
"Baiklah aku akan pulang, lanjutkan meeting kamu. Maaf jika kedatangan aku mengganggu," balas Rara lalu dia keluar ruangan Ray.
Rara meneteskan air matanya, dia sungguh sakit mendengar kata Ray. Dalam keadaan yang tidak baik dia bela-belain datang ke kantor namun setibanya di kantor sikap Ray malah di luar ekspektasinya.
Rara yang merasa lelah duduk sejenak di sebuah kursi, air matanya terus keluar tanpa bisa direm.
"Tega kamu ngusir aku," ucap Rara dengan terisak.
Tak sengaja Revan lewat dan melihat Rara menangis.
"Ra, kamu kenapa?" tanya Revan
Rara segera menghapus air matanya meski air matanya tak ingin berhenti.
"Eh pak Revan, ada sesuatu yang masuk ke dalam mata aku sehingga mata aku basah," jawab Rara berbohong.
Tentu Revan tidak percaya, bagaimana mungkin orang kelilipan bisa terisak seperti itu.
"Yakin hanya kelilipan?" tanya Revan tak percaya.
Dia yakin kalau pasti ada masalah dengan Ray.
Bukannya menjawab Rara malah terisak, dan ini membuat Revan iba.
"Sudah ketemu Pak Ray?" tanya Revan
Rara mengangguk dan pamit daripada dia cerita yang nggak nggak pada Revan.
Saat berdiri tiba-tiba kepala Rara sangat pusing sehingga tubuhnya terhuyung kebelakang.
Dengan sigap Revan menangkap tubuh Rara,
"Ra kamu kenapa?" tanya Revan
"Nggak papa pak Revan," jawab Rara lalu berdiri sendiri
Dia pamit pada Revan sekali lagi dan langsung pergi.
Sepanjang perjalanan pulang Rara terus menangis dia masih teringat akan perlakuan Ray.
*************
"Anda tidak pulang pak?" tanya Revan
"Kita kan ada meeting lagi dengan Nona Raisa," jawab Ray
"Biar saya saja yang mewakili anda pak, tadi saya lihat Rara menangis, wajahnya juga sangat pucat. Saya takut kalau terjadi apa-apa dengannya," ungkap Revan
"Mungkin kecapekan saja dia," sahut Ray seolah dia tidak peduli pada Rara
Revan hanya bisa mengerutkan alisnya kali ini dia heran dengan sikap Ray yang seolah tidak peduli dengan istrinya.
"Apa ada masalah?" tanya Revan
"Nggak," jawab Ray
__ADS_1
"Istri anda lagi hamil, jangan sampai kejadian Raya terulang pada Rara," sindir Revan yang membuat Ray terdiam.
Ray nampak terdiam, dia tentu tidak ingin kalau Rara meninggalkannya tapi dia masih kesal sekali dengan sang istri.
Saat ingin berangkat meeting Raya menghubungi Revan, dia bilang kalau Reno sakit sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
"Pak mohon maaf, Reno sakit sehingga saya tidak bisa mewakili anda untuk meeting dengan Nona Raisa," kata Revan dengan panik.
"Ya sudah kamu pulang saja, biar aku sendiri yang akan meeting dengannya," sahut Ray.
Revan bergegas pulang karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Reno.
Ray memutuskan langsung bertemu Raisa daripada pulang terlebih dahulu.
Mereka mengobrol banyak dan kelihatannya Ray dan Raisa nampak nyambung sehingga tak terasa sudah tiga jam terlewati.
Di sisi lain, Rara dan Leo juga membahas Mega proyek perusahaan mereka dengan negara timur tengah.
"Kita harus tetap meninjau lokasinya bos," kata Leo
Pikiran Rara yang pergi kemana-mana kurang mendengar kata-kata Leo sehingga dia hanya diam tanpa merespon.
"Are you here bos?" tanya Leo
Lagi-lagi Rara tidak mendengar pertanyaan Leo.
Leo akhirnya menepuk bahu Rara dan ini membuat Rara keluar dari lamunannya.
"Maaf Leo," ucap Rara dengan tersenyum.
Dia melangkahkan kaki melihat luar jendela namun Ray masih belum pulang.
"Are you ok?" tanya Leo yang ikut menyusul Rara
"Yes, im Ok Leo," jawab Rara dengan mengusap air matanya.
Leo nampak tersenyum, dia cukup tau kalau Rara tidak baik-baik saja.
Saat hendak kembali ke sofa Rara terhuyung kebelakang dan dengan sigap Leo segera menangkap tubuh Rara.
"Maaf Leo aku pusing sekali," kata Rara
"Iya anda sangat pucat, apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Leo
"Nggak usah Leo mungkin aku butuh istirahat saja," jawab Rara
Rara yang tidak kuat menahan rasa pusingnya meminta Leo untuk mengantarnya ke kamar.
"Mana pak Ray bos?" tanya Leo
"Belum pulang, mungkin ada urusan," jawab Rara
"Ya sudah, mohon maaf saya hanya bisa mengantar anda sampai sini nggak enak kalau saya masuk kamar anda," sahut Leo
"Iya, terima kasih ya Leo," ucap Rara
__ADS_1
"Saya pamit, kalau ada apa-apa saya siap dua puluh empat jam melayani anda," timpal Leo
Rara tersenyum mendengar kata Leo,
"Kamu ada ada saja," ucap Rara
"Ya sudah saya pamit bos," kata Leo lalu dia pergi.
Rara masuk kamar dengan menahan pusing di kepalanya, dia langsung merebahkan diri di tempat tidur.
Makin lama pusingnya tidak bisa dia tahan sehingga dia memutuskan untuk menghubungi Ray.
"Angkat dong sayang," gumam Rara
Panggilannya tersambung namun tidak diangkat sama sekali oleh Ray.
"Kamu dimana sih," kata Rara dengan melempar ponselnya di tempat tidur.
"Ya Allah pusing sekali," gumam Rara
Rara beranjak untuk mengambil obat pusing, dia juga minum penambah vitamin supaya badannya tidak lemah.
Seusai meminum obat Rara memutuskan untuk tidur.
Saat bangun Rara sudah melihat Ray sudah rapi dengan pakaiannya.
"Kamu pulang jam berapa? kenapa panggilanku semalam tidak kamu angkat?" tanya Rara
"Aku pulang jam 12, aku lagi meeting jadi tidak bisa angkat telpon kamu," jawab Ray
"Bisakah kamu berangkat ke kantor nanti saja," pinta Rara
"Aku ini banyak urusan, banyak kerjaan bisa-bisanya kamu menginginkan aku untuk berangkat nanti," sahut Ray
"Kamu kenapa sih, kemarin aku ke kantor kamu usir aku sekarang aku hanya meminta kamu untuk berangkat nanti kamu marah. Aku itu hanya kangen sama kamu," ucap Rara
Ray menghela nafas, dia menatap istrinya yang memang terlihat pucat.
"Aku berangkat dulu, nanti sore saja kita bicara," kata Ray lalu pergi
Rara terduduk di tepi ranjangnya dengan menangis.
Dia heran kenapa sikap Ray berubah, apa memang dia ada masalah di kantor? atau ada hal lainnya?
Entahlah apa yang sebenarnya dengan Ray tidak ada yang tau.
Tak ingin larut dalam kesedihannya Rara mulai melakukan aktivitasnya, dia dan Leo janji untuk bertemu di luar selain untuk membahas kerjaan Rara juga ingin menenangkan pikirannya.
"Kita berteman di kafe ABC saja Leo," kata Rara dalam sambungan telponnya.
"Nanti kamu pesan taxi online saja," imbuh Rara.
Leo hanya bisa bilang iya meski dia sendiri kurang paham bagiamana pun juga Leo adalah stranger ( orang asing) di Indo.
Rara berangkat satu jam lebih dulu dari jadwal yang telah di tentukan, dia sengaja datang awal karena suntuk di rumah.
__ADS_1
Setibanya di kafe Rara melihat wajah yang tidak asing baginya sedang duduk asik mengobrol yang diselingi tawa dengan seorang wanita.
"Keterlaluan kamu,"