
"Boleh ikut gabung?" tanya Rea yang membuat R5 menoleh.
Rehan segera berdiri dan mempersilahkan Rea duduk, "Silahkan," pinta Rehan dengan tersenyum.
"Terima kasih dokter Rehan," ucap Rea.
Ray dan Revan menatap Rehan, kenapa dia langsung saja mempersilahkan Rea duduk sebelum mendapatkan persetujuan darinya?
"Kamu puasa?" tanya Rehan
"Aku non muslim," jawab Rea yang artinya dia tidak puasa.
"O, non muslim," sahut Rehan.
Mendengar jawaban Rea entah mengapa membuat Rehan sedikit kecewa, apa dia kecewa dengan perbedaan keyakinan antara dirinya dan Rea? entahlah.
Lama mengobrol Revan memutuskan untuk pamit terlebih dahulu, rencananya dia akan mengantar Rea kembali ke kantor sekalian PDKT serta untuk mendapatkan nomor ponsel Raya.
"Aku antar Raya kembali ke kantornya dulu ya," pamit Revan
"Ingat puasa-puasa," sahut Ray
"Saya selalu ingat pak, memangnya pak Ray yang selalu nyosor di setiap waktu," timpal Revan.
Mendengar kata Ray membuat Rara menatapnya dengan sinis.
"Seperti kamu nggak saja," timpal Rara
"Hehe," sahutnya.
Cup
__ADS_1
Ray mengecup pipi Rara, tentu Rara jadi malu karena ada Rehan dan Rea apalagi mereka ada di tempat umum.
"Malu sayang, ini kan tempat umum apalagi dilihat Rea dan Dokter Rehan," protes Rara
"Nggak papa, jika pengen Dokter Rehan bisa meniru kita, kan ada wanita nganggur," timpal Ray.
Rea sedikit kesal, namun dia tidak bisa berkata selain menjadi penonton dan pendengar setia.
Rea yang merasa panas memutuskan untuk pamit kembali ke kantor, ikut bergabung R5 adalah keputusan yang salah.
"Aku pamit dulu," pamit Rea kemudian dia pergi.
Rehan segera menyusul Rea, dia yang tahu kalau Rea panas, ingin memberikan pengertian pada Rea supaya bisa mengentikan aksinya mendekati Ray.
"Rea," teriak Rehan yang seketika membuat Rea menghentikan langkahnya.
"Aku antar ya." Rehan menawarkan diri untuk mengantar Rea kembali ke kantornya.
Sepanjang perjalanan Rea hanya diam, dia masih kesal sekali dengan sikap Ray dan Rara.
"Kamu kenapa?" tanya Rehan
"Nggak kenapa-napa Dokter," jawab Rea
"Bahasa tubuh kamu tidak bisa dibohongi," sahut Rehan.
"Ada apa-apa dengan aku kan bukan urusan kamu Dokter," timpal Rea.
"Ray itu sangat menyayangi Rara, aku belum pernah dia seperti ini. Selama empat tahun berteman dengan Rehan tak pernah sekalipun aku melihat Ray mendekati wanita, bahkan dia memutuskan untuk melajang seumur hidupnya namun semua berubah saat Rara datang dalam hidupnya." Penjelasan Rehan membuat Rea terdiam dan ini cukup membuat Rehan tersenyum sinis.
"Kalau kamu adalah wanita baik-baik, wanita dengan harga diri yang tinggi, wanita elegan tentu kamu nggak akan jadi orang ketiga diantara mereka, karena serendah rendahnya wanita itu adalah wanita yang jadi pelakor, karena pelakor itu lebih kejam dari seorang begal," imbuh Rehan.
__ADS_1
Rea nampak berfikir, namun dia tidak bisa berpaling dari Ray karena orang tua Ray yang menyuruhnya untuk menjadi tunangan Ray
"Pikirkan lagi Rea, kamu cantik, smart, pintar, berpendidikan tentu dengan mudah bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari Ray."
Pesan Rehan pada Rea.
"Kamu benar Rehan tapi aku mencintai Ray," timpal Rea.
"Kalau kamu sudah main hati entahlah Rea," ucap Rehan kesal. "Ray adalah sahabat kami, tentu kamu akan mendukung dan mensupport Ray dalam bentuk apapun." imbuh rehan.
Rea nampak terusik dengan kata-kata Rehan namun dia juga tidak bisa berkata apa-apa.
Setibanya di kantor Ray Grup, Rea segera turun dan berterima kasih dengan Rehan karena dia sudah mengantarnya ke kantor.
"Semangat kerjanya, aku kembali dulu," pesan Rehan
"Iya hati-hati," sahut Rea
Di sisi lain, Revan juga kembali lagi ke kantor.
Revan sudah mendapatkan nomor telpon Raya dan kini saatnya Revan gencar mendekati Raya.
Dia ingin lebaran nanti ada wanita yang dikenalkan pada orang tuannya, dan semoga Raya adalah tulang rusuk dan makmumnya.
Hai-hai kak, selamat malam ya.
Sejam kemudian udah masuk jadi Senin nih kak, jangan lupa votenya ya kak, karena setiap hari Senin vote nya muncul.🤗🤗🤗🤗
maksih ya kak, tetap aku ingatkan jangan lupa like, suka, komen hadiah dan juga votenya.
Maksih kak😘😘😘😘😘❤️
__ADS_1