Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Raka tidak terima


__ADS_3

Pagi sekali Ray sudah berangkat dengan menggunakan pakaian yang berbeda.


Kali ini dia memakai blazer hitam dan kaos warna merah. Dia ingin menghadiri sidang Rara, dia ingin melihat kekalahan Raka.


Rara yang baru datang tentu kaget karena Ray sudah berada di mejanya. Rara menatap Ray tanpa berkedip karena baju yang dikenakannya, "Astaga pak Ray tampan sekali," gumamnya yang bisa didengar Ray.


Ray tersenyum kecil lalu berdiri dan menyandarkan pantatnya di ujung meja.


"Kemari lah," titah Ray dengan menatap Rara


"Ada apa pak?" tanya Rara.


"Jangan banyak bertanya, aku suruh kemari ya kemari," ucap Ray.


Dengan langkah pelan Rara mendekat, sebenarnya dia malas sekali dihukum atau diberi hadiah Ray karena pasti dia akan berhasrat dan ujung-ujungnya dia harus menahan hasratnya.


Disalurkan kok dosa kalau nggak kok kepala cenat-cenut.


"Pasti dihukum lagi ya pak," kata Rara


"Nggak," sahut Ray lalu membawa tubuh Rara dalam pelukannya.


"Aku hanya ingin memeluk kamu dan mencium aroma tubuh kamu," timpal Ray.


Ray memeluk Rara dengan erat, begitu pula dengan Rara yang juga memeluk Ray erat.


"Aku mencintai anda pak Ray," batin Rara.


Dia masih belum ingin mengatakan pada Ray kalau dia mencintainya, namun meskipun begitu dari sikapnya sangat terlihat kalau Rara juga mencintai Ray dan Ray tau akan hal itu.


Puas berpelukan mereka pun melerai pelukan mereka, Ray menatap Rara, begitu pula dengan Rara, mereka berdua saling pandang dan bersiap untuk saling berpaut.


Tok


Tok


Tok


Revan mengetuk pintu.


"Tunggu," teriak Revan yang menghentikan aksi Ray dan Rara.


Ray melemparkan tatapan mautnya pada Revan yang mengganggu kesenangannya padahal sedikit lagi mereka sudah saling berpaut.


"Ada apa?" tanya Ray kesal.


"Saya mau minta tanda tangan pak," jawab Revan


Rara kini telah kembali ke mejanya, kemudian dia membuka laptop miliknya lalu siap untuk berkerja.


"Anda tumben pakai baju semi santai pak?" tanya Revan


"Iya, karena nanti mau sidang," jawab Ray


"Bukannya Rara yang akan sidang?" tanya Revan lagi


"Aku ikut menemani," jawab Ray lalu menyerahkan kembali berkas yang telah dia tanda tangani.


Revan kini keluar dari ruangan Ray namun sebelumnya dia menggoda Rara terlebih dahulu.


"Silahkan lanjut lagi Ra, jangan lupa pintunya di tutup," goda Revan yang membuat Rara malu.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, Rara pamit pada Ray untuk pergi sidang.


"Pak Ray, saya ijin sidang ya," pamit Rara


"Iya, aku ikut," sahut Ray

__ADS_1


"Ngapain pak Ray ikut," protes Rara


"Aku takut kamu kasian sama Raka dan kembali padanya," timpal Ray


Rara menatap Ray dengan lekat, dia tak menyangka kalau Ray memiliki pikiran seperti itu.


"Pak Ray pikiran anda tidak masuk akal sekali," kata Rara


"Kan siapa tau, kemungkinan itu bisa saja terjadi," ucap Ray.


Tak ingin debat lagi, mau nggak mau mereka kini berangkat bersama menuju pengadilan.


Di sana sudah ada Raka dan papanya, tak hanya mereka orang tua Rara juga hadir.


Rara nampak gugup, dan Ray yang tau mencoba menenangkan wanitanya dengan memegang tangannya.


"Nggak usah takut, dan jangan lemah. Ok!" ucap Ray


Kini Rara dan Ray masuk ke dalam, orang tua Rara sebenarnya tidak tau masalah ini, papa Raka yang mengundangnya untuk hadir di sidang. Papa Raka ingin kedua orang tua Rara tau kalau yang bejad adalah anaknya bukan Rara.


Hakim pun telah datang, Raya juga sudah berada di samping Rara. Ternyata Ray juga menyiapkan pengacara kondang Hotman Prancis. Kini Raka akan menghadapi dua pengacara yang jago dan pengacara Raka sedikit kikuk mengingat klien nya memang salah.


"Pak, mereka membawa dua pengacara," kata Pengacara Raka


"Sudah jangan takut, bukti kita kuat," sahut Raka yang percaya diri kalau buktinya kuat.


"Kelihatannya anda belum mengenal Raymond Toretto dengan baik pak," batin Pengacara Raka.


Hakim membacakan gugatan sang penggugat kalau penggugat menginginkan harta warisan yang diambil tergugat yang mana hal itu terjadi karena si penggugat selingkuh.


Raya indah pengacara Rara menjelaskan kalau semua itu terjadi karena jebakan dari mantan suami penggugat.


Hakim meminta Raya untuk menjelaskan setelah selesai, kini gantian pengacara Raka yang menjelaskan.


Kemudian Pengacara Ray, Hotman Prancis mengajukan diri untuk menambah penjelasan dari Raya.


"Kita telah salah pa," kata Mama Rara


"Iya ma," sahut papa Rara.


Sebagai kompensasi atas kerugian penggugat karena kesalahan tergugat, Rara meminta semua warisannya kembali yang berupa bisnis baru Raka, dia menginginkan semua meski jumlahnya lebih dari warisannya.


Raka keberatan dengan kompensasi yang Rara minta, namun keberatan Raka ditolak Hakim.


Sekian itu Rara juga meminta warisan Raka, karena selama menjalin rumah tangga dengannya dia terbukti selingkuh dan sesuai perjanjian pra nikah dulu, kalau warisan yang selingkuh akan jatuh pada yang diselingkuhi.


Raka mengajukan banding pada hakim, karena yang tidur dengan Rara bukanlah orang suruhannya jadi bisa jadi kalau Ray adalah memang selingkuhan Rara.


Hakim nampak menimbang-nimbang, oleh sebab itu pengajuan banding tergugat diterima oleh Hakim dan sidang dilakukan tiga hari lagi.


Ray sungguh kesal sekali dengan Raka, sudah terbukti bersalah masih saja mengajukan banding dan lebih kesalnya lagi pak hakim menerima banding si Raka.


"Tenang pak, saya sudah menghubungi saksi-saksi pegawai hotel, kemungkinan Raka nanti akan menghubunginya namun semua sudah saya atur," kata pengacara Ray.


Setelah sidang selesai, Ray dan Rara keluar, di depan ruang sidang orang tau Rara memanggil Rara.


"Ra," panggil mamanya


Rara hanya diam tanpa berkata apa-apa, orang tua Rara kini mendekat namun Ray segera menarik tangan Rara.


"Rara masih banyak pekerjaan, permisi," kata Ray lalu dia membawa Rara pergi.


Mama dan papa Rara sungguh kecewa pada Raka karena ulahnya mereka mengusir Rara yang memang tidak bersalah.


"Sudahlah, semoga masalah ini cepat selesai dan Rara mau memaafkan kalian," ucap Papa Raka lalu dia dan Raka pulang.


Sepanjang perjalanan, Rara hanya terdiam dan ini membuat Ray kesal, seolah dia bersama dengan boneka.

__ADS_1


"Memikirkan orang tua kamu?" tanya Ray


"Atau Raka?" tanya Ray lagi.


Rara melemparkan tatapan mautnya pada Ray, "Kalau saya memikirkan mas Raka bearti saya orang terbodoh di dunia ini," jawab Rara


"Lantas?" tanya Ray


"Kepikiran papa dan mama," sahut Rara


"Mereka itu orang tua terkejam," timpal Ray


"Memang tapi mereka begitu juga karena hasutan mas Raka," ucap Rara


************


Raka terus saja mencari cara supaya pengajuan bandingnya diterima, dia terus mencari bukti untuk mengalahkan Rara namun tanpa dia tau, Ray lebih cepat darinya.


Tiga hari kemudian sidang dimulai lagi, kini Ray sudah menyiapkan semua begitu pula dengan Rara dan Raya.


Orang tua Rara juga hadir namun papa Raka tidak hadir karena dia harus menyiapkan semua warisan yang harus dibagi.


Semua bukti telah jelas, dan hakim telah mengetuk palu kalau Rara lah pemenangnya.


Rara langsung memeluk Ray, dia bahagia saat ini.


Dia sungguh puas karena Raka telah kalah, begitu pula dengan Ray dia sungguh puas melihat Raka kalah.


"Revan abadikan gambar wajahnya," titah Ray.


"Baik pak," sahut Revan.


"Ini baru permulaan Raka, setelah ini akan ada lagi," ucap Ray dengan tersenyum miring.


Raka yang tidak menerima kekalahannya berjalan menghampiri Ray dan menarik kerah baju Ray.


"Brengsek kamu Raymond, ini semua karena campur tangan kamu," umpat Raka.


Ray yang tidak terima membogem Raka, mendapatkan bogeman dari Ray, Raka langsung tersungkur di lantai.


"Yang brengsek itu kamu, bisa-bisanya kamu menjebak istri kamu sendiri demi hartanya, bodoh!" ucap Ray


Raka perlahan bangun, karena bogeman yang kuat, bibir Raka jadi sobek.


Anak buah Raka yang tau kalau atasannya dibogem ingin menolong namun secepat kilat anak buah Ray melumpuhkan semua anak buah Raka.


Tak bisa menyerang Ray, Raka mencoba menyerang Rara, karena yang kini dia terima semua karena Rara.


"Wanita brengsek kamu Ra," umpat Raka lalu dia mencekik Rara, Ray yang kecolongan segera membalikkan badannya dan langsung membogem Raka dengan membabi buta.


"Berani kamu menyakiti wanitaku," katanya yang tak henti-hentinya membogem Raka.


Rara mencoba menghentikan Ray, karena dia takut kalau Ray kalap yang bisa membuat nyawa Raka melayang.


"Sudah pak, sudah," teriak Rara


"Dia telah mencekik kamu dan kamu masih ingin membelanya Ra!" teriak Ray lalu menghentikan aksinya.


Ray membenahi bajunya, dia juga meminta air pada pengawalnya karena dia ingin mencuci tangannya yang kotor karena darah Raka.


Sebelum aku mengamuk lagi, segera bawa pergi tuan kalian," teriak Ray dengan rahang yang mengeras.


Selepas kepergian Raka, Ray juga ingin pergi, dia sungguh kesal dengan Rara bisa-bisanya dia membela Raka, seharusnya biar saja Raka mati di tangannya. Ray mengkode pengawalnya untuk kembali kemudian dia berjalan untuk kembali ke kantor, Ray sengaja meninggalkan Rara di tempatnya.


Dengan mata yang berkaca Rara berlari dan memeluk Ray dari belakang.


"Saya sangat mencintai anda pak Ray, saya hanya tidak ingin anda kalap dan membunuh Mas Raka, anda bisa dihukum karena hal itu, lalu kalau anda dihukum siapa yang menghukum aku?" kata Rara.

__ADS_1


__ADS_2