Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Dikerjain


__ADS_3

"Akhirnya aku bisa mencium bibir wanita, dan kini aku tidak hanya melihat adegan bos dan sekertaris saja karena aku bisa langsung praktek kini," batin Revan.


Raya yang sudah kehabisan nafas mendorong tubuh Revan.


"Udah pak, saya kehabisan nafas," kata Raya


"Hehe maaf Raya terlalu bersemangat aku, saking senangnya dapat cewek," sahut Revan


"Seminggu lagi, aku main ke rumah untuk bicara dengan orang tua kamu," imbuh Revan


"Seminggu lagi kan lebaran pak, biasanya saya dan orang tua mudik," ucap Raya


"Ya setelah kamu kembali sekalian nanti kamu aku ajak menemui orang tua aku," kata Revan.


Raya sebenarnya masih ingin penjajakan dulu namun kelihatannya Revan sangat antusias sekali.


"Kamu buru-buru sekali sih pak, kita kan harus penjajakan dulu, saling mengenal satu sama lain," kata Raya.


"Kalau resmi lebih enak Raya apalagi udah halal jadi kalau khilaf udah nggak dosa, itikat baik harus segera dilaksankan," bujuk Revan.


"Ya udah terserah pak Revan saja." Raya hanya bisa pasrah namun dia juga senang karena Revan serius kepadanya.


"Jangan panggil pak dong, kan kedengarannya gimana gitu." Revan terkekeh


"Panggil apa dong, mas, Abang, cak, kak, atau yang lainnya." Raya menawarkan berbagai panggilan untuk Revan.


"Panggil mas saja," kata Revan.


Meskipun Raya seorang pengacara nampaknya dia cukup polos.


"Apa kamu pernah pacaran sebelumnya?" tanya Revan


"Pernah dengan lelaki brengsek yang aku temui dari aplikasi Tind33333r," jawab Raya


"Memangnya kenapa?" tanya Revan lagi


"Dia sudah memiliki istri dan bilangnya ke aku belum menikah. Alih-alih dapat pasangan mapan tapi yang ada aku dilabrak ma istrinya," jawab Raya.


Revan tertawa mendengar jawaban Raya, ternyata Raya bisa ketipu dengan orang hoax.


Memang banyak sekali beredar aplikasi jodoh namun semua hanya modus orang-orang untuk memanfaatkan.


"Ya sudah yang yang penting sekarang ada aku yang beneran cinta padamu dan masih perjaka Ting Ting," sahut Revan.


"Kalau pak Revan nggak kaleng-kaleng, apalagi asisten Raymond Toretto," timpal Revan.


Lama mengobrol akhirnya Revan dan Raya memutuskan masuk namun saat tiba di sana ternyata sudah pada bubar.


"La, ternyata sudah bubar semua," kata Revan dengan tertawa


"Kita memangnya pergi berapa abad kok acaranya udah selesai," imbuh Revan.

__ADS_1


"Tiga abad," ucap Raya.


"Nggak terasa ya, memang ya kalau bersama dengan orang yang kita cinta waktu sangat cepat berlalu. tiga jam seperti tiga detik," ucap Revan dengan terkekeh.


**********


"Sayang, nggak ke apartemen dulu?" tanya Ray


"Nggak usah, aku lelah ingin segera pulang," jawab Rara


"Ah nggak asik, kita kan habis tunangan, kan pengen ngerayain berdua," timpal Ray


"Bilang aja mau mengerjai aku, kapan-kapan lagi ya sayang," kata Rara .


Ray hanya bisa menghela nafas, mau nggak mau dia harus bisa menahan diri.


Rara yang lelah memutuskan untuk memejamkan matanya sedangkan Ray fokus ke depan.


Beberapa menit kemudian.


"Sayang kamu pulang kemana? apartemen kamu atau rumah orang tua kamu?" tanya Ray


Rara yang berada di alam mimpinya tentu tidak menjawab pertanyaan Ray.


"Astaga udah tidur saja, padahal baru saja mengobrol. Dasar Putri tidur," kata Ray


Melihat Rara yang tertidur membuat Ray memiliki ide licik, dia kini membawa Rara ke rumahnya. Dia ingin Rara tidur di kamarnya.


Beberapa menit kemudian sampailah Ray di rumahnya, dan saat dia membawa Rara masuk mama tidak sengaja keluar dari kamarnya.


"Tidur ma, jadi Ray bawa pulang," jawab Ray tanpa berhenti karena sudah pasti dia merasa berat menggendong tunangannya tersebut.


"Persis seperti papanya, dulu suka menculik aku," gumam Mama Ray lalu dia kini masuk kamarnya lagi.


Ray segera menidurkan Rara di tempat tidurnya, dengan pelan Ray melepas sepatu high heels milik calon istrinya kemudian dia menatap Rara yang telah tidur.


"Mode marah, mode senang, mode sedih, mode mewek, mode tidur kamu selalu cantik. I love you," gumam Ray lalu dia melepas jas miliknya dan ikut menyusul Rara.


Tak lupa sebelum tidur dia mengecup semua bagian wajah Rara.


"Good night," bisik Ray.


Detik demi detik waktu berlalu, tak terasa matahari kini mulai merangkak keluar dari persembunyiannya, Rara yang sudah kembali dari alam mimpinya merasakan berat di perutnya.


"Apa ini, kenapa berat sekali," batinnya dengan mata yang berputar.


Rara nampak asing dengan kamar Ray karena memang dia hanya dua kali ini dibawa Ray masuk ke dalam kamarnya.


"Dimana ini?" gumam Rara


Rara mengecek apa yang membuat perutnya terasa berat dan ternyata tangan Ray.

__ADS_1


"Kenapa dia bisa tidur dengan aku?" ucap Rara.


Memory Rara kembali ke kejadian semalam, setelah bicara Rara memejamkan matanya dan tertidur.


"Aaa, kenapa nggak dibawa pulang ke rumah, kenapa dibawa ke sini," kata Rara lalu dia perlahan memindahkan tangan Ray.


Setelah lepas dari tangan Ray, Rara segera turun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rara yang boring, memilih pergi ke balkon untuk melihat pemandangan diluar.


Nampak indah sekali, apalagi dari ujung sampe ujung lagi terlihat pemandangan yang menakjubkan yaitu warna putih yang mendominasi blok elite sekitaran lingkungan tempat tinggal Ray.


Karena Ray yang tak kunjung bangun membuat Rara berinisiatif untuk membangunkannya.


"Sayang, bangun. Sudah pagi ini." Rara menepuk bahu Ray berulang kali namun Ray hanya terdiam tanpa gerak sedikitpun.


"Astaga ini tidur apa mati," gumam Rara.


Rara ada ide untuk mengerjai Ray, dia mengambil lipstik miliknya dan mencoret coret muka Ray.


Dengan menahan tawa, Rara melanjutkan permainannya dan seusai mencoret-coret wajah Ray Rara membangunkan Ray dengan menggoyang tubuh Ray dengan keras sehingga Ray terbangun dari tidurnya.


"Ada apa sih sayang?" tanya Ray


"Sudah pagi, segera bersiaplah dan berangkat ke kantor," jawab Rara


"Baik Bu boz," timpal Ray


Ray kini beranjak dan pergi ke kamar mandi, saat melihat wajahnya di wastafel Ray sungguh kaget karena wajahnya penuh coretan.


"Apa-apaan ini, beraninya dia mencoret-coret wajah super tampan aku ini," gerutu Ray lalu mengambil sabun dan menggosok wajahnya.


Rara yang takut kalau Ray akan balas dendam bergegas mengambil tasnya dan segera pergi dari kamar Ray.


"Aku sembunyi dimana ya," gumam Rara


Tak sengaja mama Ray dan Rara bertemu di ruang tangah,


"Sudah bangun?" tanya mama


"Sudah ma, kalau belum saya nggak mungkin berada di sini," jawab Rara dengan tertawa.


Rara berharap mama Ray mau tertawa seperti dirinya namun harapannya musnah karena mama Ray hanya tersenyum saja.


Saat asik ngobrol Ray turun dengan berteriak memanggil manggil Rara.


Rara segera sembunyi di belakang mama Ray.


"Sudah nggak usah sembunyi keluarlah," titah Ray


"Mama tolong," ucap Rara

__ADS_1


"Ada apa sih ini?" tanya mama Ray


"Wajah Ray di coret coret dengan lipstik ma,"


__ADS_2