Jebakan Indah My Husband

Jebakan Indah My Husband
Dipercepat


__ADS_3

Ray nampak tersenyum, "Siapa kamu sebenarnya sayang?" gumam Ray lalu dia kembali bergabung dengan mama dan juga Rea.


"Ma, ada yang ingin Ray tanyakan," kata Ray yang membuat mama serta Rea menatapnya.


"Apa?" tanya Mama Ray dengan penasaran.


"Jika ternyata Rara adalah anak orang yang berkuasa apa mama akan menjadikannya sebagai mantu?" tanya Ray dengan tersenyum.


Mendengar pertanyaan anaknya membuat mama Ray menyunggingkan senyumannya.


"Apa mungkin Rara adalah adalah anak seorang yang berkuasa? padahal jelas-jelas Rara adalah anak seorang pengusaha biasa dengan aset dibawah 150 milyar," jawab Mama Ray dengan sombong.


"Kan kita nggak tau," sahut Ray


"Sudahlah Ray, jangan berkhayal mending kita fokus dengan acara pertunangan kamu," timpal Mama Ray.


Asik berdebat tak sadar kalau pak Steven sudah di depan pintu.


"Selamat malam Nyonya Toretto," sapa Pak Steven


"Selamat malam pak Steven," balas mama Ray.


Beliau langsung mempersilakan pak Steven masuk.


"Papa," teriak Rea lalu berlari memeluk papanya, Rea adalah tipe anak yang manja. Dia sangat menyayangi papanya.


Ray tidak ikut meyambut Pak Steven dia lebih berdiam dan memandangi Pak Steven.


"Jadi ini yang bernama Steven," batin Ray


Meski namanya sering disebut-sebut orang namun Ray belum pernah bertemu dengan Steven.


Mama yang tau kalau Ray hanya diam mendatanginya


"Jaga sikap kamu Ray, dia itu calon mertua kamu," bisik mama


"Iya iya," sahut Ray pasrah


"Halo calon papa mertua, bagaimana perjalanan anda?" sapa Ray


"Halo calon mantu, perjalananya cukup menyenangkan," balas Pak Steven.


Mama dan Rea saling pandang, Ray benar-benar keterlaluan, bagaimana dia memanggil Steven dengan sebutan seperti itu.


Meskipun Steven adalah orang besar namun dia cukup humbel.


Mama Ray kini mengajak pak Steven dan orangnya untuk makan karena waktu sudah sangat larut.


"Silahkan dinikmati pak Steven, maaf hidangannya sangat sederhana," kata mama Ray basa basi


"Ini bukan sederhana lagi ma, tapi wah," sahut Ray

__ADS_1


Mama Ray melemparkan tatapan mautnya kepada anaknya, bagaimana bisa Ray bersikap kurang ajar seperti ini? apa mungkin ini trik Ray untuk membuat Steven benci kepadanya?


Hanya Ray yang tau.


"Ray jaga sikap kamu," ucap mama


"Nggak apa-apa nyonya Toretto, apa yang dibilang Ray itu benar, memang hidangan ini hidangan yang wah," sahut pak Steven.


Kini mereka makan dengan hikmat, hanya ada bunyi garpu dan pisau yang saling bersautan di ruang makan. Setelahnya mereka pindah ke ruang keluarga untuk membahas pertunangan Ray dan Rea.


"Bagaimana kalau pertunangan mereka kita adakan seminggu lagi Pak Steven, lebih cepat lebih baik," kata mama Ray membuka obrolan diantara mereka.


"Iya nyonya Toretto saya sangat setuju," sahut pak Steven.


"Bagaimana Ray? Rea?" tanya pak Steven kepada Ray dan Rea


"Kami setuju-setuju saja calon papa Mertua," jawab Ray.


Melihat sikap Ray nampak sekali kalau Ray tidak mencintai Rea, dan dari sikap Rea pak Steven dapat menyimpulkan kalau Rea nampak ragu. Rea seperti takut akan sesuatu.


"Kalian keberatan dengan pertunangan ini?" tanya pak Steven


Mama segera menjawab


"Mana mungkin keberatan Pak Steven, Ray sangat mencintai Rea begitu pula sebaliknya," jawab mama Ray


"Iya kan Ray, Rea?" tanya mama dengan menatap Ray dan Rea.


"Iya kok calon papa mertua kami saling mencintai," jawab Ray dengan tersenyum.


Rea sebenarnya juga enggan untuk bersandiwara namun ini adalah perintah dari Ray. Dia juga cemas kalau Ray akan memberikan video panasnya dengan Rehan saat itu pada papanya jika dia tidak menurut.


Bisa saja mereka saling jujur untuk menolak pertunangan ini, namun Ray takut kalau mamanya akan mengganggu Rara karena pasti mamanya beranggapan kalau Rara lah penghambat rencanannya.


"Nanti saya ada tamu penting," kata pak Steven


"Siapa?" tanya mama Ray


"Orang penting, bahkan dia lebih penting dari saya nyonya Toretto," jawab papa Ray


Mama Ray langsung berbinar, dia begitu penasaran dengan tamu pak Steven, menurutnya di empire RA Grup dia adalah orang yang penting dan ini ada yang lebih penting dari dia. Siapa? itulah yang kini muncul di benak mama Ray.


"Dengan senang hati saya akan menyambutnya Pak Steven," kata Mama Ray


"Dia masih sangat muda, mungkin seusia Rea," sahut Pak Steven.


"Di usia yang muda seperti itu, dia sudah menjadi orang penting," batin mama Ray dengan tersenyum.


"Siapa namanya Pa, tamu undangan papa itu, kenapa Rea tidak pernah tau?" tanya Rea penasaran.


"Namanya Aurora," jawab Papa

__ADS_1


"Nama yang indah sekali, mungkin secantik orangnya," puji mama Ray


"Dia memang cantik nyonya Toretto," sahut papa Raya dengan tersenyum.


Tak terasa waktu semakin larut, dan pak steven pamit untuk undur diri.


"Terima kasih atas kunjungannya pak steven nanti akan saya atur segera mungkin acara pertunangan Ray dengan Rea," kata mama Ray


"Terima kasih nyonya Toretto," sahut pak Steven lalu beliau keluar, beliau juga meminta Rea untuk ikut pulang dengannya dan senang hati Ray mengijinkan.


Karena waktu sudah larut, Ray menghubungi Revan kalau bahas masalah foto besok saja karena dia sangat malas untuk keluar.


Dan Revan tentu setuju karena dia juga malas untuk keluar.


Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa matahari sudah keluar dari persembunyiannya.


Rea dan Pak Steven sama-sama sudah bersiap untuk keluar.


"Papa mau kemana?" tanya Rea


"Keluar sebentar sayang, kamu mau kerja ya?" tanya pak Steven


"Iya pa, kan Rea kerja di kantor Ray supaya bisa dekat dengan Ray," jawab Rea.


"Apa kamu mencintai Ray?" tanya Pak Steven


"Dari dulu Rea mencintainya pa," jawab Rea dengan tersenyum.


"Tapi papa lihat dia tidak mencintai kamu," kata papa Rea


"Masak sih pa?" tanya Rea


"Iya, tapi entah sih jika apa yang papa lihat salah," jawab pak Steven.


"Tapi terlihat jelas kalau dia tidak mencintai kamu sayang, papa tidak mungkin salah," batin Pak Steven dengan tersenyum.


Namun semua dikembalikan ke Rea, dia tidak bisa melarang anaknya karena bagaimanapun juga, ini adalah hidup anaknya, orang tua hanya bisa memberikan pendapatnya namun semua keputusan tetap di tangan anak.


"Ya sudah pa, Rea berangkat dulu ya," pamit Rea lalu dia mengecup kening Papanya.


"Kening saja, pipi, hidung belum," protes papanya


"Astaga papa, kebiasaan deh. Rea kan bukan anak kecil lagi pa, kalo gini papa menang banyak dong," sahut Rea


Meskipun kesal namun dia tetap memenuhi permintaan papanya.


"Bibirnya dikecup nggak?" kata Rea menggoda papanya.


"Nggak usah, itu bukan tugas kamu," sahut Pak Steven yang membuat Rea tertawa.


Selepas Rea pergi, pak Steven keluar ke suatu tempat dengan asistennya.

__ADS_1


Tak berselang lama sampailah dia di sebuah pemakaman, di depannya kini nampak dua makam yang terawat meski usianya lebih dari dua puluh tahun.


"Terimakasih Brawijaya dan Sukmawati, kalian telah menjaga makam ini,"


__ADS_2