Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Mengantar Naina


__ADS_3

Akhirnya 3 serangkai Naina, Nita dan Tika 1 mobil dengan Giyan. Naina di kursi depan disebelah Giyan. Sedangkan Nita dan Tika anteng dibangku belakang sembari sibuk dengan ponselnya masing-masing.


Tak selang beberapa lama, mobil Pazero milik Giyan tiba disebuah rumah bercat hijau. Rumah Nita yang berada paling dekat dari arah kantor mereka.


Nita pun bersiap untuk turun lalu keluar dari mobil. Nita membungkukkan badannya, bermaksud mengucapkan terimakasih pada Giyan lewat kaca samping mobil yang sengaja dibuka oleh Giyan.


"Bos ganteng, makasih yah sudah mau nganterin kita sampai rumah dengan selamat." ucap Nita seraya memberi senyum pada Giyan.


Naina ikut menengok ke arah Nita sambil melebarkan pupil matanya.


"Kenapa kamu Nai, kok melototin aku?" tanya Nita sekenanya.


Giyan yang tak menyadari ekspresi Naina disampingnya segera menoleh ke arah Naina, tetapi Naina buru-buru telah merubah ekspresinya dengan senyum manis khasnya itu. Giyan jadi berdebar tiba-tiba. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Buru buru jua dirinya kembali ke posisi awal sebelumnya.


"Tugas ku belum selesai mengantar 2 penumpang lagi Nit." jawab Giyan menanggapi ucapan Nita.


Nita tersenyum lagi dan melambaikan tangannya pada Naina yang anteng disamping Giyan.


"Hati-hati ya Say, inget loh jaga jarak sama Bos ganteng, dia itu incaranku." ledek Nita seraya mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Naina.


Spontan Naina melotot lagi lebih sangar dari yang tadi. Hendak menyangkal ledakan Nita, tapi buru-buru Giyan menoleh lagi ke arahnya. Membuat ia gugup dan hilanglah semua kata yang ingin ia katakan pada Nita.


Mengapa dari dekat begini Mas Giyan tampak begitu tampan? Batin Naina mulai bersuara.


Saat Giyan mencoba menatapnya, Naina malah menundukkan mukanya karena malu.

__ADS_1


"Bos, ayo dong jalan lagi, dirumah sudah ada cowok ganteng gebetan baru aku nih." suara Tika membuyarkan konsentrasi Giyan yang tengah asik memperhatikan Naina.


"Ooohh, begitu yah, oke oke....baiklah. Sekarang kita melaju ke rumah mu." jawab Giyan cepat dan bergegas menginjak pedal gas mobilnya.


Terlihat dari kaca mobil Nita melambaikan tangan memandang mobil putih milik Giyan setelah itu melangkah masuk kedalam rumahnya.


Tak sampai 10 menit mobil Giyan melaju dengan kecepatan sedang, kini berhenti lagi di depan rumah joglo khas Jawa Timur bernuansa kayu jati. Yah tentu itu rumah tinggal Tika.


Sekarang giliran Tika yang bergegas turun dari mobil. Tika terlihat sangat tergesa-gesa melihat sudah ada sebuah motor sport merah bertengger di depan rumahnya juga.


Dan itu sebabnya pula Tika hanya mengucapkan terimakasih seraya berlari kecil masuk kedalam rumahnya meninggalkan Naina dan Giyan yang berdua didalam mobil.


"Iiissstt anak itu, selalu begitu...." gerutu Naina melihat sikap sahabatnya itu.


Giyan hanya tersenyum dan menancapkan gasnya lagi. Sekarang tinggal mengantar sang wanita yang acap kali menganggu hatinya walau hanya sekedar dengan senyum manisnya.


Tiba tiba ponsel Naina berbunyi.


📲Mas Reyhan.


"Asalamualaikum Mas." jawab Naina


"Wa'alaikumsalam Sayang, kamu sudah sampai rumah?" tanya Reyhan memastikan.


"Belum Mas, ini lagi dijalan dianterin sama Mas Giyan, tadi juga bareng sama Nita juga Tika." jawab Naina menjelaskan. Khawatir Reyhan berprasangka dirinya sengaja berdua dengan Giyan.

__ADS_1


"Coba kamu loudspeeker ponsel mu." perintah Reyhan begitu tahu isteri diantar pulang oleh atasannya. Tanpa membantah Naina menekan tombol loudspeeker di layar ponsel.


"Broo...makasih loh, udah mau nganterin isteri aku. Jadi nggak enak nih udah ngrepotin." ucapan itu Reyhan maksudkan pada Giyan yang sedang fokus menyetir mobil.


"Sama-sama Bro, tadi nggak sengaja liat istri mu sama temen-temennya lagi pada nunggu angkot, karena nggak tega, akhirnya aku ajakin pulang bareng." jelas Giyan yang tak ingin ada kesalah pahaman diantara mereka.


"Ya sudah kalian hati-hati dijalan. Naina Sayang..., Mas mungkin nanti pulang larut malam, Nai nggak usah nungguin Mas yah!" lanjut Reyhan.


"Iya Mas, Mas juga hati-hati kalau pulang nanti. Ya sudah dulu ya Mas. Asalamualaikum." ucap Naina mengakhiri telfon Reyhan.


Setelah telfon mati Giyan menata perasaannya agar tak salting di depan Naina.


"Nai, liat kamu sama Reyhan mesra begitu, Mas jadi pengen cepet punya isteri. Biar kalau Mas pulang kerja juga ada yang nungguin." ucap Giyan berusaha mengajak Naina berbincang, biar lebih nyaman.


"Mau aku cariin jodoh buat Mas?" jawab Naina polos.


"Boleh, tapi Mas maunya yang seperti kamu" jawab Giyan.


Jawaban Giyan singkat tapi cukup membuat hati Naina menerima setrum sengatan kecil. Muka Naina jadi memerah otomatis. Membuatnya jadi gugup mendadak.


-


-


-

__ADS_1


#Stop!!! sampai sini dulu ceritanya. Dilanjut lagi nanti yah guys..


monggo, mohon dukungan dan support kalian kawan..🤗🤗🤗


__ADS_2