
Sudah seminggu Ray terus mencoba menemui Rara namun penjagaan ketat dan tidak adanya kerja sama orang-orang dekat Rara membuat Ray kesulitan.
Ray yang kesal berteriak sekeras-kerasnya, dia terus saja memanggil nama istrinya.
"Rara! keluarlah please. Ijinkan aku bertemu denganmu," kata Ray dengan mata yang basah.
Dia sungguh tidak tau bagaimana lagi, kini dia sungguh putus asa. Seminggu berada di Amerika namun dia tidak dapat menemui Rara.
Anak buah Rara semakin ketat menjaga rumah Rara bahkan Ray yang sudah putus asa mencoba menerobos masuk dan lagi-lagi dia harus babak belur karena dihajar oleh anak buah Rara.
"Bunuh saja aku!" teriak Ray
Leo yang ingin masuk ke rumah Rara harus menyaksikan Ray dihajar oleh anak buahnya.
"Lepaskan!" teriak Leo
"Leo ijinkan aku masuk please!" pinta Ray dengan menahan sakit
"Maafkan aku Ray," sahut Leo
"Please Leo," Ray memohon pada Leo dengan mata yang basah.
"Beri aku waktu untuk ngomong ma Rara," ucap Leo
"Baiklah," timpal Ray lalu dia pingsan
Pukulan yang ia terima membuatnya pingsan, apalagi dia beberapa hari ini kurang makan karena memikirkan Rara.
"Bawa dia ke rumah sakit," perintah Leo pada anak buahnya.
Di dalam Rara setiap harinya selalu menunggui sang buah hati, keadaannya semakin membaik.
"Dia menangis," kata Rara
Dokter mengambil bayi Rara dan memberikannya pada Rara.
"Coba susui," kata dokter
Tentu Asi Rara tidak keluar masalahnya dengan Ray, belum waktunya melahirkan serta tidak ada rangsangan sebelumnya membuat Rara tidak mengeluarkan asi sama sekali.
"Tapi tidak keluar," sahut Rara
"Tidak apa-apa," ucap dokter
Rara menangis saat bayi mungilnya mencoba menggapai pucuk dadanya.
"Aku telah menjadi seorang ibu," katanya.
Bayi mungil Rara terus menghisap pucuk dada miliknya, seolah dia tidak menyerah untuk mendapatkan asi.
__ADS_1
"Kamu seperti papa kamu yang tidak menyerah kalau modusin mama," katanya yang tiba-tiba teringat akan Ray.
Tak kunjung mendapatkan apa yang dia mau bayi Rara menangis kencang dan ini membuat Rara bingung.
"Ini pasti karena dia lapar," kata Rara.
Suster memberikan sebotol susu formula untuk sang bayi. Baru sebentar saja sudah habis.
"Astaga kamu lapar sekali ya sayang," kata Rara dengan tertawa.
Leo yang lelah menunggu memutuskan masuk ke dalam ruangan bayi Rara, dia meminta waktu untuk bicara sebentar.
"Ah Leo kamu mengganggu saja, hari ini aku merasakan menjadi seorang ibu. Aku menggendongnya," kata Rara dengan senang.
"Maaf bos tapi ada berkas yang harus anda tangani," kata Leo
"Ya sudah mana setelah ini aku mau main dengan anakku," ucap Rara
Rara menandatangi semua berkas-berkasnya tanpa membacanya terlebih dahulu.
"Ada Ray," kata Leo yang membuat Rara menghentikan aksi tanda tangannya.
Rara menoleh pada Leo dengan raut wajah yang berubah.
"Dia kesini?" tanya Rara
"Seharusnya kamu tidak memberitahu aku Leo," protes Rara
"Dia dihajar anak buah kita," ucap Leo
Raut wajah Rara nampak tak karu-karuan, nampak kalau dia khawatir dengan Ray.
"Temui lah dia," saran Leo
"Aku masih sakit saat wanita itu memegang dan mencium tangannya. Seharunya aku yang di sana bukannya dia," sahut Rara
"Ya sudah terserah kamu saja," ucap Leo pasrah.
Sesuai mendapatkan tanda tangan Leo kembali lagi ke kantor namun sebelumnya dia melihat keadaan Ray di rumah sakit.
*************
Ray yang sadar memaksa untuk pergi, dokter sudah melarangnya namun Ray seakan tidak peduli.
"Aku sudah sehat," kata Ray
Dengan tubuh yang nggak fit Ray pergi ke rumah Rara lagi, kali ini dia menunggu di mobil. Dia terus melihat dan mengawasi rumah Rara namun tidak ada yang keluar.
Ya begitulah setiap harinya kesabaran Ray benar-benar diuji, sebelumya kalau menunggu lima menit saja dia sudah marah dan kali ini dia sudah menunggu selama dua Minggu.
__ADS_1
Dua Minggu menunggu akhirnya penantian Ray membuahkan hasil, pagi ini saat dia baru saja datang di depan rumah Rara, Ray melihat Rara keluar bersama Leo tentu Ray mengikuti mobil mereka.
Leo yang tau kalau Ray mengikutinya sengaja membiarkan Ray mengejarnya. Dia melajukan mobilnya dengan pelan supaya Ray tidak kehilangan jejak.
Leo dan Rara pergi ke rumah sakit untuk kontrol, Rara yang banyak masalah hampir saja meluapkan jadwal kontrolnya.
"Seharunya aku kontrol dua Minggu yang lalu Leo," kata Rara
"Nggak papa telat daripada nggak sama sekali," sahut Leo dengan terkekeh.
Mobil Leo telah memasuki parkiran rumah sakit begitu pula dengan mobil Ray.
"Leo kamu temenin aku ya," kata Rara
"Baiklah," sahut Leo
Saat Rara baru saja keluar dari mobil Ray memanggilnya
"Sayang," teriak Ray lalu menghampiri Rara
Leo yang nggak enak pamit namun Rara melarangnya.
"Jangan pergi Leo," cegah Rara
Leo mengangguk dan bersandar di mobilnya sambil menunggu Rara.
"Aku rindu sayang," kata Ray dengan mata yang basah saat menatap Rara
"Maaf tapi aku nggak," sahut Rara yang membuat Leo tertawa.
"Jangan tertawa kamu Leo," maki Ray
"Ayo kita pulang," kata Ray
"Pulang kemana, rumahku di sini perusahaan aku di sini," sahut Rara
"Sayang aku tau aku salah , maafkan aku please," pinta Ray
Rara hanya tersenyum sinis.
"Nggak," ucap Rara
"Ya sudah Leo ayo kita masuk, aku sudah telah," kata Rara dengan membalikan badannya.
Leo mengangguk dan dia sungguh kaget saat tangan Rara menggandeng tangan Leo
"Leo jaga batasan kamu!" teriak Ray tak terima
"Kenapa, ada yang salah jika aku dan Leo saling nyaman," ucap Rara yang membuat Ray murka.
__ADS_1