Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Suruh dia pergi!


__ADS_3

Rehan menepuk bahu Ray, sedih memang melihat temannya seperti ini namun inilah hasil dari perbuatan Ray sendiri, mungkin apa yang terjadi pada Ray bisa buat pelajaran bagi Rehan supaya setia pada Rea.


"Lebih baik kamu pulang, malam ini aku ada jadwal piket aku akan menjaga Rara untuk mu," kata Rehan


"Nggak Re, Rara dan bayi kami berjuang untuk hidup bagaimana bisa aku bisa pulang. Aku akan disini menunggunya," sahut Ray yang enggan untuk pulang.


Rehan tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia yang berada dalam posisi Ray juga akan melakukan hal yang sama.


"Ya sudah bagaimana kalau kita ke ruangan aku kamu bisa istirahat di sana," ajak Rehan


Awalnya Ray tetap bersikeras untuk menunggu Rara di depan ruang ICU tapi Rehan memaksanya untuk istirahat di ruangannya.


Ray melihat sang istri dari pintu lagi-lagi air matanya jatuh dia tak bisa membayangkan jika Rara meninggalkannya.


"Maafkan aku," ucap Ray lalu ikut Rehan.


"Kamu lebih baik istirahat lihatlah dirimu, sangat berantakan," kata Rehan


"Gimana nggak berantakan Re, gara-gara aku anak istriku kritis sekarang," sahut Ray


"Yang sabar, banyak berdoa supaya Rara mau memaafkan kamu meski prosentasenya kecil," timpal Rehan dengan terkekeh.


Mendengar kata Rehan membuat Ray melemparkan tatapan mautnya pada sahabatnya tersebut.


Ray yang lelah merebahkan dirinya di sofa dalam ruangan Rehan, dia terus memikirkan dan memohon supaya Rara dan bayi mereka selamat.


Puas memikirkan kini Ray telah terlelap, dalam tidurnya Ray bermimpi Rara pergi dengan bayinya yang anehnya Rara pergi bersama Leo juga.


"Sayaaaaaaang jangan tinggalkan aku," teriak Ray dalam mimpinya namun Rara seakan tak peduli dan tetap pergi meninggalkannya.


Ray menangis dengan mengejar Rara namun karena Rara naik mobil Ray tidak bisa mengejarnya.


"Sayaaaaaaang," teriak Ray yang membuat Rahan kaget dan mendatangi Ray.


"Ada apa?" tanya Rehan


"Aku bermimpi jelek Re, aku lihat Rara dan bayi kami pergi dan anehnya mereka pergi dengan Leo," jawab Ray


Rehan tersenyum mendengar kata Ray,


"Itu hanya bunga tidur, sudah jangan terlalu dipikirkan," kata Rehan


Rehan memberikan Ray obat supaya dia lebih tenang, tak berselang lama Ray tertidur lagi.

__ADS_1


Matahari menyapa dengan cepat.


Rehan yang jam piketnya telah habis memutuskan untuk pulang.


Sebelum pulang dia menelpon Revan untuk datang ke rumah sakit karena Ray masih tidur.


Satu jam kemudian Revan datang dengan membawa pakaian ganti untuk Ray.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Revan


"Entahlah Revan, aku sendiri juga heran dengan sikapnya. Setauku dia itu bucin Rara tapi kenapa bisa nyaman dengan wanita lain," jawab Rehan dengan bingung.


"Aku juga tidak mengerti bagaimana dia bisa dekat dengan Raisa, kapan hari aku sudah curiga dan sudah memperingatkannya namun dia terus mengelak kalau nggak ada apa-apa," kata Revan


"Nggak ada apa-apa gundulnya, nyaman itu lama-lama jadi cinta. Goblok banget sih dia," omel Rehan


"Banget nggak tanggung-tanggung goblok dia itu goblok maksimal," sahut Revan.


Mereka berdua tertawa dengan sikap Ray, bagaimana bisa Ray segoblok itu.


"Ya sudah aku pulang dulu, coba kamu croscek dengan dokter Vera yang merawat Rara, bagaimana keadaan Rara pagi ini," kata Rehan lalu pergi meninggalkan Revan di ruangannya dengan Ray yang masih tidur.


*********


"Kenapa kamu setia dengan tidurmu Ra," batin Ken steven.


Dia takut kalau Rena menjemput Rara dan anaknya.


Saat asik melihat Rara, Ray datang. Melihat Ray membuat Ken steven naik darah namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Semoga Rara mau memaafkan kamu Ray," kata paman


"Iya paman," sahut Ray


"Dibanding kamu aku lebih tau Rara. Jadi siapkan mental kamu dulu," timpal Ken steven.


Saat asik mengobrol tim dokter datang, mereka nampak cemas.


"Ada apa ini?" tanya Ray


"Pasien sadar," jawab dokter


Semua nampak senang hingga tanpa ijin Ray menerobos masuk.

__ADS_1


"Sayang," kata Ray


Rara yang baru membuka matanya langsung meminta dokter untuk menyuruh Ray keluar.


"Suruh dia keluar," titah Rara


"Tidak aku tidak mau keluar, aku ingin menunggui kamu," sahut Ray yang tidak aku pergi


"Pergi, pergi, pergi," kata Rara dengan memegangi kepalanya yang pusing.


"Sayang, tolong jangan lakukan ini padaku," ucap ray


Dokter yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan Rara, sehingga mereka meminta Ray untuk keluar.


"Demi keselamatan istri anda, lebih baik anda keluar," kata Dokter yang membuat Ray menyerah dan keluar.


Setelah diperiksa Rara dipindahkan ke ruang perawatan, semua mengikuti Rara yang di dorong oleh Perawat.


Ray hanya bisa melihat sang istri yang tidak memberikan kesempatan untuk mendekatinya.


"Tolong jangan biarkan dia masuk," kata Rara dengan menunjuk Ray.


"Kamu itu istri aku bagaimana bisa kamu melarang aku untuk masuk," teriak Ray tak terima


Revan yang saat ini bersama Ray memegangi Ray,


"Jangan lakukan ini, please," kata Ray memohon.


Rara memalingkan wajahnya, sungguh hatinya masih sangat sakit apalagi kata suster bayinya juga dalam keadaan kritis.


Semua masuk kecuali Ray dan Revan.


"Lihatlah Revan dia tidak membiarkan aku masuk," kata Ray dengan mata yang basah.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang," imbuh Ray dengan menangis


"Salahmu sendiri," batin Revan


"Apa menurutmu kesalahan aku sangat fatal?" tanya Ray


"Astaga dia buta atau gimana, anak istri jadi korban masih bertanya kesalahannya fatal apa tidak," batin Revan.


"Sebenarnya kesalahan anda tidak fatal tapi dampak dan akibatnya sangat fatal sekali, anda telah membuat anak dan istri anda kritis," jawab Revan.

__ADS_1


"Dan satu yang anda lupa bos kalau Rara memiliki trauma dengan pernikahannya yang dulu, ibarat kata anda ini menciptakan luka baru dan membuka luka lamanya," imbuh Revan yang membuat Ray terdiam.


__ADS_2