Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Kembali ke tanah air


__ADS_3

Leo menatap mobil yang mambawa Riana dengan lekat. Dia sungguh merasa bersalah pada Riana.


Seandainya dia tidak terus terang mungkin Riana tidak akan sesakit ini.


"Maafkan aku," ucap Leo lalu dia pamit untuk pulang.


Tak hanya Leo, Rara pun merasa bersalah pada Riana seandainya dia tidak memaksakan kehendaknya pada Leo tentu Riana tidak sesakit ini juga.


"Sudah jangan sedih kan dua hari kita menyusul Riana," hibur Ray.


"Iya sayang," sahut Rara dengan tersenyum.


Andaikan Ray tahu mungkin dia akan marah pada Rara karena bagaimanapun bukan ranah Rara untuk memaksakan perasaan Leo pada Riana.


Ray membawa Rara ke kamar seperti biasa ada saja modusnya.


"Sayang lusa kan kita sudah pulang," kata Ray


"Iya, terus?" tanya Rara


"Ya kan detik-detik terakhir kita di US," jawab Ray


"Iya kenapa memangnya?" tanya Rara dengan kesal karena Ray bertele-tele.

__ADS_1


"Ya kita harus perbanyak main bilyard sayang sebelum kembali ke tanah air," jawab Ray dengan terkekeh.


"Ya Tuhan sayang, kamu mau minta jatah," ucap Rara dengan tertawa.


Dari dulu sampai sekarang modusnya ada saja, sungguh Ray adalah raja modus sejati.


Mau nggak mau Rara melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, entah mengapa Ray seakan tak ada capek-capeknya bermain bilyard dan naik-baik ke puncak gunung.


Di sisi lain Leo masih kepikiran akan Riana, rasa bersalah kini menyelimuti diri Leo yang membuat Leo tak tenang.


Dia yang pusing memutuskan untuk merebahkan diri sejenak namun Leo malah tertidur.


Di pesawatnya Riana terus saja menangis hatinya masih sakit atas kebohongan Leo, dia sungguh kecewa pada Leo.


"Udahlah Ri, lupakan Leo dia memang bukan jodoh kamu." Raisa menyemangati dirinya sendiri.


Dua hari telah berlalu, Ray dan Rara bersiap untuk pulang ke tanah air. Rara menyerahkan semua urusan perusahan pada Leo kembali, dia juga mengingatkan Leo kalau waktunya perusahaan Toretto untuk menerima profit dari kerja sama mereka.


"Mama dan papa Toretto berada di Inggris saat ini, jadi kamu langsung transfer saja," titah Rara


"Baik bos," sahut Leo.


Rara, Ray dan Rafathar ke bandara dengan diantar Leo.

__ADS_1


"Aku titip bos aku, jangan disakiti lagi atau akan aku sembunyikan darimu selamanya," ancam Leo


"Brengsek kamu Leo, bisa-bisanya mengancam aku. Daripada kamu menyembunyikan istriku lebih baik kejar sana Riana," ucap Ray dengan kesal.


Leo terdiam mendengar ucapan Ray, kini dia jadi ingat kembali akan Riana yang telah dia bohongi.


Puas mengobrol kini waktunya Ray, Rara dan Rafathar masuk karena jet pribadi Rara telah menunggu lama.


Selepas kepergian Rara dan keluarganya Leo pergi ke kantor saat dia fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba Riana muncul dalam pikirannya.


Dia teringat kembali akan Riana yang mencium bibirnya saat itu dan ini membuat Leo tersenyum.


"Astaga apa yang aku pikirkan," gumam Leo lalu mengusir Riana dalam kepalanya.


Lama mencoba fokus kembali akhirnya Leo sanggup untuk mengusir bayangan Riana dari kepalanya.


Selama kurang lebih dari dua puluh jam Ray, Rara dan Rafathar dalam pesawat kini mereka telah mendarat dengan selamat di tanah air.


Di luar bandara sudah ada Revan yang menjemput Ray sekeluarga.


"Gimana perjalanannya?" tanya Revan


"Menyenangkan sekali Revan," jawab Ray

__ADS_1


"Pasti menyenangkan karena pasti dibarengi dengan main bilyard," sahut Revan dengan terkekeh.


"Betul, untung sodokan mautnya tidak membuat pesawat turbulensi," timpal Rara yang membuat Revan tertawa.


__ADS_2