
"Maaf paman, lupa kalau ada paman."
Ken Steven hanya menggelengkan kepala melihat Ray dan Rara membuat jiwa jomblonya meronta selama ini dia cukup setia dengan perasaannya pada Rena hingga dia memutuskan untuk melajang seumur hidup.
"Kalau mau yang enak-enak nanti saja setelah paman pulang," ucap Ken Steven.
Ken Steven membuka lemari dan mengeluarkan barang-barang peninggalan mendiang orang tua Rara.
"Apa itu paman?" tanya Rara penasaran saat Ken Steven membawa sebuah kotak yang cukup besar.
"Ini adalah peninggalan orang tua kamu. Mulai dari emas, permata, berlian dan barang berharga lainnya," jawab Ken Steven lalu membuka kotak yang dibawanya.
"Isinya masih utuh, paman sekali merawatnya. Satu pun tidak ada yang berkurang. Kamulah yang berhak mewarisinya," imbuh Ken Steven
Rara nampak takjub, koleksi mamanya sungguh luar biasa.
"Mama mengoleksi semua ini paman?" tanya Rara
"Meskipun sederhana tapi mama kamu suka akan perhiasan tapi ini tidak semua milik mama kamu karena ibunda Pak Rayan juga mewariskan perhiasannya kepada Rena mama kamu," jawab Ken Steven
Ken Steven juga menunjukkan koleksi ayah dan juga kakeknya. Sebuah ruangan kecil dibukan dengan sebuah tombol di lantai yang disamakan dengan warna lantainya.
"Apa ini paman?" tanya Rara
"Inilah ruang rahasia papa kamu yang kemungkinan ruang rahasia kakek kamu juga karena di dalam terdapat tulisan Jendral besar Richard," jawab Ken Steven.
Kini mereka masuk dan melihat setiap sudut ruangan yang lumayan besar, dan semua dipenuhi dengan senjata mulai panah, pisau dan juga senjata api seperti Ak-47, SS-2 Pinpad, M16, shutgun dan lain-lainnya.
Mata Ray terbelangak melihat koleksi mertuanya berbagai senjata dari yang terkecil hingga yang besar.
"Paman senjata sebanyak ini kalau tidak digunakan kan sayang," kata Ray.
"Betul, dulu paman saat menemukan ruangan ini, paman juga meminjam senjata mendiang mertua kamu," sahut Ken Steven
"Untuk apa paman?" tanya Rara
"Untuk menuntut balas pada orang yang telah membunuh orang tua kamu," jawab Ken Steven
"Paman sadis juga ya," timpal Ray
"Dulu sebelum menjadi asisten papa kamu, paman adalah seorang mafia, paman terbiasa membunuh orang tanpa ampun," ungkap Ken Steven
"Paman boleh apa nggak saya menggunakan senjata ini?" tanya Ray
Ken Steven dan Rara saling pandang, heran kenapa Ray ingin menggunakan senjata yang ada di sana.
"Untuk apa?" tanya Rara
"Untuk membunuh setiap pria yang mendekati kamu," jawab Ray
Ken Steven tersenyum, tak disangka Raymond Toretto posesif juga.
__ADS_1
"Boleh saja, ini kan sekarang milik kamu. Paman serahkan pada pewarisnya," jelas Ken Steven
"Aku juga akan menggunakannya," timpal Rara
"Untuk apa?" tanya Ray
"Untuk membunuh setiap pelakor yang ingin merebut Do Raymond aku," jawab Rara dengan terkekeh.
Ken Steven nampak tersenyum, karena tidak ingin meronta kedua kali Ken Steven memutuskan untuk pulang.
"Ya sudah paman pulang lebih dahulu, kamu mau pulang ke rumah paman atau di sini?" tanya Ken steven
"Di sini saja paman, Rara ingin mengenang orang tua Rara," jawab Rara
"Iya paman karena besok kami akan mengunjungi orang tua kami," imbuh Ray
"Jangan dulu, banyak berkas yang membutuhkan tanda tangan Rara, jadi selama tiga hari ini Rara akan sibuk di RA Grup, jadi tolong dimaklumi ya Ray," kata Ken Steven
"Brengsek pasti bermain dengan Leonardo de Caprikon itu," batin Ray.
Ray nampak tidak senang, dia takut kalau istrinya dekat-dekat dengan Leo.
Ken Steven cukup tau apa yang terjadi dengan Ray.
"Tenang tidak perlu khawatir," ucap Ken Steven dengan menepuk bahu Ray.
Mendengar ucapan pamannya membuat Ray malu tak disangka kalau pamannya tau apa yang dia rasakan.
Rara dan Ray juga ikut keluar.
Ray yang cemburu nampak kesal sehingga dia langsung saja keluar kamar orang tua Rara, meskipun mereka telah meninggal namun kamar ini tetap milik orang tua Rara.
Ray duduk di tepi kolam renang dengan hati yang tidak tenang.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Rara
"Nggak papa," jawab Ray singkat, padat dan jelas.
"Kok sensi banget seperti wanita lagi dapet," sahut Rara
Ray melemparkan tatapan mautnya pada Rara, dan ini membuat Rara sedikit heran.
"Kenapa sih nih orang," batin Rara
"Apa ini ada hubungannya dengan Leo? astaga pencemburu banget," Rara bermonolog dengan dirinya sendiri di dalam hati.
Rara tau apa yang harus dia lakukan, kebetulan di rumah itu hanya ada dirinya dan Ray.
Satu persatu Rara melepas pakaiannya dan meninggalkan pakaian dalam bagian atas dan bawah.
Ray yang melihatnya langsung bereaksi, matanya tak lepas dari tubuh molek istrinya.
__ADS_1
"Aku mau renang karena hawanya panas sekali," sindir Rara
Rara masuk ke dalam air dan berenang, Ray yang melihatnya jadi ingin ikut.
"Ah, ngambeknya lanjut nanti lagi yang penting sekarang, aku ikut berenang," ucapnya lalu melepas satu persatu baju yang menempel di tubuhnya.
Ray segera terjun dan mengejar istrinya,
"Berani menggodaku," bisiknya
"Berani," sahutnya dengan tatapan menantang.
"Jadi rasakan hukuman kamu," timpal Ray dengan mengendus leher sang istri.
Ray mendorong tubuh Ray, dia kini mengajak Ray untuk balapan, siapa yang sampai di ujung lebih dulu dialah yang menang.
Ray tersenyum licik, dia yakin akan menang melawan istrinya.
"Jadi apa hadiah untuk yang menang?" tanya Ray
"Yang kalah harus menuruti keinginan yang menang," jawab Ray
"Ok, siapa takut," sahut Rara.
Kini mereka berdua telah siap untuk lomba, dan Rara lebih dulu berenang sehingga Ray kesal karena sang istri curang.
"Kamu curang sayang," teriaknya lalu segera menyusul namun Ray harus kalah.
"Kita ulang, mana boleh seperti ini. Kamu curang!" omel Ray
"Curang gimana kamu yang nggak fokus," sahut Rara
Ray yang kesal langsung saja mendekap sang istri, dia melahap bibir istrinya dengan tangan masuk ke dalam hutan belantara.
"Wao sudah basah," bisik Ray
"Kan emang kita lagi basah-basahan," protes Rara
Ray membuat Rara di awan dengan sentuhannya, dia juga mempraktekan apa yang dipelajarinya yaitu bermain dia hutan belantara istrinya.
Kini tak hanya naik naik ke puncak gunung, nikmat nikmat sekali, Ray juga masuk ke hutan belantara untuk memuaskan Rara dengan sentuhan lidahnya.
"Oh sayang, nikmat sekali," Rara mendeeeeesssaaaahhh dengan menarik rambut Ray dan menenggelamkan ke dalam miliknya.
Ray yang tidak bisa bernafas mendongakkan kepalanya
"Sayang aku nggak bisa nafas, kamu ingin aku mati dalam kenikmatan?" protes Ray
"Maaf sayang, nikmat sekali soalnya Kamu tiba-tiba bisa seperti ini belajar darimana?" tanya Rara
"Belajar dari film," jawab Ray lalu melanjutkan aksinya.
__ADS_1