
"Tapi pa...." Belum sempat melanjutkan kata-katanya papa Raka sudah pergi, beliau enggan untuk mendengar kata-kata anaknya yang pasti akan bersikeras mengejar cinta Sheryl. Papa muak sekali dengan Raka yang tidak sadar-sadar, dirinya telah dibuang dan dicampakkan masih saja mengemis dan memohon cinta pada wanita yang telah meninggalkannya. Ibarat kata seperti nggak punya harga diri.
Raka kini ambruk di lantai, dia tak kuasa menahan kepergian Sheryl dari hidupnya. Raka membentur-benturkan kepalanya di pintu. Papa yang melihat dari jauh keadaan anaknya sungguh prihatin. Tapi Raka tidak mau mendengarkan kata-katanya mungkin butuh waktu pikir papa Raka.
"Raka Raka," ucap papa dengan mengelus dadanya.
Raka kemudian berteriak sekeras-kerasnya, dia terus saja memanggil-manggil nama Sheryl.
"Papa! apa salah jika Raka mencintainya, Raka hanya ingin hidup bahagia dengannya," teriak Raka.
Beberapa art datang karena khawatir dengan keadaan Raka namun papa mencegah art untuk mendekat, "Biarkan saja dia, bila sudah lega pasti akan berhenti sendiri," kata papa Raka.
Mau nggak mau art hanya berdiri dengan menatap majikan mereka.
Beberapa saat kemudian bukannya berhenti Raka malah semakin menjadi. Papa yang geram akhirnya mendatangi anaknya.
Ingin sekali menghajar Raka yang cengeng.
"Raka, kamu ini seperti orang gila saja," teriak papa.
"Memang Raka sudah gila pa, saat semua hilang dari Raka," sahut Raka.
"Harta bisa dicari kembali lagi," timpal papa
"Lalu bagaimana dengan Sheryl?" tanya Raka
"Raka, Raka. Sekuat-kuatnya dirimu, sebisa-bisanya kamu berjuang, jika bandingan kamu dia yang beruang, sudah dapat dipastikan cintamu tak akan menang, kamu hanya bisa menjanjikan dia pernikahan yang indah sedangkan kekasihnya datang membawa segalanya, sebesar apapun cinta yang kamu punya, Sheryl akan tetap memilih dia. Saat sudah seperti itu kamu bisa apa Raka! selain melupakannya dan membuka lembaran baru," kata papa dengan menahan kesal.
"Tapi pa...." Raka belum melanjutkan kata-katanya papa Raka sudah menyela
"Nggak ada tapi-tapian, kesal sekali melihat kamu Raka," sahut papa
"Duh, pengen tak ruqyah dirimu biar jin Sheryl keluar," imbuh papa dengan memijat pelipisnya, sungguh pusing sekali memikirkan Raka.
Di kantor Ray bersiap untuk menemui Riad di Bandara, namun sebelumnya dia memodusi kekasihnya dulu.
"Sayang aku mau pergi sebentar, kamu nggak papa kan aku tinggal," kata Ray sambil duduk di tepi meja Rara.
"Nggak papa pak, pergi saja," sahut Rara
Ray tersenyum licik, dia sudah menemukan cara untuk memodusi sekertaris plus kekasihnya tersebut.
"Kelihatannya kamu suka sekali aku keluar," ucap Ray
Rara menghela nafas, "Lalu saya harus bagaimana?" tanya Rara lalu menatap Ray
"Biasanya kan tanya mau kemana, kok aku nggak diajak, bla bla bla...." Jawab Ray
"Ya sudah aku tanya ni, memangnya mau kemana pak?" tanya Rara
"Udah telat jadi kamu aku hukum," ucap Ray yang membuat Rara kesal.
"Ngomong aja minta cium kenapa harus pake modus dulu," omel Rara
"Menjaga image sayang, kalau langsung minta cium terkesan aku ini bos messssuuuuum," sahut Ray dengan tersenyum.
"Memang," timpal Rara.
Rara yang tidak ingin drama langsung saja melahap bibir Ray yang merah. Ray menyesap dan mellluuum44444t bibir Rara dan menjelajah isinya.
__ADS_1
Tangannya juga masuk menyusup dalam dada Rara.
Tangan Rara mencoba melarangnya namun tangan Ray tetap masuk. Tangan Ray memainkan gundukan yang menyerupai gunung milik Rara, dan ini tentu membuat Rara berhasrat.
"Kenapa dia selalu menyiksa aku," batin Rara.
Saat asik melakukan aksinya tiba-tiba ada Revan masuk.
"Astagfirullah," kata Revan yang lagi-lagi harus menyaksikan adegan bosnya.
Rara segera mendorong Ray, namun kancing baju di pergelangan tangan Ray malah kecantol brrr444444 Rara sehingga membuat Rara panik.
"Pak Ray," teriak Rara
Revan yang melihatnya jadi tertawa, bagaimana bisa terjadi hal seperti ini batinnya.
"Sabar dong sayang," kata Ray lalu melepaskan kancing di pergelangan tangannya dari brrrrrr4444 Rara.
"Lagian tangan lo nggak sopan banget masuk-masuk," kata Revan yang membuat Rara malu.
"Entah pak Ray ini pak Revan," sahut Rara.
Takut terlambat kini mereka segera bergegas ke Bandara. Dan setibanya di Bandara ternyata Riad belum datang.
Tak berselang lama Riad pun datang,
"Selamat pagi menjelang siang bos," sapa Riad
"Iya," balas Revan.
Sedangkan Ray hanya menyunggingkan senyuman kecil di bibirnya.
"Terima kasih pak Revan dan pak Ray," ucap Riad
"Terima kasih kembali Riad," sahut Ray
"Akting kamu sungguh luar biasa, piala Oscar patut jatuh ke tangan kamu," timpal Revan
"Ah pak Revan bisa saja," kata Riad dengan tertawa.
"Setelah ini kamu harus bertobat karena sudah enak-enakkan ma wanita ular itu. Dosa kamu besar sekali," sahut Revan
"Sejak kapan pekerjaan malaikat kamu gantikan sehingga bisa menentukan besar kecilnya dosa seseorang," timpal Ray
Mendengar kata-kata Ray membuat Riad tertawa,
"Kan dosa enak-enakkan besar sekali pak, dia begitu kan karena kita yang nyuruh," ucap Revan
"Kita nggak pernah nyuruh dia untuk melakukan hal itu, tapi untuk lebih menjiwai perannya kalau bisa ya dengan berhubungan badan dengan Sheryl," jelas Ray.
Revan menggelengkan kepala, "Sama saja pak," sahut Revan.
"Beda. Untuk dosa biar jadi urusan Riad dengan Tuhannya, yang penting kita sudah membayarnya sesuai perjanjian di awal," ucap Ray.
Karena pesawat akan segera berangkat, Riad pun bersiap tak lupa dia memeluk Revan dan Ray, dia sangat-sangat berterima kasih karena sudah membantunya untuk pulang.
"Sekali lagi terima kasih pak Ray dan pak Revan, jika bukan karena kalian saya pasti tidak bisa pulang ke negara saya," ucap Riad lalu melepas pelukannya.
"Sama-sama jika bukan karena kamu juga Sheryl dan Raka juga tidak berpisah," sahut Revan.
__ADS_1
Kini Riad menyeret koper miliknya lalu dia masuk dan menoleh pada Revan dan Ray kemudian dia mengangguk.
Dia sungguh bahagia bisa pulang ke negara asalnya.
"Umi, Abi. Ead Riad," kata Riad dengan hati yang riang gembira.
(ibu ayah, Riad kembali).
Revan dan Ray tersenyum puas terlebih Ray yang sudah membalaskan dendam Rara. Kini Raka dan Sheryl akan menangis, terlebih Sheryl. Dia kalah banyak dengan Riad karena dia telah menyerahkan tubuhnya. Hanya karena barang-barang branded dan liburan ke luar negeri Sheryl klepek-klepek dengan Riad. Dengan cepat dia meninggalkan Raka yang telah menjadi kekasihnya selama ini.
"Tak kusangka begitu mudah memisahkan mereka," kata Ray
"Iya pak, bearti cinta Sheryl tak cukup kuat. Kena godaan sultan abal-abal dia langsung klepek-klepek," sahut Revan.
"Nanti ranjang yang digunakan Riad dan Sheryl kamu buang, aku tidak mau ada bekas orang lain di kamar apartemen aku, apalagi bekas untuk berhubungan badan yang nggak sah," titah Ray
"Baik pak," sahut Revan.
"Lebih baik kita kembali ke kantor karena aku sudah merindukan kekasihku," kata Ray.
"Astaga baru sebentar saja dia pergi, masa sudah kangen," batin Revan sambil menggelengkan kepala.
Kini Revan dan Ray berjalan keluar Bandara dan kembali ke kantor.
Di sisi lain Sheryl baru sampai di apartemen Ray, dia begitu senang karena pikirnya kini dia akan menjadi nyonya Riad CEO dari perusahan besar.
Sherly mengetuk pintu namun tidak dibukakan oleh Riad, dia mencoba menghubungi Riad namun tidak bisa.
"Kok nggak aktif sih," omel Sheryl.
Sheryl mencoba mengetuk pintu lagi namun lagi-lagi tidak ada yang membuka pintu.
Dia kini menghubungi kantor Riad namun Resepsionis bilang kalau CEO ada rapat.
Sheryl pun datang ke kantor Riad, dia ingin menunggu CEO rapat.
Resepsionis bilang kalau Sheryl dimohon menunggu di loby, dan tak berselang lama CEO yang asli masuk dengan asistennya.
"Pak, anda ditunggu nona itu," kata Resepsionis sambil menunjuk Sheryl.
Sang CEO mendekat dan tersenyum tentu sang CEO tahu kalau yang dicari adalah Riad.
"Kamu pasti mencari Riad?" tanya CEO
"Iya mana mas Riad?" tanya Sheryl balik
"Sebenarnya dia bukan CEO, karena CEO di sini adalah saya," jawab sang CEO.
Sheryl sungguh kaget, awalnya dia tak percaya namun memang dari semua bukti yang CEO tunjukkan memang menunjukkan kalau dialah CEO nya.
Sherly kembali lagi ke apartemen dan betapa kagetnya dia saat ada orang berpakaian hitam-hitam masuk dan membawa ranjang keluar apartemen.
"Ada apa ini," teriak Sheryl
"Kami hanya diperintahkan untuk membuang ranjang ini," jawab orang tersebut.
Sheryl nampak bingung, kenapa Riad meminta orang untuk membuang ranjang mereka?
"Sheryl menghubungi Riad namun tetap nggak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Kamu kemana sih Riad?"