
"Tidaaaaaaaaaakkkkkkkk," teriak Rara.
Rara berlari mengambil kunci mobilnya kemudian dia berlari ke bawah.
"Anda mau kemana? hujan saljunya sangat lebat nyonya," tanya Bodyguardnya
"Ke rumah sakit," jawab Rara
"Tapi sudah ada larangan untuk berkendara nyonya," kata bodyguardnya lagi
"Jadi menurut kamu aku harus diam saja, suamiku meninggal!" teriak Rara yang seketika membuat Bodyguardnya terdiam.
Inginnya menyetir sendiri namun dia tidak tau jalan jadi Rara mengajak salah satu pengawalnya untuk menemaninya.
"Kamu bisa cepat nggak," teriak Rara dengan memukul jok kemudi
"Jarak pandang sangat dekat nyonya," sahut pengawalnya
Rara memohon pada Tuhan semoga Leo salah informasi, dia ingin Ray hidup.
"Tuhan aku memohon padamu selamatkan lah suami hambamu ini, dia belum sempat menggendong dan menamai anaknya," ucap Rara dengan menangis.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit Rara terus saja menangis, dia menyesal kenapa dia begitu kejam pada Ray padahal Ray sudah menjelaskan semuanya.
"Semua ini karena nyaman," kata Rara
Rara melihat foto Ray di ponselnya,
__ADS_1
"Apa kamu tega meninggalkan aku dan anak kita sayang," ucap Rara
"Apa aku terlalu kejam sehingga kamu menyerah dan meninggalkan aku." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri dengan terisak.
Kenangan Ray muncul di kepalanya, masa-masa manis dengan sang suami membuatnya semakin terisak.
"Bagaimana nasibku sekarang tanpa kamu sayang?" kata Rara dengan berteriak histeris
Dia sungguh tak sanggup jika harus kehilangan sang suami.
"Aku mencintaimu sayang," kata Rara
Pengawalnya iba melihat Rara tapi memang kematian seseorang adalah misteri Tuhan yang kita tidak akan tau kapan dan dimana Tuhan mengambilnya.
Pengawalnya segera melajukan mobilnya supaya bisa dengan cepat sampai di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian mobil sudah memasuki parkiran rumah sakit. Rara keluar dan menerobos hujan salju yang lebat bahkan dia sendiri lupa tidak memakai jaket.
"Pasien atas nama Raymond Toretto," kata Rara
"Telah di pindahkan ke ruang jenazah," sahut resepsionis.
Rara menjerit sekeras-kerasnya, rasanya ambyar saat resepsionis bilang Ray dipindahkan ke ruang jenazah.
Rara seperti orang gila yang membuat semua mata melihatnya.
"Aku tak sanggup berpisah denganmu, aku tak bisa," kata Rara
__ADS_1
Semua yang melihat Rara jadi iba, tak lama kemudian Leo menghampiri Rara yang terduduk di lantai dengan keadaan yang berantakan.
"Leo kenapa Tuhan begitu cepat memanggilnya padahal aku telah menyerah dan ingin memaafkannya," kata Rara dengan terisak di dada Leo
Melihat Rara seperti ini membuat Leo tak tega dan tak terasa air matanya ikut jatuh, dia cukup bisa merasakan apa yang bosnya rasakan.
"Dia masih di ruang perawatan, kami sengaja melarang suster untuk memindahkannya di ruang perawatan," kata Leo
"Aku ingin melihatnya Leo," kata Rara
Leo menuntun Rara menuju ruang perawatan Ray, Rara kurang bisa menopang tubuhnya karena sedih berlebihan yang kini melandanya.
"Apa perlu aku gendong?" tanya Leo
"Tidak perlu," jawab Rara
Setibanya di ruang perawatan Rara melihat tubuh Ray sudah ditutup kain putih.
Infus juga tercabut.
"Sayang," kata Rara sambil membuka kain penutup sang suami.
Rara yang tidak kuat memilih menangis di luar
"Kenapa kamu tega meninggalkan aku sayang, bagaimana anak kita sekarang. Apa yang aku jawab kalau dia bertanya padaku nanti," kata Rara
"Bagaimana jika dia tau kalau akulah yang menghukum papanya sampai papanya meninggal." Rara bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Leo meminta Rara untuk masuk, karena sebentar lagi Ray akan dipindahkan.
"Masuklah temui suami kamu untuk yang terakhir kalinya," kata Leo