
Huek huek huek
Rara mengeluarkan isi dalam perutnya, Ray yang mendengar sang istri muntah-muntah segera berlari untuk melihat keadaan sang istri.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ray dengan cemas
"Mual banget sayang," jawab Rara dengan lirih, dia sungguh lemah sekali.
Ray menuntun Rara dan menidurkannya di tempat tidur, dia sungguh kasian melihat istrinya yang lemah.
"Makan dulu ya, biar aku ambilkan," kata Ray dengan mengelus rambut Rara.
"Nggak mau, takut muntah lagi," sahut Rara dengan lirih.
"Tapi kalau nggak makan nanti kamu lemah kasian kan adek bayinya," bujuk Ray
"Tapi percuma juga aku makan kalau nanti ujung-ujungnya aku muntahin lagi," kata Rara yang enggan untuk makan.
"Tapi kan ibu hamil nggak boleh egois harus tetap makan, atau kamu punya keinginan apa gitu," ucap Ray
Rara nampak berfikir, dia memang lagi ingin makan nasi pecel tapi yang dibuat bungkus nasinya itu daun jati.
"Aku ingin makan nasi pecel yang bungkus daun jati sayang," kata Rara
Ray menatap istrinya dengan tersenyum cemas, darimana dia dapat penjual nasi dengan bungkus daun jati kalau daun pisang masih mending kalau daun jati cari dimana?
Ray nampak bingung
"Bagaimana kalau nasi pecel yang dibungkus daun pisang sayang." Ray bernegosiasi dengan Rara
Dia berharap Rara mau diajak kerja sama.
__ADS_1
"Aku maunya yang dibungkus daun jati sayang bukannya yang dibungkus daun pisang," protes Rara
"Kalau nggak mau ya sudah, aku nggak mau makan," ancam Rara
"Baiklah baiklah, akan aku cari," timpal Ray pasrah
"Makasih sayang," ucap Rara lalu dia memeluk sang suami, entah kenapa Rara sungguh bahagia saat Ray mau memenuhi keinginannya.
Melihat Rara bahagia membuat Ray bertekad untuk mengabulkan keinginan sang istri meski entah di mulai dari mana mencari nasi pecel bungkus daun jati.
Ray menghubungi Revan dan mengajaknya untuk berburu, tentu hal ini membuat Raya kesal pasalnya hari ini adalah hari minggu, hari dimana kumpul sama keluarga.
"Bos kamu memang ada-ada saja, kenapa nggak cari sendiri, dulu saat aku ngidam kamu juga cari sendiri tanpa melibatkan dia," gerutu Raya
"Sabar dong sayang, kan aku ini bawahannya jadi ya wajar kalau dia menyuruh aku, lagipula kan yang ingin makan nasi pecel keponakan kita," hibur Revan
"Iya iya. Ya udah sana berangkatlah, semoga segera dapat biar cepat pulang," usir Raya
Revan pun bergegas ke rumah Ray, setibanya di sana Revan langsung mengajak Ray untuk berangkat.
"Gimana ini Revan, kasian Rara kalau kita nggak kembali-kembali," kata Ray yang mulai mengkhawatirkan istrinya.
Revan nampak berfikir, di ibukota begini mana mungkin ada penjual nasi pecel dengan bungkus daun jati mengingat daun jati biasnya hanya ada di desa.
"Bagaimana kalau kita ambil daun jati kemudian kita bawa ke penjual nasi pecel dan menyuruhnya untuk membungkus nasi pecel pesanan kita dengan daun jati yang kita bawa." Revan memberikan ide yang cemerlang.
Ray berbinar mendengar ide Revan, kenapa sedari tadi tidak terpikirkan olehnya.
"Brilian Revan, bulan depan gaji kamu aku naikkan," puji Ray
"Janji ya bos," sahut Revan
__ADS_1
"Iya iya, atau kamu tulis sendiri berapa gaji yang kamu inginkan," timpal Ray
"Baiklah tapi jangan coba-coba ingkar janji," ancam Revan.
Ray mengangguk, dia memang ingin menaikkan gaji Revan mengingat Revan selalu membantunya dalam mengatasi ngidam Rara.
Revan dan Ray menuju penjual bunga, dan kebetulan sekali mereka menjual bibir pohon jati, dan untungnya juga ada yang sudah besar sehingga bisa dipetik daunnya.
Seusai mendapatkan daun jati, Ray dan Revan kembali mencari penjual nasi pecel mereka meminta penjualnya untuk menggunakan daun jati yang mereka bawa sebagai pembungkusnya.
"Akhirnya dapat juga," kata Ray lega karena sudah mendapatkan nasi pecel yang diminta sang istri.
Sesampainya di rumah Rara sungguh senang karena mendapatkan nasi pecel yang diinginkannya. Dia segera melahap nasi pecel tersebut.
Melihat Rara yang makan dengan lahap membuat Ray senang.
Revan juga pamit undur diri karena Raya menunggu di rumah.
"Saya pamit," pamit Revan
"Iya makasih ya Revan," sahut Ray
Kini Rara telah kenyang dan anehnya dia tidak mual sama sekali meskipun makan banyak.
"Nggak mual kan?" tanya Ray
"Nggak sayang," jawab Rara
"Alhamdulillah," sahut Ray
Ray jongkok di depan istrinya yang tengah duduk di kursi dia mengelus perut Rara yang masih rata.
__ADS_1
"Adek yang di dalam, makasih ya nggak buat mama mual, papa janji kalau adek pintar besok kalau lahir papa belikan mobil sport yang terbaru dan termewah," kata Ray
Rara terharu melihat sikap Ray meskipun dia harus menggelengkan kepala akan kata-katanya.