
"Siapkan fisik kamu malam ini sayang, karena aku akan menjelajah gunung kembar dan hutan terlarang milik kamu," bisik Ray
Rara terdiam membatu, habislah dirinya kali ini.
Ray pasti tidak akan melepaskannya, pasti dia akan dikerjai habis habisan hingga waktu sahur datang.
Apalagi selama ini Ray sudah menahannya.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa semua tamu hendak pamit untuk pulang.
"Ingat pak Ray, anu anunya nanti setelah buka puasa, awas jangan khilaf," goda Revan.
"Ditahan ya Ra." gantian Raya yang menggoda Rara.
"Iya iya, aku sudah tau," sahut Ray
"Ya sudah kami pamit dulu," pamit Revan
Tak hanya Revan dan Raya, Rea dan Rehan juga menggoda Ray dengan candaan mereka.
Dan yang terakhir adalah Raka dan papanya.
Raka memeluk Ray lagi dan memintanya untuk selalu menjaga Rara.
"Kamu nggak memintanya, aku pasti akan selalu menjaganya," sahut Ray.
"Papa pulang dulu ya Ra, Ray. Semoga kalian berbahagia," ucap papa lalu Raka dan papa keluar dari rumah Rara.
Mama dan Papa Ray juga pamit pulang, mereka meminta Ray dan Rara untuk pulang malam nanti karena besok mama dan papa Ray rencananya akan kemabli ke US.
"Siap pa, nanti Ray pasti pulang," sahut Ray.
Dan kini tinggal lah Rara, Ray dan kedua orang tua Rara.
"Kalian kalau lelah istirahatlah tapi ingat jangan macem-macem dulu, kalau mau enak enakkan nanti malam setelah berbuka puasa," pesan mama
"Iya ma, kami tau," sahut Rara.
"Kamu tau tapi suami kamu ini kan belum," timpal papa
"Tau dong pa," sahut Ray
Ray dan Rara memutuskan untuk pergi ke kamar, Ray kini nampak resah dan gelisah.
Dia sudah tidak sabar untuk mengerjai Rara di tempat tidur.
"Boleh tidak kita puasa dhuhur," kata Ray
"Mana boleh seperti itu, sabarlah sayang," timpal Rara
"Aku nggak bisa," sahut Ray.
"Lebih baik kita istirahat, siapa tau nanti pas bangun sudah waktunya berbuka," timpal Rara
"Baiklah," kata Ray pasrah.
Ray kini merebahkan dirinya di tempat tidur, dalam pikirannya hanya mengerjai Rara.
Ray yang semalam tidak tidur membuatnya mengantuk dan kini dia telah terlelap.
"Cepat sekali tidurnya," gumam Rara
__ADS_1
Melihat Ray tertidur membuat Rara tersenyum, kini dirinya telah menjadi istri seorang Ray Toretto, perjalan mengarungi bahtera rumah tangga telah dimulai hari ini, dan Rara ingin benar-benar mengabdi kepada suaminya.
Kegagalan rumah tangga sebelumnya dijadikannya pelajaran, dan semoga kali ini langgeng untuk selamanya.
Rara memeluk suaminya yang tertidur dan tanpa sengaja tangan Rara memegang sosis jumbo milik Ray.
"Astaaga, orangnya tidur kenapa sosisnya bisa membesar sendiri," gumam Rara
Tangannya terus saja memegang sosis jumbo milik Ray, yang justru membuatnya jadi berhasrat.
"Astagfirullah, aku kan puasa," gumam Rara lalu menyudahi aksinya.
Rara mencoba memejamkan mata dan ikut masuk ke alam mimpi menyusul Ray.
************
Sore hari datang dengan cepat, waktu berbuka akan datang dua jam lagi namun Rara dan Ray tak kunjung bangun sehingga membuat mama dan papa cemas, mereka sangat cemas jika anak dan mantunya keblabasan dan melakukan hubungan badan pada siang hari .
"Bagaimana ini pa?" tanya mama
"Kita tunggu saja dan tanya mereka nanti ma," jawab papa
Di kamar Ray perlahan membuka matanya, dia melihat jam tangannya dan waktu sudah sore.
"Tidurku nyenyak sekali," gumam Ray
Ray melihat Rara yang masih tertidur dengan pakaian pengantinnya.
"Kamu cantik sekali sih sayang," kata Ray sambil mengelus wajah istrinya.
Puas memainkan wajah istrinya, kini Ray memutuskan untuk pergi mandi, dia ganti baju santai yang ada di dalam lemari Rara.
"Rara mana Ray?" tanya mama
"Masih tidur ma, tidurnya sungguh nyenyak sekali sehingga Ray tidak ingin membangunkannya," jawab Ray
"Biar mama yang membangunkan, kalau nggak dibangunkan Rara bisa tidur sampai besok Ray, seperti tidak tau Rara saja, dia kan keturunan Putri tidur," kata mama dengan tertawa.
Ray ikut tertawa, memang benar yang diucapkan mama mertuanya kalau Rara masih keturunan Putri tidur karena biasanya baru sebentar meletakkan kepalanya di bantal dia sudah terlelap.
"Biar Ray yang membangunkannya ma, mama lanjut lagi aktivitasnya," sahut Ray lalu dia kembali ke kamarnya untuk membangunkan Rara yang masih terbaring persis seperti putri tidur.
"Sayang bangun." Ray menggoyang tubuh dan perlahan Rara membuka matanya.
"Sudah buka?" tanya Rara
"Belum sayang, kurang sebentar lagi," jawab Ray.
Rara segera mandi dan bersiap untuk berbuka puasa.
Ray dan Rara serta kedua orang tua Rara duduk di ruang makan sambil menunggu buka puasa.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, waktu magrib telah datang.
Ray sungguh bersemangat, dia makan agak banyak tidak seperti biasanya.
Tak hanya Ray, Rara juga makan lumayan banyak.
"Duh yang mau malam pertama, makannya pada banyak-banyak, biar kuat ya?" goda mama
"Iya dong ma," sahut Ray
__ADS_1
Setelah makanan mereka habis, Ray segera pamit untuk pergi ke kamar karena waktunya dia melakukan dinas negara.
"Buru-buru sekali mereka," kata mama dengan menggelengkan kepala.
"Maklum ma," sahut Papa.
Mama dan papa bersantai di depan sambil menunggu waktu sholat.
"Kamu siap sayang?" tanya Ray.
"Siap," jawab Rara.
Ray segera membaringkan istrinya.
Satu persatu kain penutup istrinya berpindah tempat,
"OMG, indah sekali," bisik Ray dengan menelan saliva karena dia tidak sabar untuk segera menikmati surga duniawi.
Kini gantian Ray yang melucuti pakaiannya, dan sungguh milik Ray benar-benar jumbo.
"Besar sekali, punya Raka ga ada apa-apanya," batin Rara dengan menelan salivanya.
Kenikmatan waktu itu kembali terngiang, dan kini Rara akan segera menikmatinya kembali.
"Are you ready?" tanya Ray
"yes Iam," jawab Rara
Pertama Ray melahap bibir istrinya dengan tangan yang bergerilya kemana-mana.
Ray juga banyak meninggalkan tanda cinta di leher Rara.
"Teruslah sayang, teruslah mendeeeessssah dengan kencang, aku sungguh menyukainya," kata Ray
Kini bagian dada, dia ingin naik-naik ke puncak gunung, nikmat-nikmat sekali.
Ray bermain di pucuknya, seperti iklan teh kemasan botol kalau yang nikmat itu bagian pucuknya.
Ray menjiiiilaaaaaaaaat, menghisap serta menggigit bagian puncak gunung tertinggi mount Everest milik Rara.
Rara hanya bisa mengeluarkan suara gaib yang semakin jelas dan keras sehingga mendatangkan aura negatif yang sangat kuat.
Tangan Ray bergerilya menjajaki lingkungan sekitar hutan terlarang milik istrinya,
Kini hutan hujan tropis Rara telah basah, sehingga sangat mudah bagi sosis big size milik Ray untuk masuk.
"Banjir sekali," ucap Ray dengan menatap istrinya
"Iya banjir bandang," sahut Rara
Ray yang tidak sabar segera memasukkan sosis jumbo miliknya ke dalam goa istrinya, Rara menjerit keras saat sosis jumbo milik Ray masuk menerobos goa sempit miliknya.
Meski janda namun kenikmatan bagian bawah Rara jangan diragukan lagi.
"Rasanya nikmat sekali," ucap Ray lalu kini dia mulai memaju mundurkan pantatnya.
Saking enaknya Ray sampai memejamkan mata, mencoba menghayati kenikmatan hakiki yang dia rasakan saat ini.
Tak terasa waktu sholat tarawih datang, itu tandanya hampir satu jam mereka main ke dalam kamar.
"Ah ah ah, sayang i get it," ucap Ray
__ADS_1