Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Datang ke rumah Rara


__ADS_3

Mama yang kesal memutuskan untuk pulang, dia sangat kecewa dengan Rea yang tidak bisa mengalahkan Rara, selain itu kenapa juga para investor lebih memilih Rara bukankah kemarin dia telah meminta mereka semua untuk lebih condong ke Rea? apa mereka semua lupa atau hilang ingatan? itulah pikiran yang mengganjal di kepala mama Ray.


"Aku ingin menemui orang tau Rara, kamu cari tahu alamatnya," titah mama Ray dengan kesal.


Nampak sekali kalau dia sedang menahan amarah.


Ryan segera mencari info terkait alamat Rara, dan tak selang kemudian, Ryan kembali dengan membawa info yang dibutuhkan atasannya.


"Siapkan uang lima Milyar," titah mama Ray kembali


"Apa anda ingin menyogok orang tua nona Rara?" tanya Ryan.


"Iya," jawab mama Ray


Ryan hanya bisa menggaruk kepalanya, orang tua Rara termasuk orang yanga kaya juga, meski tidak sekaya keluarga Toretto, apa mungkin akan menerima uang ini dan menukarkan kebahagiaan anaknya?


"Ayo berangkat." Mama Ray melenggang keluar dari ruang kerjanya untuk berangkat ke rumah orang tua Rara.


*************


"Cukup kaya juga," gumam Mama Ray saat melihat rumah mewah keluarga Rara.


Kini mama Ray turun dari mobil, Ryan memencet bel dan tak lama kemudian art membukakan pintu.


"Maaf, apa Tuan dan Nyonya Brawijaya ada?" tanya Ryan dengan sopan


"Mohon maaf pak, Tuan Brawijaya masih di kantor sedangkan nyonya Brawijaya ada di dalam," jawab art


"Mari masuk dulu saya panggilkan," imbuh art tersebut.


Ryan dan nyonya Toretto masuk, bola mata mama Ray memutar pandangannya kini jatuh di sebuah foto kelaurga besar yang dipajang di ruang tamu.


"Aku tidak asing dengan wajah lelaki dan wanita ini," batin mama Ray.


Tak berselang lama Mama Rara turun dan menemui Mama Ray.


"Selamat siang, mohon maaf ada keperluan apa ya?" tanya mama Rara.


Mata mama Rara dan mama Ray saling bertemu, mama Rara seperti tidak asing dengan wajah mama Ray begitu pula sebaliknya.


Namun mereka berdua sama-sama menepis rasa penasaran mereka, daripada pusing mengingat-ingat.


"Selamat siang nyonya Brawijaya," balas Mama Ray


Mama Ray meminta asistennya untuk mengatakan maksud dan tujuannya kemari.

__ADS_1


"Selamat siang nyonya, mohon maaf jika mengganggu waktu istirahatnya. Jadi kedatangan kami kemari untuk memberitahukan pada Anda supaya menasehati nona Rara agar tidak berhubungan lagi dengan Tuan muda Raymond Toretto karena Tuan muda telah dijodohkan," jelas Ryan.


Mama Rara nampak shock, bagaimana bisa dan sejak kapan Ray dijodohkan? karena setiap hari hubungannya dengan Rara semakin erat, bahkan Ray telah melamar Rara meski secara pribadi belum mempertemukan orang tua.


"Di jodohkan? bukannya Ray dan Rara saling mencintai?" tanya mama Rara


"Tapi Rara tidak selevel dengan Ray," jawab Mama Ray


Mama Rara mengerutkan alisnya, sombong sekali mama Ray begitu pikirnya.


Ryan menyodorkan cek sebesar lima milyar untuk nyonya Brawijaya.


"Untuk apa cek ini?" tanya Nyonya Brawijaya.


"Untuk kompensasi Nyonya," jawab Ryan.


"Apa kurang?" tanya mama Ray


Mama Rara tersenyum sinis, "Menurut anda uang segini mampu untuk membeli kebahagiaan anak saya? Ray dan Rara saling mencintai, untuk apa mereka dipisahkan?" tanya mama Rara


"Karena Ray telah dijodohkan," jawab mama Ray


Mama Rara tertawa keras, "Pasti Ray menolak perjodohannya kan?" tebak mama Rara.


"Sombong, Rara itu hanya benalu di hidup Ray, dia itu bagai parasit yang harus dibasmi," ejek mama Ray


Mama Rara yang tak terima anaknya dihina langsung mengambil minuman yang tersaji di meja dan menyiramnya ke kepala mama Ray.


"Siapa anda tega menghina anak saya," maki mama Rara


"Brengsek," umpat mama Ray dengan mengusap kepala serta bajunya yang basah.


"Anda yang brengsek," umpat mama Rara balik.


Mendapatkan siraman dari mama Rara membuat mama Ray murka namun dia sebisa mungkin mengontrol diri karena dia tidak ingin membuat keributan.


"Pulanglah nyonya, karena saya ingin beristirahat kembali," usir mama Rara.


Mama Ray mengkode Ryan untuk kembali.


"Mohon maaf nyonya, kelihatannya kami harus segera kembali, sekali lagi mohon maaf jika kamu mengganggu waktu anda," kata Ryan sambil membungkuk.


"Tunggu, kelihatannya anda yang lebih membutuhkan cek ini untuk periksa kejiwaan anda," ucap mama Rara.


"Kau, beraninya mengatai aku sakit kejiwaan!" seru mama Ray

__ADS_1


"Apalagi namanya jika bukan sakit jiwa, orang tua yang rela menukar kebahagian anaknya dengan uang itu pasti sakit jiwa," sahut mama Rara dengan santai.


"Jaga mulutmu!" teriak mama Ray kemudian beliau menghela nafas mencoba mengatur emosinya.


"Sebaiknya kita pulang nyonya, baju anda basah," ucap Ryan karena tidak ingin terjadi insiden antara para mama.


Setelah kepergian mama Ray dan asistennya, mama Rara ambruk di sofa.


Entah darimana datangnya keberaniannya, mama Rara sungguh tidak terima jika Rara di hina, kesalahan dengan Raka dulu cukup membuat mama Rara menyesal karena menelantarkan Rara, untuk itu dia tidak rela kalau ada yang menyakiti buah hatinya.


Mama Rara tidak menyangka kalau mama Ray adalah orang yang sombong seperti itu berbeda dengan Ray.


************


Rea kali ini tidak terima dengan kekalahannya, kali ini dia ingin menggunakan akal licik untuk menjebak Ray.


"Keliahatannya tidak bisa merayu kamu Ray untuk itu aku akan menggunakan cara ini supaya kamu menjadi milik aku," gumam Rea dengan tertawa.


Setelah jam kantor usai, Rea pergi menemui penjual obat untuk meningkatkan gairah yang sebelumnya sudah dia hubungi.


Tak tanggung-tanggung Rea membeli obat dengan dosis yang tinggi, rencananya dia ingin menghabiskan malam panas bersama Ray.


"Tunggu Ray malam panas kita nanti," ucap Rea sambil melihat botol yang berisi obat perangsang.


Sesampainya di rumah, Rea segera ganti baju, saat para art menyiapkan makan malam, Rea turut andil menyiapkan makanan.


"Ini kopi untuk Tuan muda?" tanya Rea


"Betul nona," jawab para art.


Rea tersenyum licik, dia membawa Kopi Ray dan melihat sekitarnya di rasa aman Rea mengeluarkan obat perangsang untuk Ray.


"Lihatlah setelah minum kopi ini kamu akan kepanasan Ray, dan hanya aku yang bisa memuaskan kamu," gumam Rea.


Ray yang baru saja dari halaman belakang tentu melihat apa yang dilakukan Rea.


"Apa yang dia masukkan ke dalam kopi aku," batin Ray.


Otak Ray langsung menjurus ke hal itu sehingga dia tersenyum licik.


"Mau menjebak aku dengan cara konyol seperti itu? baik kita lihat saja siapa yang akan terjebak," batin Ray.


Ray kembali lagi ke halaman belakang,


"Nanti datanglah ke rumah aku, ada tugas penting untuk kamu,"

__ADS_1


__ADS_2