata Ray dengan menangis
"Dia berjuang hidup sayang dan dia berhasil," imbuh Ray
Ray terus menceritakan keadaaan bayi meraka pada Rara dan ini membuat Rara menangis.
Dia sangat rindu dengan sang buah hati.
Saat bersamaan datanglah Leo, dia membawakan Rara sarapan dan berapa buah.
Ray yang melihat Leo nampak kesal karena Leo datang di saat yang tidak tepat.
"Kamu kenapa nggak balik ke US Leo?" tanya Ray
Rara yang ingin melihat bayinya meminta Leo untuk mengantarkannya ke ruang bayi.
"Leo antar aku ke ruang bayi ya," pinta Rara
Ray yang tidak terima meminta Leo pergi supaya dia bisa mengantar Rara untuk melihat sang buah hati mereka.
"Jangan pergi Leo," cegah Rara
Rara meminta Leo untuk membantunya turun dari tempat tidur dan memindahkannya di kursi roda.
Ray yang melihat ini tentu sangat cemburu, di depan matanya Rara di gendong oleh Leo.
Ray yang kesal memutuskan untuk pergi, dia tak sanggup melihat kedekatan Rara dengan asistennya.
Kebetulan Revan juga mengubungi Ray karena ada rapat yang tidak bisa diwakilkan.
"Baiklah aku akan kesana dalam dua jam karena aku harus pulang dan ganti baju," ucap Ray lalu mematikan sambungan telponnya kemudian pulang.
Rara menangis saat melihat bayi mungilnya.
"Sayang, ini mama," kata Rara
"Cepat besar ya sayang supaya mama bisa menggendong kamu, menyusui kamu dan merawat kamu," Rara bermonolog dengan bayinya.
__ADS_1
Bayi Rara seakan tau apa dikatakan sang ibu, dia pun merespon dengan menangis.
"Kamu dengar mama sayang," kata Ray dengan senang.
Sama seperti Ray, Rara meminta untuk menggendong sang buah hati namun suster melarangnya.
"Mohon maaf bayinya belum bisa keluar dari inkubator," larang suster.
Rara nampak kecewa tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kata suster.
Di sisi lain Raisa yang stres karena tidak bertemu Ray memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dia tidak tau kalau hari ini Ray pergi ke kantor.
Setibanya di ruang perawatan dia hanya melihat Rara sendirian.
"Mana Ray," batin Raisa
Entah pikiran dari mana akhirnya Raisa masuk dan berbicara dengan Rara.
"Halo, gimana kabar anda nyonya Rara," sapa Raisa
Rara menoleh,
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Rara
"Aku mencari Ray," jawab Raisa
"Bukankah dia teman kamu, kenapa mencari kesini," sahut Rara
"Ya aku kira dia menunggui istrinya," timpal Raisa.
Melihat Rara kesal membuat Raisa melakukan hal lebih.
"Gini, aku dan Ray kan udah saling nyaman tidak bisa dipungkiri kalau adanya rasa cinta diantara kita, dan aku minta pada kamu kalau ijinkan aku menjadi yang kedua, aku janji aku akan berbagi Ray dengan adil, sehari bersama aku sehari bersama kamu, aku juga akan ikut merawat bayi kalian, bagaimana?" kata Raisa yang membuat Rara kesal tingkat dewa.
"Murah sekali dirimu Raisa, sehingga mau menjadi yang kedua, apa kamu tidak laku?" sahut Rara
Rara sebisa mungkin menahan air matanya yang memberontak ingin keluar.
"Murah nggak papa asal bisa menjadi istri Raymond Toretto," ucap Raisa.
"Lagipula kan poligami itu sah dan kamu bisa masuk surga lo jika mau menerima aku untuk jadi madu kamu," Imbuh Raisa
Plak...
Tangan Rara mendarat sempurna di pipi Raisa,
"Itu tamparan buat kamu yang bermimpi terlalu jauh," maki Rara
Raisa memegangi pipinya yang panas akibat tamparan Rara dan saat dia akan membalas Leo memegangi tangannya.
"Jangan sampai kamu menyentuhnya, atau kamu akan menyesal," ancam Leo
__ADS_1