
"Apa maksud anda pak Ray," tanya Rara yang tak sengaja masuk karena ingin bertanya pada Revan tentang laporan yang kini tengah dia kerjakan.
Saat dia masuk tadi tak sengaja Rara mendengar kalau Revan dan Ray ingin membuat Raka menderita dan menangis darah. Rara yang belum mengetahui akan kebusukan Raka tentu marah. Meski Raka kini bukan suaminya lagi namun, Rara tidak rela jika ada yang menyakitinya.
Ray dan Revan saling pandang, apa Rara mendengar semua?
Ray berdiri kemudian berjalan menghampiri Rara yang membatu di ambang pintu.
"Apa maksud anda pak Ray?" tanya Rara lagi dengan mata yang mulai berkaca.
"Maksud aku bagaimana? kalau bertanya yang jelas," kata Ray
"Kenapa anda ingin mas Raka menderita, kenapa anda ingin memisahkan mas Raka dengan Sheryl!" teriak Rara
"Karena dia pantas mendapatkannya," sahut Ray dengan santai dan datar.
Plak....
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Ray, Ray yang merasakan panas-panas sakit akibat tamparan Ray sedikit merintih sedangkan Revan yang melihat Rara menampar Ray langsung berteriak, tentu dia tidak ingin bosnya disakiti.
"Jaga sikap kamu Ra, lihat siapa yang kamu tampar." Revan kini berusaha mendekat namun Ray mengkode dengan tangannya supaya Revan tetap di posisinya.
"Kalian ini memang binantang, tak punya perasaan bisa-bisanya menghancurkan sesama kalian apalagi memisahkan orang yang ingin menikah, dimana otak kalian," kata Rara dengan air mata yang berderai.
"Apa kamu bilang! kami binatang! justru Raka dan Sheryl itu yang binatang, mereka itu iblis berkedok manusia! mereka tidak punya otak!" teriak Ray tak mau kalah.
__ADS_1
Plak....
Lagi-lagi Rara menampar pipi Ray untuk yang kedua kalinya.
"Ra! kamu sungguh keterlaluan!" teriak Revan tak terima Ray ditampar lagi oleh Rara namun lagi-lagi Ray melarangnya untuk mendekat.
"Diam lah Revan!" titah Ray
"Tapi dia keterlaluan pak, beraninya menampar anda untuk yang kedua kalinya," sahut Revan dengan kesal.
Ray menatap Revan dan menatapnya. Revan yang tau maksud tatapan Ray mencoba diam namun dia sangat kesal dan menyayangkan sikap Rara.
"Dua kali kamu menampar aku," kata Ray dengan memegangi pipinya.
"Kenapa! seharusnya hukumannya tak hanya sebuah tamparan," kata Rara dengan nada yang semakin meninggi.
"Kalaupun di dunia ini kamulah pria satu-satunya, akan aku pikir-pikir untuk menikah denganmu," imbuh Rara.
Deg...
Hati Ray bagai tertusuk sembilu, sungguh sakit mendengar penuturan Rara, dia tak menduga Rara mengucapkan kata-kata yang menusuk hati seperti itu. Wanita yang amat dia cintai dengan tega mengatakan hal yang benar-benar membuatnya begitu sulit untuk bernafas karena dadanya sungguh sesak sekali.
Dengan raut wajah yang berubah dia meminta Revan untuk menunjukkan semua bukti kebusukan Raka pada Rara, mungkin sudah waktunya Rara melek, siapa pria yang begitu dia puja, pria yang begitu dia sayangi, pria yang begitu dia cintai.
"Revan beri semua berkas Raka padanya," kata Ray lalu keluar dari ruangan Revan dan melewati Rara.
__ADS_1
Dia menatap Rara sekilas.
Hatinya sungguh sakit mendengar kata-kata Rara, bagaimana Rara bisa mengjudge dirinya yang selama ini melakukan apapun untuk dirinya.
Ray yang sakit masuk ke dalam ruangannya, dia membuang semua benda yang ada di mejanya termasuk laptop serta ponselnya.
"Dasar wanita tak tau terima kasih, wanita brengsek beraninya menyakiti aku seperti ini," kata Ray lalu dia mengambil kunci mobilnya dan pergi. Pergi kemana hanya dia yang tau.
Di sisi lain Rara terduduk lemas di ambang pintu dengan menangis, dia tidak menyangka akan seperti ini jalan takdir hidupnya, saat dia move on dan membuka hati, Ray malah ingin menghancurkan Raka.
Revan kini mengambil berkas dan mencari bukti lain yang ingin dia tunjukkan pada Rara.
Rara kini beranjak dan hendak kembali ke ruangan Ray.
"Tunggu," teriak Revan
Dengan membawa semua bukti dia kini mendekati Rara, "Baca baik-baik dengan seksama, jika perlu kamu ulang tujuh kali biar merasuk ke dalam otak kamu dan membuka mata kamu siapa suami yang begitu amat kamu cintai," kata Revan yang sungguh kesal dengan Rara.
Revan kini hendak keluar untuk menyusul Ray, namun baru beberapa langkah dia membalikkan badan.
"Dan semoga kamu tidak menyesal karena telah berkata kasar dan menampar pak Ray, dan setelah kamu tau bukti itu, aku harap kamu bisa meralat ucapan kamu siapa yang binantang dan siapa yang malaikat," imbuh Revan.
Dia meninggalkan Rara yang berdiri di ambang pintu ruangannya.
Rara memandang punggung Revan dengan nanar, apa maksud Revan dan ini berkas apa yang diberikan padanya.
__ADS_1
Perlahan Rara membuka berkas tersebut dan air matanya keluar lagi.
"Mas Raka,"