
"Apa rencana anda pak?" tanya Revan
"Nggak seru kalau aku bagi tau sekarang," jawab Ray
"Pelit sekali," sahut Revan dengan kesal karena kekepoannya tidak tersalurkan.
"Biarin," timpal Ray.
"Padahal saya juga ingin tau pak, kan siapa tahu bisa membantu," ucap Revan.
Ray hanya diam dan tidak merespon ucapan Revan. Dia kini melemparkan tatapannya keluar jendela, ada rasa kecewa terhadap mamanya yang demi harta rela menukarkan kebahagiaannya.
Meskipun tidak menjalin kerja sama dengan keluarga Rea, Toretto tetap bisa melebarkan sayap.
Tak terasa mobil mereka telah memasuki kawasan Ray grup, setibanya di kantor Ray langsung bergegas ke ruangannya. Dia sungguh tidak sabar untuk melihat wanitanya. Hanya dengan melihat Rara semua masalahnya terasa ringan.
"Sayang," panggil Ray
Rara menghentikan pekerjaannya, kemudian menoleh.
"Ada apa sayang?" tanya Rara dengan tersenyum.
Melihat senyum Rara membuat Ray gemas, ingin sekali dia mencium bibir kekasihnya.
"Panas sekali," batinnya dengan mengusap tengkuknya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rara
"Nggak papa sayang, aku kangen saja sama kamu," jawab Ray.
Ray yang tidak bisa menahan, beranjak dan ingin mengecup pipi Rara namun dengan cepat Rara menghindar.
"Kok menghindar sih sayang?" protes Ray
"Kita kan puasa?" jawab Rara
"Ah, kenapa ini dan itu nggak boleh sih," ucap Ray dengan frustasi.
"Lalu kalau aku pengen gimana?" tanyanya dengan mengusap rambutnya dengan kasar.
Melihat sikap Ray tentu membuat Rara tertawa, mana ada orang puasa seperti Ray.
"Tahan dong sayang," jawab Rara dengan terkekeh.
"Oh God, mana bisa aku menahan nafsong aku," timpal Ray.
Karena tidak ingin khilaf Ray kembali ke mejanya, dia membuang tubuhnya di kursi.
"Sial aku haus sekali," gumam Ray sambil mengendorkan dasinya.
Ray melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Sudah tidak tahan, Ray meminta OB untuk membelikannya minuman yang segar-segar.
Rara yang mendengar Ray meminta OB membelikannya es pun kaget, tak disangka dia berniat membatalkan puasanya.
__ADS_1
"Apa-apaan dia, kenapa membatalkan puasanya, rugi ngajak dia sahur tadi pagi," gumam Rara
Rara sungguh perang batin saat tau kalau Ray ingin membatalkan puasanya. Hatinya sungguh tidak tenang, ingin sekali marah pada Ray.
Tak berselang lama OB datang dengan membawa aneka minuman yang segar.
Rara yang melihatnya langsung datang ke meja Ray.
"Apa-apaan kamu sayang, kenapa membatalkan puasa?" tanya Rara
"Lihatlah ini jam berapa, sudah waktunya aku berbuka," jawab Ray dengan santai.
"Buka puasanya nanti magrib sayang," sahut Rara mencoba meluruskan.
"Aku lihat anak art di rumah terkadang buka puasa saat dhuhur, dan saat aku bertanya art aku bilang kalau anaknya baru latihan puasa. Kan aku juga baru latihan jadi bukanya pas dhuhur dan ini lihatlah sudah kelewat satu jam," ungkap Ray yang membuat Rara membatu. Ray selalu punya jawaban, seolah dia ini tak terbantahkan.
Sebenarnya Ray sendiri tidak wajib puasa toh dia juga belum-belum mualaf.
"Ya sudah, selamat berbuka sayang," kata Rara lalu dia kembali ke mejanya.
"Dasar do Raymond, licik juga dia, bilang saja kalau nggak kuat," umpat Rara dalam hati.
Dari mejanya Ray melihat Rara menatapnya yang sedang meminum es, "Kamu mau?" tanya Ray
"Mana ada, aku puasa," jawab Rara
"Sayang seharusnya kamu itu menghargai aku yang puasa, minum esnya jangan di sini," protes Rara
Di samping Ray, Rara harus menambal imannya, jika tidak, pertahanannya akan runtuh. Tak hanya modus Ray juga membuat iman Rara menipis.
Puas meminum es nya, Ray kembali bekerja.
Kini dia benar-benar memfokuskan pikirannya ke pekerjaan.
Tak terasa waktu pulang telah datang, Rara bergegas membereskan mejanya dan pamit pulang terlebih dahulu pada Ray.
"Pak sayang, aku pulang dulu ya," pamit Rara
"Tunggu aku, nanti kita buka bersama," sahut Ray
"Anda kan tidak puasa pak sayang?" tanya Rara
"Puasa, tadi kan cuma minum makannya belum," jawab Ray.
"Ajaran dari mana itu, ide dari mana?" batin Rara.
Dengan dia minum bearti puasanya telah batal.
Rara memijat pelipisnya, sungguh heran bin bingung dengan Ray, kenapa dia membuat aturan sendiri.
"Kalau malaikat marah baru tau rasa," umpat Rara dalam hati.
"Aku harus membantu mama memasak untuk buka puasa sayang." Alasan Rara.
__ADS_1
"Beli saja sayang." Ray memberi ide
Ray yang telah menyelesaikan pekerjaannya keluar dan menuju rumah calon mertuanya.
"Kita beli apa?" tanya Rara
"Aku sudah menyuruh Revan untuk mengirimkan makanan ke rumah kamu," jawab Ray tanpa melihat Rara.
Rara tersenyum, dia sungguh tak menyangka pikiran Ray selangkah lebih maju dan selalu tau kondisi.
"Aku sungguh beruntung," batin Rara dengan tersenyum.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri sayang?" tanya Ray dengan menoleh lalu kembali fokus ke depan.
"Pasti tidak sabar menunggu hukuman aku ya, tenang sayang setelah sholat Tarwih kita kembali ke apartemen, ijinkan aku mengeksekusi kamu ya, please," imbuh Ray menjawab pertanyaannya sendiri.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kita menikah nanti, bisa-bisa aku nggak bisa berjalan karena selalu digempur," sahut Rara.
"Pasti itu. Sehari minimal tiga kali lah sayang," timpal Ray.
"Matilah aku," kata Rara dengan meringis.
*************
Allahuakbar Allahuakbar....
Adzan sudah berkumandang, waktunya berbuka puasa.
"Alhamdulilah setelah menahan dahaga dan lapar akhirnya bisa berbuka juga," ucap Ray
Mama dan papa Rara sungguh bangga dengan Ray, dari cara Ray mengucapkan hamdalah, nampak kalau Ray adalah seorang muslim meski kenyataannya dia masih kristen.
"Hebat ya Ray, salut sama kamu yang bisa belajar puasa penuh," puji mama
"Makasih ibu mertua," sahut Ray
Rara hanya melongo melihat Ray, bagaimana bisa kekasihnya seperti ini, jelas-jelas tadi minum es banyak.
"Apa-apaan dia, kenapa mengklaim kalau dia puasa?" umpat Rara dalam hati.
Ray tertawa melihat Rara, Ray sudah menduga kalau Rara pasti mengumpat di dalam hati.
Setelah berbuka puasa, kelaurga Rara bersiap untuk sholat tarwih sedangkan Ray menunggu di rumah.
Menurutnya sholat itu tiangnya agama Islam, jadi tidak bisa dibuat mainan, mana mungkin seorang yang belum benar-benar mualaf sholat.
Ray menunggu Rara dan kelaurga di kamar Rara. Dia memutar bolanya untuk melihat benda di kamar kekasihnya tersebut.
Tak sengaja Ray melihat sebuah buku usang di bawah meja.
Ray yang penasaran membukanya, ternyata di dalamnya ada sebuah foto seorang bayi cantik dan kedua orang tuannya, Ray nampak pernah melihat foto wanita yang ada di dalam foto tersebut namun dia lupa dimana.
"Wajahnya mirip Rara, apa mungkin ini foto bayi Rara dan ini kedua orang tuanya? tapi mengapa wajahnya berbeda dengan mama dan papanya?" gumam Ray.
__ADS_1