
"Kita bisa khilaf sayang," kata Rara.
"Itulah yang aku tunggu-tunggu, khilaf dan mengerjai kamu," sahut Ray.
"Jangan sayang," ucap Rara dengan sedikit mendeeeeesasssaaah.
"Sayang, aku belum melakukan apa-apa Lo, kenapa kamu sudah mendeeeeeesssssasaaaaaaah," timpal Ray yang membuat Rara malu.
Wajah Rara menjadi merah, dia sungguh malu mengapa dia begitu aktif sehingga mendeeeesassaaaaaah lebih dulu sebelum Ray mengerjainya.
"Yuk khilaf sayang," bisik Ray
"Nggak, rugi di aku jika mau kamu ajak khilaf," sahut Rara
Ray mengerutkan alisnya, "Kenapa rugi?" tanya Ray
"Rugi dong, takut mama kamu memisahkan kita," jawab Rara.
"Nggak akan bisa, jodoh aku itu kamu," timpal Ray
"Tadi mama kamu kesini Lo sayang," kata Ray
"Udah tau," sahut Ray.
"Kok tau?" tanya Rara
"Tau lah," jawab Ray.
Tak ingin banyak berkata-kata Ray mulai memainkan kekasihnya.
Tangannya mulai bergerilya menyusuri pegunungan Himalaya milik kekasihnya. Dia memainkan pucuk kedua pegunungan milik Rara dengan kedua tangannya.
"Nikmat kan?" bisik Ray
Rara mengangguk, pertahanannya semakin menipis. Kedua tangannya sibuk hiking di puncak gunung, dan bibirnya kini sibuk bermain di jenjang leher Rara yang putih. Dia ingin melukis senja di sana, dan ini semakin membuat Rara tak tahan.
"Kalau begini terus dia bisa berhasil," batin Rara yang kini dia sudah dikungkung oleh saiton-saiton.
"Sayang, biar aku pakai baju dulu," ucap Rara dengan tangan yang terus menarik rambut Ray karena tak kuasa menahan kenikmatan yang Ray berikan.
"Nggak nikmat kalau pakai baju," sahut Ray lalu dia lanjut melukis lagi.
Tangan Ray kini mulai turun ke bawah, dia ingin mengobrak abrik hutan terlarang milik kekasihnya namun secepat kilat tangan Rara melarangnya.
"Jangan sayang," kata Rara
"Nggak papa, biar lebih nikmat," sahut Ray
"Jangan," tolak Rara.
Ray pun tidak jadi masuk hutan terlarang milik kekasihnya, lalu dia naik-naik ke puncak gunung lagi untuk bermain di sana.
Puas dengan aksinya Ray kini mengangkat tubuh Rara dan meletakkannya di tempat tidur.
Dengan segera Rara menarik selimut dan menyembunyikan tubuhnya di sana.
__ADS_1
"Ah nggak asik, kok malah ditutup sih sayang," gerutu Ray
"Biar nggak khilaf," sahut Rara
Ray kini membiarkan Rara memakai bajunya, meski kecewa tapi mau bagaimana lagi, kan memang mereka belum menikah mau nggak mau rudal miliknya harus bersabar jika ingin mengunjungi hutan terlarang milik kekasihnya.
"Bagaimana kalau kita menikah tanpa restu orang tua sayang." Ray memberikan ide
"Jangan, kita menikah tanpa restu orang tua itu nggak baik sayang, kan restu Tuhan itu di restu orang tua," sahut Rara
"Tapi mama nggak setuju dengan hubungan kita," timpal Ray.
"Iya sih, jadi itu tugas kita meluluhkan hati mama kamu," ucap Rara
"Hati bagai es abadi kapan lelehnya," kata Ray dengan lemas.
Ray sungguh kesal, ingin melakukan itikad baik kenapa harus dilarang.
"Sayang aku lapar," kata Ray
"Ayo turun," ajak Rara.
Rara menarik kursi dan meminta Ray untuk duduk lalu dia mengambil terlur rebus yang dia simpan di kulkas.
"Ini sayang, kan kamu yang rebus tapi belum sempat kamu makan," kata Rara
"Astaaga sayang, tega sekali kamu padaku. Masa iya telur rebus yang sudah beberapa hari kamu berikan kepada aku, buang saja," gerutu Ray.
"Gak baik sayang buang-buang makanan, meski kita berada di atas namun kita tidak boleh membuang makanan, asal kamu tau banyak lo orang diluar sana yang nggak bisa makan," timpal Rara
Karena sayang dengan telurnya Rara mengupas semua dan memasaknya dengan bumbu rendang, untuk dia siap dengan bumbu-bumbu instan.
Setelah matang dia menyajikannya untuk Ray.
"Taraaaa.... This is it telur rendang ala Rara telah jadi," kata Rara yang membuat Ray menatapnya.
"Lebay," ucap Rara
"Menjengkelkan sekali, orang sudah susah payah masak, malah dibilang lebay," umpat Rara.
Rara pun mengambil nasi untuk Ray, meski nasi pagi namun masih layak lah dimakan dan hangat juga karena Rara menggunakan alat penghangat nasi.
Ray dan Rara kini makan bersama, merasa enak Ray akhirnya menghabiskan lima butir telur.
"Gimana? enak?" tanya Rara
"Lumayan," jawab Ray
"Habis lima butir masih bilang lumayan," timpal Rara
"Iya-iya enak," sahut Ray dengan tersenyum lalu dia mengambil sebutir telur lagi.
"Mulai besok, kamu yang buatkan bekal makan siang aku ya," pinta Ray
"siap sayang, tapi ada upahnya ya," ucap Rara
__ADS_1
"Dengan senang hati," timpal Ray dengan tersenyum licik.
Sehabis makan, Ray dan Rara rebahan di sofa entah apa yang mereka bicarakan hingga Rara tertidur di paha Ray.
"Astaga putri tidur, perasaan tadi sudah tidur sekarang cepat sekali tidurnya," kata Ray dengan tersenyum.
Ray mengangkat tubuh Rara ke kamar kemudian dia juga ikut merebahkan diri untuk menyusul Rara.
***********
Keesokannya tepat pukul satu siang Rea sudah mendarat dengan selamat di Bandara internasional.
Rea adalah orang pribumi namun dia kuliah dan melebarkan sayap di negara orang.
Apalagi orang tua Rea adalah partner bisnis keluarga Ray. Dulu Rea beberapa kali datang ke rumah Ray, awal pertama melihat Ray dia sudah tertarik namun kelihatannya Ray tidak menyukainya jadi Rea menyimpan perasaannya untuk dirinya sendiri hingga suatu ketika mama Ray ingin menjodohkan dia dan Ray namun Ray bilang kalau dirinya tidak tertarik pada wanita, karena dia ingin melajang, namun kini tiba-tiba mama Ray meminta Rea untuk mengunjunginya lebih tepatnya meminta Rea untuk menyusulnya.
Mama Ray tersenyum mendengar kalau Rea telah sampai di bandara, dia meminta supir rumahnya untuk menjemput Rea di Bandara.
Dan Beberapa saat kemudian Rea sampai di kediaman Ray.
"Halo Tante," sapa Rea
"Halo Rea," sapa mama Ray balik.
"Gimana perjalannya, pasti lelah ya. Yuk istirahat dulu," ajak mama Ray
"Nggak usah Tante di pesawat Rea tidur terus," sahut Rea.
"Ray mana Tante?" tanya Rea
"Masih di kantor," jawab Mama Ray
"Ini Tante mau kesana kamu mau ikut?" tanya mama Ray
"Boleh Tante, udah nggak sabar pengen lihat Ray aku," jawab Rea yang bersemangat saat mama Ray mengajaknya ikut ke kantor Ray.
Kini mama Ray dan Rea pergi ke kantor Ray, kebetulan mama Ray ada meeting dengan staf di sana karena seminggu ke depan beliau juga aktif di kantor.
Setibanya di kantor, mama Ray menuju ruangan Ray.
Dia ingin mengajak Ray mengobrol terkait pekerjaan.
Di dalam ruangnya Ray sedang bermesraan dengan Rara, dia meminta Rara untuk duduk di pangkuannya sambil menunggu laporan yang di cek nya.
"Pak nggak enak kalau ada yang masuk," kata Rara
"Paling Revan," sahut Ray
"Kalau yang lain gimana?" tanya Rara
"Kamu kalau ngomong terus aku kasih hukuman yang lebih Lo sayang," ancam Ray
Mendengar ancaman Ray membuat Rara terdiam.
Tiba-tiba terdengar suara mama Ray.
__ADS_1
"Raymond, apa-apaan ini," teriak mama