
Seketika tubuh Revan terhuyung ke belakang untung Ray segera menangkap tubuh Revan.
"Tidak mungkin Raya meninggal, anda pasti ngeprank saya kan dok!" teriak Revan dengan menarik kerah dokter.
"Revan, Revan tenangkan dirimu," bujuk Ray dengan memegangi tangan Revan.
"Maafkan kami pak, kami sudah berusaha semaksimal kami, tapi memang istri anda tidak bisa kami selamatkan," kata Dokter
Mata Revan basah, dia berteriak dengan memanggil nama sang istri.
"Raya!" teriaknya lalu Revan masuk ke dalam ruang operasi.
Yang benar saja, tubuh Raya telah di tutup kain. Revan semakin tak memiliki kekuatan untuk mendekat. Dia tak sanggup melihat sang istri terbujur kaku di brankar.
Ray yang tidak tega melihat keadaan Revan segera menyusul, dia menguatkan Revan dengan menepuk bahu Revan.
Perlahan Revan mendekati brankar dimana Raya tidur untuk selamanya.
Tangan Revan tergerak untuk membuka kain yang digunakan oleh suster untuk menutupi Raya.
Nampak wajah Raya yang pucat, saat Revan memegang tangan Raya dia merasakan tangan Raya sangat dingin.
"Sayang, beraninya kamu pergi meninggalkan aku. Siapa yang mengijinkan kamu pergi hah. Kamu enak enakkan tidur sedangkan aku harus mengurus anak kita sendiri gitu, mana hati kamu sayang," ucap Revan dengan menangis.
Dia tak kuasa melihat sang istri pergi untuk selamanya.
Rara juga menangis melihat Raya, dia tidak menyangka teman baiknya akan cepat pergi.
__ADS_1
Ray yang tidak tega melihat Revan mencoba menenangkan asisten serta sahabatnya tersebut.
"Ikhlaskan saja Revan, kasihan Raya," hibur Ray dengan merangkul Revan .
"Anda bisa berkata seperti itu karena anda tidak merasakan ditinggal pergi istri," sahut Revan.
"Cintaku terenggut tak terselamatkan bagiamana saya bisa ikhlas, dia mengalami ini semua karena karena ulah saya, andaikan saja saya tidak membuat dia hamil pasti ini semua tidak akan terjadi," imbuh Revan.
Ray tidak bisa berkata apa-apa lagi, memang benar kata Revan andaikan dia yang berada di posisi Revan belum tentu bisa berkata seperti ini.
"Bagun lah Sayang, anak kita lebih membutuhkan kamu daripada aku. Biar aku gantikan tempatmu denganku," kata Revan.
Revan terus menangis dengan menciumi tangan dan wajah istrinya.
Kepergian Raya benar-benar membuat Revan tidak terima.
"Kenapa sekarang kamu pergi sayang, bagaimana dia besar tanpa kamu, bagaimana hari-hari aku tanpa kamu," imbuh Revan
Rara yang mendengar kata-kata Revan semakin terisak.
Dia tidak tega melihat Revan yang terus menangis di sisi Raya.
Ray yang sedih memeluk sang istri,
"Jangan tinggalkan aku seperti itu sayang," kata Ray dengan menunjuk Raya.
"Nasib tidak ada yang tau sayang, itu semua misteri Tuhan," sahut Rara
__ADS_1
Tim dokter datang untuk memindahkan jasad Raya ke ruang jenazah namun Revan melarangnya.
"Kalian keluar semua, pindahkan istri saya ke ruang perawatan! dia masih hidup, dia harus menyusui anak kami yang baru lahir," teriak Revan yang tidak menginjinkan pihak rumah sakit untuk membawa jasad Raya ke ruang jenazah.
Ray mengkode dokter untuk pergi, dan dokter dan para perawat pergi.
Rahan yang mendengar kabar segera menyusul ke ruang operasi, dia tidak tau kalau Raya melahirkan hari ini.
"Ada apa ini Ray?" tanya Rehan
"Raya meninggal Rehan," jawab Ray
Rehan nampak shock, dia mendekati Revan yang memeluk jasad sang istri.
"Sabarlah Revan," hibur Rehan
Tiba-tiba Rehan berlari keluar,
"Bodoh kenapa kalian tidak melakukan hal ini sedari tadi," ucapnya.
Halo kak, selamat sore.
Gimana kabarnya nih, pasti baik kan.
Jangan lupa ya kak, untuk selalu like, komen, vote serta hadiah supaya aku selalu semangat ya kak.
Maaf ya untuk bab Rehan ini agak sedih😂
__ADS_1
Kira-kira apa yang akan Rehan lakukan ya🤗🤗🤗komen ya kak😘